Saatnya Menciptakan Artificial Intelligence Muhammadiyah (AIM)

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar pengajian, 23 Januari 2026 lalu. Yang dibahas adalah kemajuan teknologi kecerdasan buatan yang melampaui prediksi. Bagaimana Muhammadiyah mengantisipasi hal ini?

***

Hari ini jutaan orang bertanya soal Islam bukan ke ustaz, tapi ke google, ChatGPT, Gemini, Bing AI atau aplikasi kecerdasan buatan lainnya. Jika manusia sudah berkiblat pada kecerdasan buatan, lantas siapa yang akan menjadi jamaah pengajian Muhammadiyah 10 atau 20 tahun ke depan. Manusia biasa atau Homo Deus (manusia setengah tuhan)?

Itulah pertanyaan awal yang dilontarkan oleh Ismail Fahmi, Ph.D., Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah. Tentu saja pertanyaan itu sangat menyentak. Tetapi jika kita bepikir lebih dalam, memang kenyataannya seperti itu.

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan mendorong umat manusia memasuki babak peradaban baru. Kecerdasan buatan, bioteknologi, dan rekayasa genetika bukanlah imajinasi, melainkan realitas yang membentuk masa depan.

Bahkan hingga muncul konsep “Homo Deus”, yang dipopulerkan oleh Yuval Noah Harari. Homo Deus adalah perkembangan dan transisi manusia dari homo sapiens, makhluk yang mencari makna, menjadi manusia setengah tuhan yang mencoba menciptakan makna dan mengendalikan kehidupan itu sendiri.

Melalui kecerdasan buatan, manusia menciptakan “Homo Deus” yang lebih pintar, lebih handal, melampaui manusia yang menciptakan. Dengan kekuatan teknologi, manusia mulai mengambil alih fungsi yang dulunya dikaitkan dengan kekuasaan Ilahi: mencipta kehidupan, merekayasa moralitas, dan mengatur evolusi.

Namun, di balik pencapaian ini, ada berbagai tantangan etis dan spiritual. Di sinilah agama dan filsafat memainkan peran penting. Di tengah semangat “menjadi tuhan” melalui teknologi, agama mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan berisiko menghancurkan, bukan menyelamatkan.

Lantas bagaimana Muhammadiyah mengambil peran dalam situsi seperti ini. Inilah tantangannya, bagaimana menciptakan AI yang lebih beretika agar dapat memberi manfaat seluas-luasnya kepada umat manusia. Artificial Intelligence Muhammadiyah (AIM) bisa menjadi solusi ke depan.

Muhammadiyah, yang memiliki banyak amal usaha, mulai bidang pendidikan, kesehatan, dan jaringan amal usaha lainnya, punya potensi besar untuk mengembangkan AIM sehingga bisa membantu tugas-tugas untuk memajukan umat.

Muhammadiyah pada posisinya saat ini, harus mendorong terciptanya AI yang berkah dan beretika untuk kemajuan umat. AIM versi Muhammadiyah harus dikembangkan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang aman dan yang bisa bermanfaat.

Fase The Great Transition (2026 – 2029)

Saat ini, manusia berada fase di mana AI menyamai kemampuan rata-rata manusia dalam tugas kognitif, namun belum memiliki kesadaran. Menurut Ray Kurzweil dari Google, bahwa AI akan lulus Turing Test yang valid dan mencapai kecerdasan setara manusia pada tahun 2029.

Demikian juga Sam Altman dari OpenAI, memprediksi bahwa AI mampu mengerjakan 30-40 persen tugas manusia. Pada fase ini, 30-40 persen pekerjaan administratif akan digantikan AI pada tahun 2026.

Pada posisi ini, fatwa Tarjih bisa saja kalah cepat dan kalah viral dibanding “Ustaz AI” atau influencer agama yang kontennya dioptimasi algoritma untuk memicu emosi. Dan yang bahaya, serangan Deepfake menargetkan tokoh Muhammadiyah, dimana ada konten menggunakan wajah tokoh Muhammadiyah yang digerakkan oleh AI, dengan isi konten memelintir ajaran agama dan memicu fitnah yang sulit diklarifikasi secara manual. (*)

Tinggalkan Balasan

Search