Saqifah Bani Sa’idah: Awal Kepemimpinan Umat Islam dan Pengaruhnya Hingga Kini

*) Oleh : Dr. Hairul Warizin
Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad ﷺ adalah pertemuan di Saqifah Bani Sa’idah, sebuah tempat milik Bani Sa’idah dari kaum Anshar di Madinah. Di sinilah berlangsung musyawarah besar yang menentukan arah kepemimpinan umat Islam setelah Rasulullah saw wafat.

Meski berlangsung singkat dan dalam situasi krisis, peristiwa ini memiliki dampak jangka panjang bagi sistem pemerintahan Islam dan dinamika politik umat hingga hari ini.

Sejarah Singkat Saqifah Bani Sa’idah

Saqifah secara harfiah berarti “balai pertemuan beratap”, dan Saqifah Bani Sa’idah adalah tempat berkumpulnya kaum Anshar dari Bani Sa’idah.

Setelah Rasulullah saw wafat pada 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 H (632 M), umat Islam mengalami kekosongan kepemimpinan yang mendesak untuk segera diisi.

Kaum Anshar berkumpul di Saqifah untuk mendiskusikan siapa yang layak menggantikan Rasulullah saw sebagai pemimpin umat (khalifah).

Mereka sempat mencalonkan Sa’ad bin Ubadah, seorang tokoh terkemuka dari kalangan mereka. Namun, begitu para sahabat Muhajirin, termasuk Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Jarrah mendengar tentang pertemuan itu, mereka segera hadir dan bergabung dalam diskusi.

Dalam diskusi yang intens namun damai itu, akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq dibaiat sebagai khalifah pertama umat Islam.

Proses ini menjadi cikal bakal dari sistem khilafah dalam Islam, yang kemudian dilanjutkan oleh Umar, Utsman, dan Ali.

Nilai-Nilai Penting dari Saqifah

Pertama, Musyawarah sebagai Prinsip Dasar Politik Islam.

Saqifah menunjukkan pentingnya musyawarah (syura) dalam menentukan kepemimpinan umat. Meski Nabi tidak menunjuk secara eksplisit siapa penggantinya, para sahabat menggunakan prinsip syura untuk memilih pemimpin terbaik dari sisi keimanan, pengalaman, dan kedekatannya dengan Rasulullah saw.

Al-Qur’an menggarisbawahi prinsip ini:

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (perintah) Tuhan mereka dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…” (QS. Asy-Syura: 38)

Kedua, Prioritas Persatuan Umat

Keputusan di Saqifah bukan tanpa perbedaan pendapat. Namun, demi menjaga keutuhan umat, tokoh-tokoh Islam saat itu menyingkirkan ego golongan demi satu tujuan bersama: menjaga keberlangsungan misi Islam. Inilah pelajaran besar tentang persatuan di tengah potensi konflik.

Pengaruh Saqifah Bani Sa’idah dalam Perkembangan Islam Dewasa Ini

Awal Konsep Pemerintahan Islam

Peristiwa di Saqifah menjadi fondasi bagi pemikiran politik Islam klasik. Dari sinilah muncul gagasan tentang khilafah, yang berkembang menjadi berbagai model kepemimpinan seperti kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah.

Inspirasi Bagi Demokrasi Islami

Meski berbeda dari demokrasi Barat, proses pemilihan di Saqifah memiliki semangat partisipatif dan konsultatif. Banyak intelektual Muslim kontemporer menjadikan Saqifah sebagai argumen bahwa Islam tidak menolak konsep pemerintahan yang berbasis musyawarah, keterwakilan, dan akuntabilitas.

Relevansi dalam Tantangan Politik Umat Kini

Di tengah fragmentasi politik dan konflik internal umat Islam saat ini, semangat Saqifah bisa menjadi inspirasi: menyatukan umat dalam bingkai ukhuwah, membangun kepemimpinan yang adil, dan menempatkan maslahat umat sebagai tujuan utama.

Saqifah Bani Sa’idah bukan sekadar tempat historis, tetapi simbol awal transisi kekuasaan dalam Islam yang sarat dengan nilai musyawarah, persatuan, dan tanggung jawab. Pemahaman dan penghayatan terhadap peristiwa ini sangat penting dalam upaya membangun sistem kepemimpinan yang kuat dan berkeadaban dalam Islam kontemporer.

Sudah saatnya umat Islam menggali kembali spirit Saqifah, bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai inspirasi dalam membangun masa depan peradaban Islam.

Referensi:

  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Al-Tabari. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Maktabah Dar al-Ma’rifah.
  • Muhammad Hamidullah. The Political System of the Prophet. Lahore: Sh. Muhammad Ashraf.
  • Ali Abdul Raziq. Al-Islam wa Usul al-Hukm.
  • As-Sallabi, Dr. Ali Muhammad. Abu Bakar ash-Shiddiq: Kisah Hidup dan Perjuangannya.
  • Azyumardi Azra. Islam Substantif. Jakarta: Mizan, 2000.

Tinggalkan Balasan

Search