Ruben Onsu: Air Mataku Tumpah saat Mencium Hajar Aswad

Ruben Onsu menangis di depan Kakbah. (ist)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Perjalanan spiritual seseorang sering kali tidak lahir dalam sekejap. Ia tumbuh dari pengalaman hidup, pencarian panjang, serta dorongan batin yang mendalam. Kisah itulah yang tergambar dari perjalanan artis sekaligus presenter terkenal Indonesia, Ruben Onsu, yang akhirnya memutuskan memeluk Islam.

Ruben dikenal sebagai figur publik yang sukses di dunia hiburan. Namanya melambung lewat berbagai acara televisi dan usaha kuliner yang ia jalankan. Kehidupannya terlihat penuh keceriaan dan gemerlap. Namun di balik itu semua, Ruben mengaku pernah mengalami fase kehidupan yang membuatnya banyak merenung tentang makna hidup dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Pergulatan batin itu tidak terjadi dalam waktu singkat. Ruben mengatakan bahwa proses mengenal Islam berlangsung cukup lama. Ia membaca, berdiskusi dengan banyak orang, serta mencoba memahami ajaran Islam secara perlahan.

“Saya tidak pernah menyangka perjalanan hidup saya akan sampai di titik ini. Semua terjadi pelan-pelan, tapi hati saya seperti dituntun,” kata Ruben.

Menariknya, kedekatan Ruben dengan Islam sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru dalam kehidupannya. Dari sisi keluarga, ia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan lingkungan Muslim. Ibunya berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang Islam, dan beberapa kerabat dari pihak ibunya juga memeluk agama Islam.

Sejak kecil, Ruben sudah terbiasa melihat kerabatnya menjalankan ibadah salat atau merayakan hari-hari besar Islam. Lingkungan keluarga yang plural membuatnya tidak asing dengan tradisi dan nilai-nilai Islam.

“Saya sejak dulu sering melihat keluarga dari pihak ibu menjalankan ibadah. Dari situ saya mulai banyak bertanya dan mencoba memahami,” tutur Ruben.

Perjalanan spiritual itu mencapai puncaknya pada 31 Maret 2025, bertepatan dengan momentum Hari Raya Idulfitri. Pada hari itu, Ruben secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bimbingan ulama, Habib Usman bin Yahya.

Momen tersebut menjadi titik balik dalam kehidupannya. Ia kemudian mengumumkan kabar tersebut kepada publik melalui media sosial dengan sebuah kalimat sederhana yang menyentuh: “Assalamualaikum.”

Sapaan itu menjadi tanda awal perjalanan barunya sebagai seorang Muslim. Dalam penjelasannya kepada publik, Ruben juga menegaskan bahwa keputusan menjadi mualaf bukan karena tekanan siapa pun atau karena persoalan pribadi.

“Ini keputusan saya sendiri. Tidak ada paksaan dari siapa pun. Saya hanya mengikuti apa yang hati saya yakini,” kata Ruben.

Perjalanan Umrah

langkah besar yang ia lakukan adalah menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci. Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang penuh haru dan makna.

Sejak awal keberangkatan menuju Madinah, Ruben mengaku merasakan perasaan campur aduk antara bahagia, haru, dan sedikit gugup. Baginya, perjalanan umrah ini adalah impian yang selama ini ia simpan sejak mempelajari Islam beberapa tahun sebelumnya. Ia bahkan membaca berbagai buku panduan agar bisa menjalankan ibadah dengan benar dan khusyuk.

“Bahagia, sesuatu yang tidak bisa diceritakan. Saya ingin menjalani semuanya dengan khusyuk,” ungkap Ruben.

Sesampainya di Masjid Nabawi, Ruben merasakan pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia mengaku sering disapa oleh orang-orang yang tidak dikenalnya dengan penuh kehangatan. Hal yang membuatnya terkejut, beberapa orang bahkan memanggilnya dengan nama “Alif”.

Setiap kali bertemu, mereka menyapanya dengan salam, seolah-olah sudah mengenalnya lama. Peristiwa ini membuat Ruben merenung dan merasa mendapatkan pengalaman batin yang sangat dalam.

Perjalanan spiritual itu mencapai puncaknya ketika ia berada di depan di Kakbah. Saat pertama kali melihat Kakbah dari dekat, Ruben tidak mampu menahan haru. Air matanya mengalir tanpa disadari. Ia merasa sangat bersyukur akhirnya bisa berdiri di tempat yang selama ini hanya ia lihat di televisi atau foto.

Salah satu momen paling menggetarkan terjadi ketika Ruben mendapat kesempatan mencium Hajar Aswad. Kesempatan itu tidak mudah, karena jutaan jamaah dari berbagai negara juga menginginkan hal yang sama. Namun pada saat itu, ia merasa Allah memberikan kemudahan baginya.

Begitu berhasil mencium Hajar Aswad, Ruben langsung menangis, air matanya tumpah. Ia menundukkan kepala dan berdoa penuh syukur. “Ya Allah, terima kasih atas kemudahan yang Engkau berikan,” tandasnya.

Pengalaman Batin

Tahun 2026 ini menjadi momen yang sangat istimewa baginya. Untuk pertama kalinya ia menjalani puasa bulan suci Ramadan. Ia mengaku merasakan pengalaman spiritual yang berbeda. “Saya merasa seperti menemukan rumah baru untuk hati saya. Rasanya lebih tenang, lebih damai,” ungkap Ruben.

Ada satu kebiasaan baru yang ia rasakan sangat menyentuh hatinya, yakni ketika menjalankan salat. Ruben pernah mengungkapkan bahwa waktu salat Isya sering ia gunakan untuk mencurahkan isi hatinya kepada Allah. “Kadang setelah salat Isya saya duduk lama. Saya seperti sedang berbicara dengan Allah, menceritakan semua yang ada di hati saya,” katanya.

Ia juga mengaku merasakan ketenangan yang berbeda setelah menjalankan ibadah. “Dulu saya sering merasa ramai di luar, tapi kosong di dalam. Sekarang justru sebaliknya. Hidup saya mungkin sama, tapi hati saya terasa jauh lebih tenang sekarang,” ujar Ruben dengan suara haru. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search