Ketika dunia medis gigi di Indonesia terpukul karena ketergantungan pada bahan impor, seorang dokter gigi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) muncul dengan solusi berbasis kekayaan alam negeri sendiri.
Dialah Dendy Murdiyanto, yang menjelma dari anak kecil pencinta bongkar pasang menjadi perintis riset dental biomaterial berbasis bahan lokal. Mulai dari bunga telang hingga bawang putih.
Pada dekade ’80-an, saat komputer masih menjadi barang langka di rumah-rumah, Dendy meminta ikut les komputer. Ia menjadi siswa termuda di kelas itu.
“Teman saya semua udah gede, saya doang yang masih kecil,” seloroh Dendy seperti dilansir di laman resmu UMS pada Senin (6/5/2025).
Dendy tumbuh dalam lingkungan keluarga yang rata-rata berprofesi sebagai guru. Namun orang tuanya tak pernah sekalipun memaksanya menjadi seorang pengajar. “Ayah dan ibu tahu saya punya ketertarikan sendiri,” terang dia.
Kebanyakan anak laki-laki seusianya saat itu bercita-cita menjadi insinyur. Tak ayal usai lulus SMA, ia menempuh program studi Teknik Arsitektur di Universitas Sebelas Maret (UNS).
“Waktu itu, memang lumrahnya lelaki di teknik kalau kata orang-orang, kan?” ucapnya lelaki kelahiran Klaten itu membenarkan apa yang didengarnya dahulu.
Selesai satu tahun kuliah teknik membuatnya gelisah. Dirinya merindukan sisi humanis dari sebuah ilmu pengetahuan.
Dendy lalu pindah haluan ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM). “Menurut saya, kedokteran gigi ada unsur teknik, seni, dan biologi yang melibatkan saya untuk berinteraksi dengan makhluk hidup. Pas banget!” akunya.
Menekuni Dental Biomaterial
Selepas sarjana, Dendy menjalani wajib kerja sebagai dokter gigi umum di salah satu puskesmas di Kalimantan Selatan. Lokasi penempatan yang jauh dan terpencil membuatnya belajar banyak soal praktik di lapangan.
“Mungkin setahun lebih jadi dokter klinis. Tapi setelah dijalani pengennya malah ke arah riset dan pengembangan teknologi kedokteran gigi saja,” tuturnya.
Dengan banyak pertimbangan, akhirnya Dendy bergabung dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tahun 2008. Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) saat itu belum berdiri. Ia memulai karier akademiknya di Fakultas Kedokteran sebagai kepala laboratorium anatomi.
“Ketika UMS merintis pendirian FKG, saya termasuk yang menyusun proposal awal. Setelah fakultas resmi berdiri, saya pindah homebase ke FKG dan menjabat sebagai kepala laboratoriumnya,” sambung Dendy. Di tengah kesibukan struktural, ia melanjutkan studi S2 di UGM. Master of dental science menjadi pilihannya. Di sini ia mulai banyak meriset mengenai dental biomaterial.
“Indonesia ini kaya. Tapi hampir semua bahan kedokteran gigi kita impor,” kata Dekan FKG UMS itu. Mulai dari bahan tambalan, pasta gigi, hingga bahan untuk membuat gigi tiruan. Hal ini membuat praktik kedokteran gigi di Indonesia sangat bergantung pada pasokan bahan dari luar negeri.
Situasi itu semakin terasa saat pandemi COVID-19 melanda. Rantai pasok global terganggu, harga bahan melonjak, dan pasokan tersendat. “Saat itu, banyak praktik kesehatan gigi dan mulut terasa berat. Karena bahannya nggak datang, kita jadi lumpuh dalam waktu yang cukup lama,” ujar Dendy.
Merujuk laporan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2023, setidaknya sebanyak 70 persen bahan-bahan dan alat kesehatan masih didatangkan dari negara lain. Alat kesehatan ini termasuk alat kedokteran gigi.
Dendy kemudian mulai aktif meneliti berbagai bahan lokal yang berpotensi menjadi solusi masalah medis yang beragam. Salah satu hasil penelitiannya yang paling menonjol adalah formulasi pasta gigi berbahan dasar bunga telang atau Clitoria ternatea.
Selama 2 tahun, ia dan timnya menguji ekstrak etanol bunga telang terhadap Streptococcus mutans (penyebab utama karies) dan Candida albicans (penyebab infeksi jamur di rongga mulut).
Hasilnya pun memuaskan. Temuan pasta gigi bunga telang tidak hanya bermanfaat sebagai pembersih, namun juga sebagai agen antibakteri dan antijamur alami.
Penelitian pasta gigi bunga telang berhasil Dendy publikasikan pada jurnal Scopus, dan kini tengah disiapkan untuk tahap komersialisasi. “Sudah sampai tahap akhir. Harapannya bisa segera masuk industri,” katanya.
Di tahun 2022, Dendy pernah meneliti pengaruh ekstrak etanol bawang putih atau Allium sativum L. sebagai pelarut bahan cetak alginat terhadap daya hambat pertumbuhan mikroorganisme. Alginat sendiri merupakan bahan cetak gigi tiruan yang kerap digunakan dalam kedokteran gigi.
Alginat akan bersentuhan dengan darah, liur, dan plak dalam penggunaannya. Kondisi semacam ini akan berpotensi mengandung mikroorganisme patogen seperti Candida albicans, yang bisa menginfeksi rongga mulut dan menyebabkan kandidiasis.
“Menariknya karena bawang putih ini mudah diperoleh. Larutan bawang putih juga berpotensi menghambat infeksi silang antara pasien dengan dokter,” sambung dia.
Sementara kandungan utama bawang putih yang ditelitinya merupakan allicin, senyawa aktif yang bersifat antijamur dan antibakteri. Setelah melakukan serangkaian uji coba, hasil menunjukkan bahwa konsentrasi tinggi ekstrak bawang putih mampu menekan pertumbuhan rantai sel yang membentuk rangkaian kesatuan dasar penyusun tubuh jamur.
Dari kegigihan meriset, Dendy berhasil memegang dua hak paten atas temuan bahan alam dalam kedokteran gigi. Sejumlah hak cipta untuk modul pembelajaran serta inovasi metode edukasi berbasis teknologi juga telah ia koleksi.
“Riset harus bersandar pada realitas dan kebutuhan. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati luar biasa. Sayangnya, masih sedikit yang menjadikannya objek penelitian terapan dalam bidang kedokteran gigi,” resah dia.
Dendy mendorong FKG UMS untuk mengambil peran strategis itu. Di bawah kepemimpinannya, fakultas menetapkan visi sebagai pusat pengembangan bahan alam dalam kedokteran gigi.
Selain aktivitas di kampus, Dendy pun aktif terlibat dalam organisasi profesi. Ia menjadi bagian dari Ikatan Peminat Material Kedokteran Gigi Indonesia (IPAMAGI) dan Forum Komunikasi Kedokteran Gigi Islam. Melalui jaringan ini, ia membangun kolaborasi lintas institusi untuk memperkuat riset bahan alam.
Kultur riset betul-betul ia tanamkan kepada para mahasiswa sejak awal menempuh pendidikan dokter gigi. Ia juga menyadari bahwasanya tak semua mahasiswa tertarik menjadi peneliti.
Dendy menghargai pilihan setiap orang. Hanya saja dirinya tak pernah bosan memotivasi. “Menjadi klinisi tentu pilihan yang bagus, tugasnya mulia. Tapi kalau semua jadi klinisi, lalu siapa yang meriset bahan untuk kebutuhan medis misalnya?” celetuk dia.
Wajah Dendy serius menjelaskan keresahan itu. Dahinya mengernyit. Ia bersungguh-sungguh ingin mendukung kemandirian bahan untuk kebutuhan medis kedokteran gigi dari kekayaan alam sendiri. Apalagi di tengah-tengah perekonomian yang tertekan seperti yang terjadi saat ini.
“Kalau bahan dari luar mahal dan tidak tersedia, kita tidak bisa bekerja. Kalau kita punya bahan yang tumbuh di kebun sendiri, kenapa harus beli dari luar?” tutupnya. (*/wh)
