*Oleh: Nashrul Mu’minin
Content Writer Yogyakarta
Di tengah dunia yang riuh, saat jawaban-jawaban serba cepat dan akurat menjadi tuntutan hidup, ada suara yang justru memilih diam. Bukan karena ia tidak tahu, melainkan karena ia sudah selesai bicara, dan kini yang tersisa hanya gema.
Rumi, penyair sufi abad ke-13 yang puisinya kini menjadi barang jualan populer di toko buku Barat, tiba-tiba terasa jauh dari pertanyaan kita hari ini. Ia tidak menjawab lagi. Tapi di balik diamnya, masih ada desir halus yang bicara kepada mereka yang cukup hening untuk mendengar.
Rumi tidak pernah menulis untuk menjelaskan. Ia menulis untuk memercikkan kesadaran. Di dalam ayat-ayat puisinya, tidak ada definisi yang membatasi, tidak ada dogma yang menyesakkan. Yang ada hanya gerak jiwa yang menari, terkadang lembut seperti embun, terkadang liar seperti badai padang pasir. Rumi lebih dekat dengan pertanyaan daripada jawaban. Ia adalah suara sunyi yang tak memaksa, tapi pelan-pelan merambat ke dalam dada.
Kini, puisi-puisinya sering ditarik keluar dari akar sufistiknya. Diterjemahkan dengan romantisme pop, dijual dalam bingkai motivasi, atau dijadikan kutipan Instagram yang manis namun tanpa ruh. Padahal Rumi lahir dari api spiritual yang menyala, dari proses penyucian diri yang dalam, dari kehilangan yang membuatnya meledak dalam cinta yang mistik. Ia bukan hanya seorang penyair, tapi juga seorang pejalan ruhani, seorang pencinta Tuhan yang mencari wajah-Nya dalam setiap debu dan desir angin.
Maka ketika hari ini kita membaca Rumi dan merasa tidak terjawab, barangkali karena kita terlalu terburu-buru ingin tahu, terlalu sibuk ingin mengerti. Kita lupa bahwa jawaban Rumi bukan pada kalimatnya, tapi pada perjalanan yang mengikutinya.
Rumi tidak menulis untuk mengajari, tapi untuk menemani. Ia bukan guru yang menunjuk papan tulis, tapi sahabat dalam sunyi yang berkata, “Ikutlah tarian ini, meski kau belum tahu musiknya.”
Rumi adalah kitab yang dibuka dengan hati, bukan dengan logika. Maka yang ingin menyelami dirinya harus berani melepas sepatu akal di depan pintu ruh. Ia mengajak kita ke padang pengembaraan jiwa, bukan ke ruang seminar. Kata-katanya seperti angin gurun, yang tidak bisa ditangkap tapi bisa dirasakan; seperti api yang tidak bisa disentuh tapi bisa menghangatkan malam yang dingin.
Kini banyak yang mengutip Rumi, tapi tak banyak yang menghayati kenapa ia menulis. Banyak yang kagum pada puisinya, tapi lupa pada derita dan hijrahnya. Kita membaca “You were born with wings, why prefer to crawl through life?” tapi tetap saja sibuk merangkak mengejar validasi sosial. Kita baca “Don’t grieve. Anything you lose comes round in another form,” tapi tak juga rela kehilangan apa pun yang bersifat duniawi. Rumi bicara soal makna, sementara kita membacanya untuk alasan yang instan.
Jika Rumi hari ini tampak tidak menjawab, mungkin karena kita belum cukup sunyi untuk mendengar. Kita terlalu bising dengan ego, dengan argumen, dengan kebanggaan untuk merasa paling benar. Kita lupa bahwa dalam tradisi sufi, kebenaran bukan untuk dipamerkan, tapi untuk ditangisi. Kebenaran bukan sesuatu yang dimenangkan dalam debat, tapi dijemput dalam munajat.
Dan jika pada akhirnya Rumi memilih diam, barangkali itu bukan karena ia selesai bicara. Tapi karena kita sendiri belum selesai bertanya pada diri sendiri: untuk apa kita membaca, dan siapa yang sebenarnya sedang kita cari?
Sebab jawaban bukan soal kalimat yang kita temukan, tapi pada jiwa yang kita temui dalam prosesnya. Dan di situ, dalam pertemuan itulah, Rumi masih menari. Meski tanpa suara. Meski tanpa jawaban. Tapi tetap meninggalkan cahaya. (*)
