Sabar Tak Bertepi, Syukur Tak Terukur

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Hanya dalam hitungan lima hari, kita akan memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah. Sebuah momentum istimewa yang menandai awal baru dalam kalender umat Islam.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita usia yang penuh keberkahan, kesehatan yang terus terjaga, dan hati yang senantiasa dipenuhi keimanan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Dalam hidup ini, tidak ada kebahagiaan yang benar-benar abadi, pun tak ada kesedihan yang selamanya menetap.

Semua datang dan pergi, silih berganti, mengikuti ketetapan dan kehendak-Nya. Setiap detik kehidupan memiliki masanya.

Kadang kita tertawa, lain waktu kita menangis. Itulah siklus kehidupan yang mengajarkan kita untuk selalu bersiap—baik saat di puncak kebahagiaan maupun di dasar kesedihan.

Allah Ta’ala telah menegaskan pentingnya bersabar dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini menjadi penegas bahwa sabar bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan sejati yang mengiringi setiap langkah orang beriman.

Sabar adalah pelindung dari kegelisahan, penahan dari amarah, dan pendamai dari luka-luka jiwa.

Saat kebahagiaan menyapa, sambutlah dengan sederhana namun penuhilah dengan rasa syukur yang dalam.

Karena hakikatnya, apa pun yang kita miliki adalah titipan. Syukur adalah pengingat bahwa segala kenikmatan berasal dari Allah dan sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Allah berfirman:

“Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini memberi kita harapan: bahwa syukur bukan hanya bentuk penerimaan, tapi juga kunci pembuka pintu nikmat yang lebih besar.

Namun, hidup tak selamanya cerah. Ketika kesedihan menghampiri, tak perlu berpura-pura kuat. Menangislah jika memang perlu, tapi jangan larut terlalu lama.

Tangisan itu adalah bentuk kejujuran hati, dan setelahnya, bangkitlah dengan sabar sebagai tamengmu.

Sabar memang tidak selalu mudah, karena dalam prosesnya ada rasa sakit yang menguji keteguhan hati.

Tetapi ingatlah: sabar bukan tentang tidak merasa sakit, tapi tentang tetap teguh walau hati terasa remuk.

Allah pun mengingatkan kita bahwa setiap ujian datang sesuai dengan kapasitas kita untuk menanggungnya. Dalam firman-Nya disebutkan:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebaikan yang diperbuatnya dan mendapat siksa dari keburukan yang dilakukannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Maka, jangan merasa sendirian. Jangan pernah merasa bahwa hidup terlalu berat untuk dijalani. Sebab Allah tahu batas kemampuan kita. Ia lebih dekat dari urat leher kita, dan pertolongan-Nya senantiasa datang kepada hamba yang bersabar.

Sabar yang tak bertepi dan syukur yang tak terukur adalah dua pilar kokoh dalam membangun jiwa yang kuat dan hati yang lapang.

Sabar melatih kita untuk menerima dengan lapang dada. Syukur membiasakan kita untuk mengingat kebaikan-kebaikan, sekecil apa pun itu.

Di tahun baru Hijriah ini, marilah kita memperbarui niat, memperdalam kesabaran, dan memperluas rasa syukur dalam setiap aspek kehidupan.

Sebab, dengan sabar, kita kuat menjalani ujian. Dengan syukur, kita mampu menikmati nikmat dengan penuh kesadaran.

Semoga kita semua mampu mengamalkan nilai-nilai luhur ini—sabar yang tak mengenal batas, syukur yang tak pernah kering—sehingga hidup kita semakin bermakna, bahagia, dan diberkahi Allah di dunia maupun di akhirat. Aamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Search