Romantisme Masjid Kemayoran dalam Balutan Sejarah

Bangunan Masjid Kemayoran Surabaya saat ini dilihat dari atas.
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Ramadan selalu memiliki cara tersendiri untuk menghidupkan kenangan. Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, Masjid Kemayoran menjadi salah satu tempat yang memancarkan kehangatan spiritual sekaligus menyimpan jejak sejarah panjang.

Memasuki hari ketiga Ramadan, masjid ini kembali dipenuhi jamaah, terutama menjelang waktu maghrib. Ratusan orang datang dari berbagai penjuru, duduk bersila, menunggu waktu berbuka dengan penuh syukur.

Bagi sebagian orang, Masjid Kemayoran bukan sekadar tempat ibadah, melainkan rumah kedua. Kenangan masa muda sering kali terikat pada ruang-ruang sederhana di dalamnya, seperti ruang remaja masjid di lantai dua bagian utara.

Di ruangan itulah, banyak generasi muda menghabiskan waktu, mulai dari belajar, berdiskusi, hingga beristirahat. Hubungan yang terjalin bukan sekadar antara pengurus dan jamaah, melainkan seperti keluarga. Tukang parkir, satpam, pengurus yayasan, hingga guru-guru sekolah Takmiriyah saling mengenal dan saling peduli.

Suasana kebersamaan ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan bagi sebagian jamaah, masjid ini menjadi saksi perjalanan hidup mereka, mulai dari masa sekolah, kuliah, hingga memasuki dunia kerja.

Tidak sedikit yang menyelesaikan skripsi, tugas akhir, hingga tesis di ruang remaja masjid, menjadikannya ruang intelektual sekaligus spiritual. Masjid juga berperan sebagai pusat pemberdayaan umat, termasuk melalui koperasi dan toko alat tulis yang melayani ribuan siswa di kompleks pendidikan Takmiriyah. Itu juga dikelola oleh remaja masjid.

Di ruang kecil remaja masjid itulah, akhirnya lahir ilmuwan-ilmuwan yang kini menyebar ke berbagai penjuru. Ada yang menjadi manager di perusahaan teknik di Jepang, ada yang menjadi tenaga ahli di salah satu BUMN. Ada yang menjadi ahli perkapalan dan melanglang ke berbagai negara. Juga ada yang berkarir sebagai ahli kimia di Perancis. Ada yang menjadi perawat, dokter, juga ada yang menjadi pemerhati politik, juga praktisi perusahaan pertambangan. Dan masih banyak lagi.

Keberagaman latar belakang menjadi ciri khas jamaah masjid ini. Ada yang berasal dari Madura, Bugis, hingga Nusa Tenggara Timur. Namun, identitas kedaerahan tidak pernah menjadi pembeda. Semua disatukan oleh satu ikatan: Islam.

Nilai persaudaraan ini terasa nyata, terutama saat Ramadan. Setiap sore, ratusan nasi bungkus, kurma, susu, dan air minum ditata rapi dalam lima hingga enam deret panjang. Ketika azan maghrib berkumandang dari menara masjid, semua jamaah berdoa bersama, lalu berbuka dengan sederhana namun penuh makna. Kurma menjadi hidangan pertama, mengikuti sunah Nabi Muhammad saw, sebelum dilanjutkan dengan makanan utama.

Masjid Kemayoran zaman dulu.
Masjid Kemayoran zaman dulu.

Dalam Catatan Sejarah

Namun, Masjid Kemayoran bukan hanya hidup dalam kenangan pribadi, tetapi juga berdiri kokoh dalam catatan sejarah. Berdasarkan prasasti yang ada, masjid ini memiliki akar sejarah sejak abad ke-18. Konon, masjid pertama dibangun pada tahun 1772 di Jalan Tembaan. Kemudian, pada tahun 1932, bangunan masjid dipindahkan ke Jalan Indrapura, lokasi yang digunakan hingga sekarang.

Masjid ini memiliki keunikan arsitektur yang khas. Dari luar, bentuknya tampak setengah lingkaran, namun di bagian dalam, ruang utama berbentuk segi delapan. Empat soko guru atau tiang utama bergaya Indies Grandeur—gaya arsitektur yang berkembang pada masa kolonial—masih berdiri kokoh hingga kini.

Menara masjid, yang digunakan muazin untuk mengumandangkan azan, juga merupakan bagian asli dari struktur lama yang diperkirakan berasal dari abad ke-19. Gerbang utama masjid yang megah merupakan hasil renovasi pada tahun 1934, menambah nilai estetika sekaligus historis bangunan ini.

Masjid Kemayoran juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa penjajahan, kolonial Belanda mengambil alih lahan masjid lama di kawasan alun-alun, dekat lokasi yang kini dikenal sebagai Tugu Pahlawan. Tindakan ini memicu protes masyarakat Muslim setempat. Setelah melalui perundingan, pemerintah kolonial akhirnya membangun masjid baru sebagai pengganti di Jalan Indrapura saat ini.

Ketika peristiwa heroik 10 November 1945 terjadi, masjid ini menjadi salah satu saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo melawan pasukan Sekutu. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat konsolidasi moral dan spiritual bagi masyarakat yang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Kini, Masjid Kemayoran berdiri tepat di kawasan strategis, berhadapan dengan kantor DPRD Provinsi Jawa Timur. Meski lingkungan sekitar telah berubah menjadi kawasan perkotaan modern, masjid ini tetap mempertahankan fungsinya sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan umat.

Ramadan di Masjid Kemayoran bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara sejarah dan harapan. Di bawah cahaya lampu dan gema azan maghrib, jamaah berbuka bersama, mengingatkan bahwa masjid bukan hanya bangunan fisik, melainkan ruang hidup yang menyatukan iman, persaudaraan, dan sejarah dalam satu tarikan napas yang sama.

Ada satu ayat yang menjadi landasan gerak saat itu, dan ada di hati hingga saat ini: “Ya Ayyuha Al-Ladhina Amanu In Tansuru Allaha Yansurkum Wa Yuthabbit Aqdamakum” “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad: 7). Insya Allah!

Tinggalkan Balasan

Search