Saat Nafsu Bicara: Strategi Zulaikha Membalik Opini Publik

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Moh.Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepala SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Sidoarjo

﴿ فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ﴾يوسف( 31:

Maka tatkala perempuan itu (Zulaikha) mendengar gunjingan mereka, diundangnya mereka dan disediakannya bagi mereka tempat duduk (yang istimewa) dan diberinya masing-masing sebuah pisau. Kemudian dia berkata (kepada Yusuf), ‘Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka!’ Maka tatkala perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepadanya, dan (tanpa sadar) melukai tangan mereka, dan berkata, ‘Mahasempurna Allah! Ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.’” (QS. Yusuf: 31)

Ayat ini menyingkap sebuah drama sosial dan psikologis yang sarat makna. Zulaikha, istri pembesar Mesir, menjadi buah bibir karena hasrat cintanya kepada Yusuf. Ia tak menyangkal, tetapi justru memainkan strategi licik untuk membalikkan tuduhan. Di sinilah kita menyaksikan politik persepsi yang dimainkan oleh seorang wanita istana dalam membungkam kritik sosial.

Mengatur Panggung untuk Membalikkan Opini

Menurut Imam al-Ṭabarī dalam Tafsīr al-Jāmi‘, Zulaikha menyusun skenario untuk membela diri tanpa berkata panjang. Ia menjamu para wanita Mesir dalam sebuah perjamuan mewah, memberi mereka buah dan pisau, lalu memerintahkan Yusuf keluar secara tiba-tiba. Tujuannya jelas: agar mereka sendiri menyaksikan pesona Yusuf dan menyadari mengapa ia terobsesi.

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ “Tatkala mereka melihatnya, mereka pun kagum luar biasa.”

(QS. Yusuf: 31)

Imam Qurṭubī menyebut peristiwa ini sebagai bukti kelicikan dan kecerdikan perempuan, tetapi juga menunjukkan kekuatan pesona Yusuf yang luar biasa, hingga tanpa sadar para wanita itu melukai tangan mereka sendiri.

“Zulaikha tidak hanya membungkam mereka, tapi membuat mereka merasa bersalah karena pernah mencelanya.” (Tafsīr al-Qurṭubī, 9/187)

Narasi, Kekuasaan, dan Ancaman Terselubung

Setelah berhasil memukau para wanita, Zulaikha berkata: قَالَتْ فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ

“Itulah orang yang kamu cela aku karena tertarik kepadanya.” (QS. Yusuf: 32)

Ia bukan saja membela dirinya, tapi menyeret lawan-lawannya untuk diam dan memahami posisinya. Bahkan lebih dari itu, ia memperingatkan bahwa Yusuf akan masuk penjara jika tidak mengikuti perintahnya.

Menurut Fakhruddin al-Rāzī, ini adalah cara Zulaikha menggunakan emosi, status, dan ancaman sosial untuk memperkuat posisinya. Ia cerdas dalam memainkan kekuatan simbolik.

Sayyid Quṭb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān menyebutnya sebagai “Siasat psikologis tingkat tinggi” yang membungkam kritik tanpa konfrontasi terbuka, tapi dengan manipulasi visual dan setting yang menggugah simpati.

Politik Simbolik dalam Sorotan Wahyu

Zulaikha mengajarkan bagaimana nafsu dan kekuasaan bisa berkolaborasi menghasilkan panggung yang mampu menggeser kebenaran, bila tidak ditopang iman yang kokoh. Ia menyusun narasi untuk memoles aibnya, membingkai cintanya sebagai sesuatu yang manusiawi, dan mengendalikan opini publik lewat rasa kagum dan empati.

Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menyatakan bahwa peristiwa ini menggambarkan bagaimana wanita elite Mesir saat itu begitu dipengaruhi oleh tampilan fisik dan daya tarik visual. Bahkan standar moral bisa goyah jika dikemas dalam keindahan dan pesona.

Pelajaran untuk Hari Ini

Kritik bisa dibungkam bukan dengan dalil, tapi dengan drama.

Zulaikha membungkam lawan dengan skenario visual. Di era digital, ini sering terjadi melalui “framing media”.

Jangan mudah terpengaruh oleh emosi publik.

Apa yang viral belum tentu benar. Para wanita Mesir berubah dari pengkritik menjadi pembela hanya karena satu momen visual.

Keteguhan iman adalah benteng terbaik dari fitnah.

Yusuf tetap teguh, meskipun dikurung dan difitnah. Dalam dunia modern, godaan dan tekanan bisa serupa: kekuasaan, harta, opini massa.

Kisah Zulaikha bukan sekadar romansa istana. Ia adalah potret dari politik nafsu, kekuasaan, dan persepsi, yang bisa mengaburkan kebenaran. Al-Qur’an merekamnya bukan untuk ditiru, tapi agar kita waspada terhadap permainan opini dan kekuasaan yang menggoda hati.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan…” (QS. Yusuf: 53)

Semoga kita tidak menjadi korban dari politik citra yang mengaburkan nurani. (*)

 Referensi

  • Al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, Dār al-Risālah.
  • Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, Dār al-Kutub.
  • Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Tafsīr al-Kabīr.
  • Sayyid Quṭb, Fī Ẓilāl al-Qur’ān.
  • M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah.

Tanggapan

  1. Alhamdulillah. Senang tulisan ini. Lengkap dengan referensi kitabnya.

    Salam dari keluarga besar SD Musix (Muhammadiyah 6) Gadung Surabaya.

    Semoga para penulis, awak redaksi, dan tim support majelistabligh.id diberikan kesehatan, kelancaran, kesuksesan, dan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin Yaa Robb.

Tinggalkan Balasan

Search