Dalam era ketika jari kita lebih cepat men-scroll video 15 detik daripada menunggu ceramah berdurasi satu jam selesai, dakwah pun menghadapi dilema besar.
Sudah menjadi pemandangan sehari-hari, di masjid, deretan kursi tampak lengang ketika ceramah panjang dimulai. Namun di ponsel, layar kecil terus berputar — video reels, TikTok, YouTube Shorts — menarik perhatian jutaan orang, dari anak muda hingga dewasa. Fenomena ini bukan sekadar tren; ini adalah pergeseran kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi konten digital.
Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 212 juta pengguna internet pada 2025, dengan penetrasi mencapai sekitar 75 persen dari total penduduk. Dari angka itu, 143 juta identitas pengguna aktif di media sosial, hampir setengah dari total populasi kita. Artinya, mayoritas masyarakat kini bukan hanya terkoneksi secara digital — mereka hidup di dalamnya.
Dan menariknya: konsumsi konten “video pendek” tidak sekadar tinggi. Indonesia masuk dalam 5 besar dunia dalam hal frekuensi menonton video pendek setiap minggu. Ini menggambarkan satu fakta sederhana: masyarakat kita lebih sering membuka aplikasi yang penuh “hiburan visual instan” daripada konten panjang yang menuntut fokus lama.
Apa yang Terjadi pada Dakwah Konvensional?
Perubahan ini membawa dampak nyata bagi para ustaz, mubaligh, dan juru dakwah.
- Perhatian “Instan” Mengalahkan Perhatian Mendalam.
Ketika algoritma media sosial memprioritaskan video yang membuat orang tetap scroll — sering kali berdurasi 15–60 detik — daya tahan perhatian kita pun berubah. Konten yang panjang, termasuk ceramah agama tradisional, terasa “berat” bagi banyak penonton digital.
- Ceramah Panjang Kian Sepi Penonton.
Kajian yang dulunya ramai kini kalah dengan video klip singkat penuh musik, tarian, atau humor. Ini bukan karena masyarakat tidak mencari ilmu, tetapi cara mereka belajar dan menerima informasi berubah drastis.
- Ketidaksiapan Para Ustaz Menghadapi Dunia Digital
Banyak dai belum terbiasa membuat konten yang cocok dengan format digital, terutama video pendek yang harus cepat, padat, dan tetap bermakna. Upaya memotong ceramah panjang menjadi “klip 1 menit” kerap kali hanya menghasilkan video yang kurang efektif dan kurang menarik.
Mengapa Video Pendek Begitu “Magnetik”?
Alasan psikologisnya sederhana: video pendek memberi reward instan. Setiap 15 detik klip baru muncul, otak mendapatkan “dopamin kecil”. Ini memicu kebiasaan scroll terus menerus tanpa sadar waktu berlalu cepat. Format ini juga mudah dicerna, visual, dan memenuhi kebutuhan hiburan cepat di sela-sela aktivitas harian.
Efeknya tak hanya mengubah preferensi tontonan, tetapi juga mengubah cara kita belajar, menyimak, dan mengingat informasi.
Jika dakwah hanya bertahan pada format konvensional, ada risiko pesan agama terpinggirkan oleh budaya digital yang semakin kuat. Maka strategi dakwah harus berubah bukan ditinggalkan, tetapi diadaptasi.
Berikut beberapa langkah konkret yang para juru dakwah bisa pertimbangkan:
- Kuasai Bahasa Digital
Dakwah kini bukan sekadar berdiri di mimbar, tetapi juga berdiri di depan kamera. Pelajari cara kerja platform seperti TikTok, Reels, dan YouTube Shorts: apa yang membuat video viral, bagaimana menulis caption yang menarik, serta efek visual yang tepat.
- Format Ceramah Menjadi “Mini-Message”*
Ambil inti ceramah yang paling tajam, lalu kemas dalam video singkat yang padat makna 30–60 detik. Ini bukan sekadar memotong video panjang; tetapi merancang ulang pesan agar relevan dengan ritme digital.
- Kolaborasi dengan Kreator Digital
Banyak konten kreator profesional yang paham algoritma, storytelling visual, dan teknik editing. Kerja sama ini bisa menjadi jembatan antara kekayaan isi dakwah dan cara penyampaian yang menarik bagi generasi digital.
- Bangun Konsistensi dan Branding
Seperti halnya influencer populer, dai juga perlu jadwal rutin posting, tone yang konsisten, dan gaya yang khas. Ini membantu audiens mengenali dan mempercayai konten dakwah digital yang dihasilkan.
- Literasi Digital untuk Umat
Tidak cukup hanya membuat konten, para ulama juga bisa menjadi pendidik literasi digital, membantu umat memahami bagaimana teknologi bekerja, termasuk bahaya konten manipulatif dan bagaimana memilah informasi bermanfaat dan yang tidak.
Menyikapi Era, Bukan Menolaknya
Dakwah tidak hilang di era digital, tetapi cara kita berdakwah harus bertransformasi. Ini bukan soal mengikuti tren, tetapi tentang mengambil ruang di mana audiens saat ini berada dan di sanalah juru dakwah harus beradaptasi dengan cara baru dan butuh percepatan agar ruang digital tidak terlalu kotor dengan konten yang tidak bermanfaat.
Masuk ke dunia video pendek bukan berarti mengorbankan kedalaman pesan. Yang berubah bukan ajarannya, melainkan cara membungkusnya. Di era layar vertikal dan durasi 30–60 detik, pesan agama tetap bisa kuat, asal dikemas dengan strategi yang tepat.
Penulis mencoba memberikan beberapa format dakwah video pendek yang terbukti efektif dan relevan dengan tren konten 2026.
- “Satu Ayat, Satu Makna, Satu Aksi”
Durasi: 30–45 detik.
Struktur sederhana:
5 detik pertama: pertanyaan pemantik, 20 detik inti penjelasan, 10 detik ajakan refleksi.
Contoh pembuka:
“Kenapa kita sering merasa gelisah padahal semua terlihat baik-baik saja?”
Lalu masuk ke satu ayat atau hadis yang relevan, jelaskan secara ringkas, dan tutup dengan kalimat reflektif:
“Mungkin bukan kurang harta, tapi kurang syukur.”
Format ini efektif karena langsung menyentuh problem psikologis audiens modern: cemas, overthinking, tekanan hidup. Pesan agama hadir sebagai solusi konkret, bukan sekadar teori.
- “Jawaban 30 Detik untuk Pertanyaan Netizen”
Tren 2026 menunjukkan audiens menyukai konten berbasis pertanyaan nyata. Maka ustaz bisa membaca komentar atau pertanyaan yang sering muncul:
“Ustadz, apakah doa bisa mengubah takdir?”
“Bagaimana cara tetap sabar di tempat kerja yang toxic?”
Jawaban harus lugas, tidak berputar-putar, dan fokus pada inti. Format tanya jawab terasa lebih personal dan dialogis. Audiens merasa didengar, bukan digurui.
Ini juga mendorong interaksi. Algoritma menyukai konten dengan komentar dan percakapan aktif.
- “Cerita 1 Menit yang Menampar Hati”
Storytelling adalah raja konten digital. Ceramah normatif sering kalah oleh cerita emosional. Alih-alih membuka dengan dalil panjang, mulailah dengan kisah:
“Ada seorang pemuda yang setiap malam menangis karena merasa hidupnya gagal…”
Lalu hubungkan cerita itu dengan nilai sabar, tawakal, atau taubat. Di akhir, baru sertakan dalil singkat sebagai penguat.
Format ini bekerja karena otak manusia lebih mudah mengingat cerita dibandingkan ceramah konseptual.
- “Potongan Realita, Tafsir Singkat”
Gunakan peristiwa yang sedang ramai: krisis moral, fenomena flexing, budaya pamer, tekanan kerja, isu keluarga.
Contoh:
“Kenapa sekarang orang lebih takut miskin daripada takut berdosa?”
Lalu beri sudut pandang agama secara tenang dan relevan. Bukan menghakimi, tapi memberi perspektif.
Kuncinya: jangan reaktif dan emosional. Dakwah digital bukan lomba viral karena kontroversi, tetapi konsistensi karena keteduhan.
- “Serial 7 Hari”
Alih-alih membuat satu video panjang, pecah menjadi serial Hari 1: Makna Ikhlas, Hari 2: Tanda Ikhlas, Hari 3: Musuh Ikhlas, dan seterusnya.
Format serial membuat audiens menunggu kelanjutan. Ini membangun loyalitas, bukan sekadar views sesaat.
Apa yang Harus Disiapkan Para Ustadz?
Nah ini yang sangat penting. Transformasi ini tidak bisa setengah hati. Ada beberapa hal mendasar yang perlu disiapkan:
- Mindset Baru
Dakwah bukan hanya di mimbar. Kamera adalah mimbar baru. Layar ponsel adalah majelis baru. kesadaran ini harus dibangun sejak awal kita masuk dunia digital.
- Tim Kecil yang Profesional
Ustaz bukan manusia super hero, dia juga punya kelemahan yang harus ditutup oleh orang lain. Membangun tim dakwah digital sebuah kebutuhan utama. Kalau kita masih berfikir diri sendiri, artinya ustaz ceramah, nyiapin lighting sendiri, rekam sendiri, edit sendiri dan apload sendiri apakah bisa, jawabannya bisa, namun hasilnya tidak optimal.
Bukankah kita menginginkan surga itu harus dengan orang lain, dan masuk surga itu tidak bisa sendirian. cara berfikir yang sama juga digunakan dalam konsep dakwah digital. Kita tidak bisa sendiri dalam mengarungi dunia digital untuk berdakwah. ustaz-ustaz kondang yang berseliweran di tiktok, mempunyai tim digital yang solid.
Penulis menyarankan adanya tik kecil minimal satu orang editor video yang juga bisa melakukan pengambilan gambar, satu orang pengelola media sosial yang memahami strategi konten. Sang penceramah tinggal menyiapkan materi yang cocok dan tren untuk konten.
- Investasi Visual yang Layak
Audio jernih, pencahayaan cukup, framing rapi. Di era visual, kualitas teknis memengaruhi kredibilitas. Sering kali kita berucap yang penting dibuat dulu nanti seiring waktu kalau sudah ramai kita betulin kualitas gambar dan audionya.
Statemen ini memang tidak bisa disalahkan, kalau itu dibicarakan pada saat awal-awal sosial media muncul. Namun hari ini sosial media membutuhkan kualitas baik pada konten, visual maupun audionya. video kita di sosial media tidak sendirian, tapi harus bersaing dengan jutaan video dengan topik yang sama, dan algoritma akan memilih video berkualitas untuk ditawarkan ke penontonnya.
- Konsistensi, Bukan Sekadar Viral
Viral itu bonus. Konsisten itu strategi dalam dakwah. Bukankah dalam dakwah diajarkan untuk sabar yang didalamnya ada konsistensi baik kualitas visual, waktu dan tema.
Jangan Sampai Mimbar Kosong karena Algoritma
Video pendek memang memicu kebiasaan instan. Secara psikologis, paparan cepat dan berulang dapat menurunkan daya tahan fokus. Tetapi justru di situlah dakwah dibutuhkan: menghadirkan jeda, makna, dan kedalaman di tengah arus cepat.
Jika para dai menolak masuk ke ruang digital, maka ruang itu tidak akan kosong. Ia akan diisi oleh konten lain yang belum tentu membawa nilai.
Dakwah digital bukan berarti meninggalkan pengajian panjang. Keduanya bisa berjalan berdampingan. Video pendek menjadi pintu masuk. Kajian panjang menjadi pendalaman.
Umat sudah berpindah ke layar vertikal. Pertanyaannya bukan lagi “perlukah kita masuk?”, tetapi “siapa yang akan mengisi ruang itu dengan hikmah?”
Di era scroll tanpa henti ini, satu menit yang bermakna bisa jadi lebih menyelamatkan daripada satu jam yang tak pernah ditonton. (*)
