Ibadah ke Tanah Suci adalah perjalanan fisik sekaligus ujian batin. Sering kali, batas antara semangat mengejar sunnah dan ego pribadi menjadi sangat tipis. Di satu sisi, mencium Hajar Aswad adalah sunnah yang dirindukan, namun di sisi lain—dengan keterbatasan waktu serta jutaan jamaah yang memiliki keinginan yang sama—kondisi saling berdesakan, mendorong, bahkan menyikut antar jamaah seolah tak terhindarkan.
Saat menunaikan ibadah Tawaf kali kedua, saya sempat menyaksikan Asykar (petugas keamanan) bersitegang dengan salah satu jamaah yang sulit ditertibkan. Beruntung, ketegangan itu segera mereda karena kedua belah pihak mampu menahan diri dan kembali pada kesadaran ibadah.
Pengalaman saya pada umrah tahun 2026 ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana Allah Swt menjaga hamba-Nya agar tidak terjerumus dalam tindakan dzalim (aniaya) sesama jamaah.
Keinginan Mengamalkan Sunnah vs Realitas Sosial
Pada umrah pertama saya tahun 2023, saya tidak memiliki ambisi untuk mencium Hajar Aswad. Pertimbangannya sederhana: Selain diperbolehkan menggunakan isyarat tangan dan mengecupnya dari jauh, saya juga tidak ingin memaksakan diri untuk berebut di pojok Kakbah. Saya senang jika bisa mendahulukan yang lain.
Keinginan itu kian surut saat mendengar cerita seorang teman yang berhasil mencium Hajar Aswad namun dengan perjuangan yang luar biasa. Ia keluar dari kerumunan dan desakan jamaah dengan napas tersengal dan dada sesak karena terhimpit. Saat itu saya bergumam dalam hati, “Ingin beribadah kok sulit ya, bukankah Rasulullah saw juga memberikan alternatif yang lebih mudah?” Bukankah esensi ibadah adalah ketenangan dan kepasrahan, bukan ajang adu fisik?”
Namun saya segera menyadari bahwa setiap orang memiliki preferensi masing-masing. Jangan-jangan, meski harus berdesak-desakan, ia merasa puas dan bangga apabila mempu mencium atau menyentuh Hajar Aswad. Saya kira ini sah-sah saja, yang terpenting tidak sampai mendholimi orang lain.
Doa yang Spesifik di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, kerinduan itu tiba-tiba muncul. Namun, belajar dari pengalaman sebelumnya, saya menyelipkan syarat dalam doa saya:
“Ya Allah, berikan kesempatan kepada saya untuk bisa mencium Hajar Aswad tanpa mendzalimi orang lain.”

Saya menyadari bahwa mencium Hajar Aswad adalah sunnah, sementara menjaga keselamatan serta kehormatan sesama Muslim adalah wajib. Saya tidak ingin menukar sesuatu yang sunnah dengan melakukan yang haram (menyakiti sesama). Namun, hingga Tawaf Wada’ (Perpisahan) selesai, kesempatan itu tak kunjung datang. Doa saya tampaknya belum dikabulkan, seolah-olah Allah SWT menunda keinginan saya untuk bisa mencium Hajar Aswad demi menjaga hak sesama.
Memaknai “Kegagalan” sebagai Perlindungan
Setelah merenung, saya menyadari bahwa tidak terkabulnya doa tersebut justru merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT. Saya merasa banyak hikmah yang diberikan dari kegagalan ini:
- Keutamaan Menjaga Hak Sesama
Allah SWT mungkin tidak meridhoi saya mencium Hajar Aswad jika jalannya harus melalui dorong-dorongan, sikut-sikutan, atau menginjak kaki orang lain. Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan, Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (Menghindari kemudharatan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan). Menghindari menyakiti orang lain lebih utama daripada mengejar sunnah mencium batu tersebut.
- Melawan Ego dalam Beribadah
Terkadang, keinginan mencium Hajar Aswad bukan murni karena Allah Swt, melainkan ada ego untuk merasa puas atau sukses menaklukkan tantangan. Dengan tidak memberikan celah, Allah Swt sedang melatih saya untuk tawadhu (rendah hati) dan menerima bahwa ketaatan tertinggi adalah tunduk pada ketetapan-Nya.
- Kesungguhan yang Teruji
Bisa jadi, Allah Swt sedang menguji sejauh mana kesabaran saya. Apakah saya akan menghalalkan segala cara demi sebuah nafsu? Ataukah saya tetap memegang prinsip tanpa mendzalimi meski keinginan itu tidak tercapai?
Mencium dengan Isyarat, Menjaga dengan Hati
Bagi kita yang belum diberi kesempatan menyentuh Hajar Aswad secara fisik, ingatlah bahwa Rasulullah saw memberikan jalan keluar yang indah berupa istilam (memberi isyarat dengan lambaian tangan). Hal ini justru menjadi solusi paling aman agar ukhuwah Islamiyah di pelataran Mataf tetap terjaga.
Kita berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah Swt. Mungkin hari ini doa dan keinginan kita untuk mencium Hajar Aswad belum dikabulkan oleh-Nya, karena Allah Swt ingin menjaga tangan dan bahu kita agar tidak menyakiti hamba-Nya yang lain. Atau, jangan-jangan Allah Swt sedang menyiapkan undangan berikutnya agar kita kembali bersimpuh di Baitullah. Wallahu a’lam bish-shawabi. (*)
