Di gang-gang kecil Surabaya, tak sulit menemukan rokok yang dijual tanpa cukai. Warnanya biasa saja, bahkan kemasannya sering tak mencantumkan merek. Tapi harganya? Murah bukan main.
Murah yang justru bikin was-was. Bayangkan, anak sekolah bisa membelinya dengan uang saku sehari. Yang dijual bukan cuma tembakau, tapi juga risiko penyakit paru, kanker, bahkan kematian dini.
Ironis, saat banyak orang sedang berjuang hidup sehat, yang lain malah dimudahkan untuk merusak tubuh sendiri. Mengapa rokok ini tetap laku? Sederhana. Karena dianggap “lebih hemat” dan “lebih untung”.
Pedagang kecil melihatnya sebagai jalan cepat menambah pemasukan, tanpa pikir
panjang soal izin atau dampak jangka panjangnya. Bahkan kadang-kadang, yang jual tahu itu salah, tapi tetap lanjut.
“Lingkungan sekitar juga jual, masa saya nggak?” kata seorang pemilik warung. Inilah yang dalam psikologi disebut social conformity—ikut arus walau hati kecil menolak.
Padahal, tak satu pun dari rokok ilegal itu jelas kandungannya. Bisa jadi dicampur bahan kimia berbahaya, pewarna tekstil, atau tembakau sisa produksi. Yang bikin miris, bungkusnya polos tanpa peringatan bahaya seperti “merokok membunuhmu”.
Maka tak heran, pembelinya merasa aman-aman saja. Padahal mereka sedang membuka pintu bagi penyakit mematikan. Siapa yang akan peduli nanti saat paru-paru mulai rusak?
Dalam Islam, menjual barang yang membahayakan orang lain itu jelas dilarang. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim).
Dan Allah mengingatkan: “Janganlah kalian memakan harta sesama dengan cara yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188).
Dagang itu boleh cari untung, tapi jangan sampai mengorbankan nyawa orang lain demi lembaran uang.
Mari jujur yang kita kejar itu rezeki yang berkah atau untung sesaat? Kita bisa kok jadi pedagang yang amanah, pembeli yang cerdas, dan masyarakat yang sehat.
Jangan biarkan rokok murah membakar masa depan kita—secara harfiah maupun spiritual. Karena harga yang murah hari ini bisa jadi mahal ketika membayar dengan kesehatan esok hari.
Rokok ilegal hanyalah satu dari banyak contoh ketamakan ekonomi yang mengorbankan moral dan kesehatan.
Meskipun terlihat menguntungkan, pada akhirnya merugikan banyak pihak. Saatnya masyarakat Jawa Timur menjadi pelopor gerakan sadar hukum dan ekonomi halal.
Keberkahan tidak datang dari banyaknya uang, tetapi dari kejujuran, ketaatan, dan rasa tanggung jawab sosial. (*)
