Ustaz Munahar, M.Pd., Kepala SD Muhammadiyah 6 Surabaya, yang sedang menjalani ibadah umrah, mengingatkan kembali bagaimana perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail as. Di sela-sela waktu luangnya, ia menuliskan sebagai berikut:
***
Banyak orang beranggapan bahwa kunci kekayaan hanyalah bekerja keras. Kalimat “jika ingin kaya, bekerjalah lebih keras” seolah menjadi dogma dalam kehidupan modern. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun jika ditelaah lebih dalam, juga tidak sepenuhnya benar. Faktanya, seringkali antara besarnya usaha dan limpahan rezeki tidak selalu berbanding lurus.
Jika rezeki diperoleh lantaran bekerja keras, maka kerbau pembajak tanah lebih bekerja keras dibanding kita, manusia. Faktanya kerbau juga tidak kaya. Perbandingan antara manusia dengan kerbau, tentu saja tidak aple to aple, namun setidaknya kita akan lebih mudah memahami antara bekerja keras yang tidak musti berbanding lurus dengan rezeki yang didapat.
Kita sering menjumpai realita di sekitar kita: ada orang yang memeras keringat dari fajar hingga petang namun hidupnya pas-pasan. Sementara ada yang tampak lebih tenang namun rezekinya mengalir deras. Mengapa demikian?
Refleksi ini muncul secara mendalam saat kami, rombongan Kepala SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya yang berjumlah 50 orang, menunaikan Sa’i sebagai rangkaian dari ibadah Umrah di Tanah Suci. Di lintasan antara Safa dan Marwa, tersimpan pelajaran besar tentang teka-teki rezeki.
Belajar dari Langkah Ibunda Hajar
Ibadah Sa’i tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan Siti Hajar saat mencari air untuk putranya, Ismail AS, yang sedang kehausan di lembah gersang.
Demi sang buah hati, ia rela berlari bolak-balik dari bukit Safa ke bukit Marwa sebanyak tujuh kali. Jarak sekali jalan sekitar 400 meter, yang jika ditotal mencapai hampir 3 kilometer.
Namun, ada hal yang sangat kontras dalam peristiwa itu:
Ikhtiar: Siti Hajar berlari di antara dua bukit (Safa dan Marwa).
Hasil (Rezeki): Air Zamzam justru memancar di bawah kaki Ismail kecil.
Secara geografis, pusat sumber air Zamzam dengan kawasan bukit Safa-Marwa berjarak sekitar 700 meter. Di sinilah letak pelajarannya: Usahanya di mana, rezekinya muncul di mana.

Usaha adalah Ibadah, Bukan Penentu Rezeki
Peristiwa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa rezeki bukanlah semata-mata hasil matematika dari usaha kita. Rezeki adalah otoritas mutlak Allah Swt yang telah ditetapkan bagi setiap makhluk-Nya.
Lantas, jika rezeki sudah diatur, mengapa kita harus tetap berusaha?
Kita berusaha bukan untuk “menciptakan” rezeki, melainkan untuk beribadah melalui ikhtiar. Niatkan kerja kita sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah Swt untuk mencari karunia-Nya. Dengan demikian, usaha kita akan punya nilai dua: kebaikan dunia dan kebaikan untuk akhirat.
Usaha hanyalah salah satu “pintu”, namun Allah memiliki ribuan pintu lain untuk mengirimkan rezeki kepada kita, di antaranya: Rezeki karena jaminan dari Allah Swt, rezeki karena kehadiran anak, rezeki karena sedekah, rezeki karena menikah, rezeki karena bersyukur, dan rezeki karena ketakwaan dan istighfar.
Menghapus Kesombongan, Menumbuhkan Syukur
Memahami hakikat Sa’i seharusnya menjauhkan kita dari sifat sombong saat Allah menguji kita dengan kekayaan. Seringkali, seorang suami merasa hartanya murni karena kehebatan strategi atau kerja kerasnya. Ia lupa, jangan-jangan rezeki besar itu sejatinya adalah milik istrinya yang di rumah, atau doa anak-anaknya, yang Allah titipkan melalui tangannya.
Ketika kita menyadari bahwa usaha hanyalah “syarat” dan Allah-lah “Penentu”, maka kita tidak akan merasa paling berjasa atas keberhasilan yang diraih. Kita akan lebih rendah hati dan menyadari bahwa setiap rupiah yang kita pegang adalah amanah, bukan sekadar upah dari kelelahan kita.
Oleh karena itu, bekerjalah sekuat tenaga seperti lari kecil Siti Hajar, namun gantungkanlah harapan hanya kepada Pemilik Ka’bah. Karena terkadang, Allah tidak memberi dari apa yang kita kejar, melainkan dari arah yang tidak pernah kita duga. (*)
