Ada perubahan mendasar dalam pergulatan ekonomi dunia. Perputaran roda ekonomi yang dulu dilakukan dengan otot, kini diputar dengan otak atau akal. Dalam teori ekonomi situasi itu disebut sebagai Knowledge Based Economy, atau ekonomi yang dasarnya adalah ilmu.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa kunci meraih sukses dunia dan akhirat adalah ilmu. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan Ali bin Abi Thalib. Faktanya, orang yang sukses bekerja untuk kesejahteraan dunia banyak yang mengoptimalkan kecerdasan otak.
“Dulu orang berjualan itu dengan memikul barang dagangannya. Sekarang orang berjualan cuma mengunggah saja produk yang dijualnya. Tidak perlu dibawa ke mana-mana,” kata Abdul Mu’ti, saat menyampaikan tausiah di Masjid Syuhada, Kota Yogyakarta.
Sebaliknya, jika seorang tidak memiliki penguasaan teknologi, maka potensi atau peluang untuk kesejahteraan atau pendapatan di bidang ekonomi semakin mengecil. Karena mereka mengalami stagnasi.
Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam yang kaya, menurutnya, diperlukan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi, sehingga sumber daya alam itu dapat dikelola dengan sebaiknya.
Selain sebagai bangsa, Mendikdasmen RI ini juga mendorong kecerdasan personal bangsa Indonesia. Kemampuan atau kecakapan yang dimiliki orang-orang dalam bangsa akan berpengaruh dan menjadi kunci kemajuan bangsa itu.
Sementara, dalam konteks yang lebih filosofis, sebagaimana yang disampaikan oleh Abdullah Nashih Ulwan, bahwa yang disebut sebagai yatim itu bukan mereka yang tidak berbapak dan beribu, tapi mereka yang tidak berilmu.
“Karena kalau orang tidak punya ilmu, dia bergantung kepada orang lain – dependent on others. Tetapi kalau dia berilmu, maka dia menjadi orang yang kuat,” katanya. (*/tim)
