Dalam rangkaian kegiatan benchmarking internasional, Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan sebuah seminar internasional yang mengangkat isu penting dalam dunia peternakan modern, yakni manajemen rumah sakit hewan.
Kegiatan yang berlangsung pada 2 Mei 2025 ini, menjadi salah satu agenda utama dalam kerja sama akademik antara Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Kastamonu, Turki.
Seminar ini menghadirkan narasumber istimewa dari luar negeri, yaitu Assoc. Prof. Osmen Daniz, seorang akademisi dan praktisi dari Universitas Kastamonu yang memiliki keahlian khusus dalam bidang management animal hospitality atau manajemen rumah sakit untuk hewan.
Dalam paparannya, Daniz menekankan pentingnya keberadaan rumah sakit khusus bagi hewan ternak sebagai salah satu penunjang utama keberhasilan peternakan yang sehat, berkelanjutan, dan memenuhi standar higienitas tinggi.
Menurut Daniz, institusi seperti rumah sakit hewan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengobatan, tetapi juga sebagai tempat edukasi dan pelatihan bagi para peternak.
“Manajemen rumah sakit hewan memegang peranan kunci dalam menjaga kualitas hidup hewan ternak, memberikan diagnosa penyakit yang tepat, serta mendukung proses pembelajaran dan riset bagi para akademisi,” jelasnya.
Lebih lanjut,d ia menerangkan bahwa struktur dan sistem organisasi dalam rumah sakit hewan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rumah sakit umum yang menangani manusia.
Namun, ada kebutuhan-kebutuhan khusus yang harus dipenuhi, seperti prosedur kebersihan yang ketat, ketersediaan alat medis khusus, serta pengawasan ketat terhadap mikroorganisme yang bisa membahayakan hewan ternak.
“Semua aspek ini terangkum dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) yang wajib dijalankan oleh rumah sakit hewan,” tegasnya.
Dalam contoh kasusnya, Daniz menjelaskan bagaimana seekor kuda ternak yang terinfeksi parasit dapat mengalami komplikasi serius jika tidak ditangani dengan prosedur yang tepat.
Misalnya, injeksi obat yang dilakukan tanpa teknik steril dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar atau bahkan kerusakan jaringan.
“Oleh sebab itu, keberadaan rumah sakit hewan yang profesional dengan staf terlatih dan memiliki lisensi sangat penting dalam menunjang keberhasilan peternakan,” tutur dia.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM, Prof. Aris Winaya turut menyampaikan kebanggaannya atas terselenggaranya seminar bertaraf internasional ini.
Dia menilai, kegiatan ini membuka wawasan mahasiswa, khususnya dari Prodi Peternakan, untuk tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga menyerap ilmu praktis dari para ahli lintas negara.
“Seminar internasional dengan topik teaching management hospital for animals ini diharapkan menjadi pemicu semangat mahasiswa untuk memahami pentingnya tata kelola peternakan yang sesuai dengan SOP. Ini sangat penting agar nantinya mereka dapat membangun sistem peternakan yang lebih profesional dan berdaya saing tinggi,” ujarnya.
Aris menambahkan bahwa peluang belajar seperti ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh mahasiswa. Menurutnya, kerja sama dengan institusi pendidikan dari luar negeri tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memberikan perspektif global yang sangat relevan dalam menghadapi tantangan dunia peternakan modern.
Di akhir seminar, baik narasumber maupun pihak FPP UMM sepakat bahwa masa depan peternakan yang berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dari profesionalitas dalam penanganan kesehatan hewan.
Rumah sakit hewan bukan lagi menjadi fasilitas pelengkap, melainkan kebutuhan mendasar dalam sistem agrikultur modern yang menempatkan kesejahteraan hewan sebagai salah satu indikator keberhasilan usaha peternakan. (*/wh)
