Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan mengandalkan sistem Satu Data Kesehatan Jemaah untuk memantau kondisi kesehatan jemaah haji secara menyeluruh selama operasional haji 1446 H/2025 M. Sistem ini menjadi tulang punggung layanan medis, memungkinkan intervensi cepat dan tepat di tengah padatnya ibadah serta tantangan cuaca ekstrem di Tanah Suci.
“Melalui sistem satu data kesehatan, kami dapat memantau kondisi jemaah secara real-time sejak dari embarkasi hingga di Arab Saudi. Ini merupakan bagian dari transformasi layanan haji yang lebih adaptif, responsif, dan personal,” ujar Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, Liliek Marhaendro Susilo, dalam konferensi pers Kabar Haji untuk Indonesia di Jakarta, Selasa (13/5/2025).
Sistem ini menghimpun berbagai data penting seperti rekam medis jemaah, catatan komorbid, hasil pemeriksaan kesehatan, hingga riwayat intervensi medis. Data tersebut terintegrasi antar tim kesehatan di kloter, sektor, hingga Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), sehingga petugas dapat mengambil keputusan berbasis informasi yang akurat dan terkini.
“Dengan data ini, kami bisa mengidentifikasi siapa saja yang membutuhkan pemantauan ketat, pembatasan aktivitas, hingga rujukan ke fasilitas layanan lebih lanjut,” jelas Liliek.
Ia menambahkan bahwa sistem ini juga mendukung edukasi kesehatan yang lebih terarah dan efektif, sesuai dengan kondisi individu jemaah.
“Tidak semua jemaah memiliki risiko yang sama. Dengan satu data, pendekatan yang diberikan bisa disesuaikan, apakah untuk jemaah sehat, komorbid, atau lansia,” katanya.
Saat ini, kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia masih relatif stabil. Namun, Liliek mengingatkan bahwa puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) akan menjadi tantangan besar dari sisi fisik maupun mental. Ia mengimbau jemaah untuk menjaga kebugaran, cukup istirahat, menghindari paparan panas berlebih, serta mengikuti arahan tim kesehatan.
“Layanan kesehatan kami siaga 24 jam. Petugas di kloter, sektor, hingga KKHI telah dibekali data serta peta risiko jemaah, sehingga seluruh tindakan bisa lebih terukur dan cepat,” ujarnya.
Dalam aspek pencegahan penyakit menular, Kemenkes juga memastikan seluruh jemaah haji reguler telah menerima vaksin meningitis dan polio.
“Sebanyak 203.410 dosis vaksin polio dan 211.751 dosis vaksin meningitis telah disiapkan. Vaksin polio tetap diwajibkan sebagaimana ditegaskan Menteri Kesehatan Arab Saudi saat berkunjung ke Indonesia,” terang Liliek.
Dengan dukungan teknologi data yang kuat dan komitmen pelayanan di lapangan, pemerintah berharap jemaah haji Indonesia dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman, sehat, dan khusyuk.
“Satu Data bukan sekadar sistem, tetapi wujud nyata ikhtiar negara dalam menjaga keselamatan setiap jemaah,” pungkas Liliek. (afifun nidlom)
