Saat Hidayah Harus Dikejar, Bukan Ditunggu

Saat Hidayah Harus Dikejar, Bukan Ditunggu
*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar AIK Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
www.majelistabligh.id -

Ungkapan “hidayah itu diburu” memiliki makna bahwa seorang muslim perlu aktif dalam mencari dan mengusahakan datangnya hidayah, bukan hanya sekadar menunggu.

Meskipun hidayah adalah karunia dari Allah, manusia tetap perlu berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan mencari jalan-jalan yang dapat membawanya pada hidayah.

Hidayah, atau petunjuk dari Allah, adalah hak prerogatif-Nya. Hanya Allah yang dapat memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.

Meskipun hidayah adalah hak Allah, manusia tetap perlu berusaha untuk mendapatkannya. Usaha ini bisa berupa berdoa, mempelajari agama, mengikuti majelis ilmu, bergaul dengan orang-orang saleh, dan menjauhi kemaksiatan.

Contoh usaha mencari hidayah adalah ketika seseorang yang ingin mendapatkan hidayah, perlu mencari ilmu agama, membaca Al-Quran, menghadiri kajian, dan berinteraksi dengan orang-orang yang berpengetahuan agama.

Selain itu, menjauhi perbuatan maksiat dan mendekatkan diri kepada Allah juga merupakan bagian dari usaha mencari hidayah.

Hidayah tidak datang begitu saja. Tidak bisa hanya dengan berdiam diri, hidayah akan datang. Manusia harus aktif mencari dan menjemput hidayah dengan berbagai cara yang positif.

Jadi, ungkapan “hidayah itu diburu” mengingatkan umat Islam untuk tidak bersikap pasif dalam mencari petunjuk Allah, tetapi berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hidayah yang akan membawa mereka pada kebaikan dan kebahagiaan dunia akhirat.

لا ينال الهدى إلا بالعلم، ولا ينال الرشاد إلا بالصبر

“Hidayah itu tdk dapat diraih kecuali dgn ilmu, & jalan yang lurus tidak dapat diraih kecuali dengan kesabaran.” (lihat Majmu’ Fataawa X/40)

فإذا افتقر العبد إلى الله ودعاه، وأدمن النظر في كلام الله، وكلام رسوله وكلام الصحابة والتابعين وأئمة المسلمين انفتح له طريق الهدى

“Jika seorang hamba itu menampakkan rasa butuhnya kepada Allah dan berdo’a kepada-Nya, membiasakan terus melihat firman Allah (yaitu “membaca al-Qur’an”), sabda2 Rasul-Nya, ucapan para sahabat, taabi’iin, dan para imam kaum muslimin, niscaya akan terbukakan baginya “Jalan Hidayah.” (Majmuu’ Fataawa III/62)

فكـل مـن اتبـّع الرسـول صلى الله عليه وسلم فالله كافيه، وهاديه، وناصره، ورازقه

“Setiap orang yang mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah akan mencukupinya, “Memberikan Hidayah” kepadanya, menolongnya, dan akan dilapangkan rezekinya.” (Al-Qa’idah Al-Jaliilah 221)

ولا سبيل إلى اتباعه ﷺ على الكمال إلا بدراسة سنته والعناية بها، مع العناية بكتاب الله عز وجل

“Tidak mungkin bisa mengikuti beliau sawa secara sempurna, “kecuali” dengan jalan mempelajari “sunnah” (ajaran) beliau dan memiliki perhatian yg besar terhadapnya, di samping itu memiliki “perhatian” yang besar juga terhadap Kitab Allah ‘Azza wa Jalla.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baaz VII/210). (*)

Tinggalkan Balasan

Search