*)Oleh: Bahrus Surur-Iyunk
Alumni Pondok Modern Muhammadiyah Paciran Lamongan, Penulis Buku 10 Langkah Menembus Batas Meraih Mimpi (SPK, 2020)
Kemampuan berkomunikasi yang efektif adalah seni yang melibatkan lebih dari sekadar kata-kata. Dalam proses menyampaikan pesan, cara dan niat kita sering kali lebih penting daripada isi yang kita sampaikan.
Dua kalimat bijak menguatkan prinsip ini. Pertama, “Khātibunnas ‘alā qadri ‘uqūlihim”, berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kapasitas pikirannya. Kedua, “Ath-tharīqatu ahammu minal māddah”, cara penyampaian lebih penting daripada isi pembicaraan itu sendiri.
Pesan pertama mengajarkan tentang pentingnya memahami audiens. Tidak semua orang memiliki tingkat pemahaman atau perspektif yang sama. Seperti halnya seorang guru yang harus menyampaikan pelajaran dengan cara berbeda kepada murid SD dibandingkan kepada mahasiswa. Seorang komunikator yang baik akan menyesuaikan pesan dengan latar belakang dan kapasitas penerimanya. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau selalu menyampaikan pesan dengan bahasa yang sesuai dengan kondisi audiens, sehingga setiap orang yang mendengarnya merasa dipahami dan dihormati.
Hal ini juga ditekankan dalam Al-Qur’an, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan dengan bahasa kaumnya agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4). Ayat ini mengajarkan bahwa memahami audiens adalah kunci untuk memastikan pesan dapat diterima dengan baik. Dengan menyesuaikan cara berbicara, kita menghormati kemampuan dan keberagaman manusia.
Pesan kedua, “Ath-tharīqatu ahammu minal māddah,” menekankan bahwa cara penyampaian sering kali lebih menentukan keberhasilan komunikasi daripada isi materi itu sendiri. Kata-kata yang diucapkan dengan empati, ketulusan, dan kehangatan hati memiliki daya yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan sekadar penyampaian fakta secara kaku.
Ruh seorang guru, pemimpin, atau pembicara lebih berpengaruh daripada metode atau materi ajar. Sebuah nasihat yang diberikan dengan kasih sayang akan lebih mudah diterima daripada yang disampaikan dengan nada menghakimi. Sebaliknya, ucapan yang benar tetapi disampaikan dengan cara yang kasar bisa membuat orang menolak kebenaran tersebut.
Hikmah ini relevan dalam setiap aspek kehidupan, baik sebagai guru, pemimpin, orang tua, maupun teman. Saat kita berbicara, kita tidak hanya menyampaikan kata-kata tetapi juga energi dari niat kita. Seperti Rasulullah SAW yang dikenal sebagai uswatun hasanah (teladan terbaik), kita diajarkan untuk menyampaikan pesan dengan kelembutan, kasih sayang dan ketulusan hati.
Menyampaikan dengan hati berarti berbicara dengan niat tulus untuk kebaikan, memahami siapa yang kita ajak bicara, dan memilih cara yang paling tepat. Dengan cara ini, pesan yang kita sampaikan tidak hanya sampai ke telinga, tetapi juga menyentuh hati. Abdullah Ibnu Abbas pernah bilang, “Berbicaralah dengan hati agar bisa diterima dengan hati.” Wallāhu a’lamu. (*)
