Masjid Nurul Huda Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Ranupakis, Kaliboto Kidul, Jatiroto, Lumajang dipenuhi oleh jamaah yang melaksanakan Salat Idulfitri 1446 H, pada Senin (31/3/2025) pagi.
Keputusan untuk melaksanakan salat di dalam masjid diambil oleh takmir masjid setelah hujan mengguyur pada malam sebelumnya, sehingga halaman yang semula direncanakan untuk digunakan menjadi becek dan kurang nyaman.
Salat Id dipimpin oleh Ustaz Ahmad Suheri, Ketua PCM Jatiroto periode 2010-2015, yang bertindak sebagai imam dan khatib. Tema khotbah yang disampaikan kali ini adalah “Terkoyaknya Silaturahmi”, yang berhasil menyentuh hati para jamaah. Beberapa di antara mereka terlihat meneteskan air mata, merenungi makna yang disampaikan.
Sejak pagi buta, jamaah mulai berdatangan ke Masjid Nurul Huda dengan penuh semangat untuk melaksanakan Salat Idulfitri sebagai tanda kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Suara takbir berkumandang dengan syahdu, mengiringi langkah-langkah mereka menuju tempat ibadah.
Ketika salat dimulai, suasana menjadi semakin khusyuk. Ahmad Suheri, yang dikenal dengan bacaan Al-Qur’annya yang indah dan lantunan takbir yang mendalam, memimpin shalat dengan penuh ketenangan. Rakaat demi rakaat dilaksanakan dengan kekhusyukan yang mendalam.
Setelah salat, Ustaz Ahmad Suheri menyampaikan khotbah dengan penuh ketegasan namun tetap menyentuh hati. Ia menyoroti realitas bahwa di tengah kemeriahan Idul Fitri, banyak hubungan persaudaraan dan silaturahmi yang terkoyak akibat perselisihan, kesalahpahaman, atau bahkan hal-hal sepele.

“Berapa banyak di antara kita yang tak lagi saling menyapa hanya karena kesalahpahaman? Berapa banyak yang menghindari keluarga atau sahabat karena perbedaan pandangan? Padahal, Idulfitri adalah momen untuk kembali bersih, saling memaafkan, dan mempererat tali silaturahmi,” ucapnya dengan suara bergetar.
Khotbah yang menyentuh ini membuat banyak jamaah terdiam, larut dalam renungan. Beberapa terlihat meneteskan air mata, merasakan betapa berharganya hubungan silaturahmi yang selama ini mungkin terabaikan.
Setelah khotbah, jamaah saling bersalaman dan berpelukan. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat mencari orang-orang yang mungkin pernah berselisih untuk meminta maaf. Suasana haru meliputi masjid, menambah kekhidmatan perayaan Idulfitri tahun ini.
Salah seorang jamaah, Sumarno, mengungkapkan kesannya, “Saya merasa khutbah tadi benar-benar mengena di hati. Mungkin selama ini saya terlalu keras kepala dalam suatu masalah. Setelah mendengar khotbah tadi, saya sadar bahwa meminta maaf dan memaafkan jauh lebih penting.”
Takmir Masjid Nurul Huda menyampaikan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan shalat dan khutbah Idulfitri tahun ini. Meskipun semalam hujan mengubah rencana lokasi shalat, hal tersebut tidak mengurangi kekhusyukan dan makna perayaan Idulfitri.
Dengan berakhirnya rangkaian Salat Idulfitri ini, diharapkan seluruh jamaah dapat membawa pulang pesan mendalam tentang pentingnya menjaga dan mempererat silaturahmi.
Semoga Idulfitri 1446 H menjadi momentum untuk kembali bersatu dalam ukhuwah Islamiyah yang lebih erat. Taqabbalallahu minna wa minkum, minal ‘aidin wal faizin. (syahrul ramadhan)