Jelang liburan akhir tahun, SD Muhammadiyah 6 (SD Musix) Gadung Surabaya menggelar pelatihan layanan prima (excellent service) bertajuk Al-Qur’an Berkelas, Pembelajaran Tuntas, dan Pelayanan Tanpa Batas, pada Rabu (9/7/2025).
Kegiatan ini digelar sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada para siswa dan orang tua.
Pelatihan yang digelar menjelang tahun ajaran 2025-2026 dan diperuntukkan guru dan karyawan berserta guru Al-Qur’an di lingkungan SD Musix ini, dihadiri langsung Ketua PCM Wonokromo Surabaya Ir. H. Lukman Rahim dan Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PCM Wonokromo Luluk Humaidah S.Pd.I.
Selain itu, pelatihan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain: trainer service excellent Laila Nurul Rahmawati, S.K.M.; trainer Ummi Foundation Hadziq Asy Syairofi, S.H.I.; A. Mufti Hidayat, M.H.; Ustaz Syarif Hidayatullah Chaniago, S.Pd.I; serta Angger Pratamadita W. sebagai trainer Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).)
Selain menghadirkan narasumber dari luar, kegiatan ini juga akan dimeriahkan oleh pemateri internal yang akan mendiseminasikan hasil pelatihan deep learning yang sebelumnya mereka ikuti, yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur. Mereka adalah Puspita Wati, S.Pd. (Kaur Sumber Daya Insani/SDI), Anisa Herawati, S.Pd.I. (Kaur Kurikulum), dan Hidayatun Ni’mah, M.Pd. (Kaur Kesiswaan).
“Jika Anda berbuat menyenangkan kepada pelanggan, mungkin akan diceritakan kepada 6 orang saja. Tetapi kalau Anda berbuat tidak menyenangkan, maka akan diceritakan 6.000 orang,” ujar Lala, panggilan akrab Laila Nurul Rahmawati, mengutip pendapat Jeff Bezos, pendiri amazon.com
Untuk itu, sambung dia, sudah selayaknya belajar, bagaimana caranya memuaskan customer SD Musix..
Selanjutnya, Lala menyampaikan tiga solusi pelayanan prima. Pertama, mindset melayani dengan sehat, melayani seoptimal mungkin, sepenuh hati, ikhlas, tulus.
Kedua, senyum dengan tulus tidak dibuat-buat. Tulus tanpa berharap imbalan. Ketiga, tidak menyimpan emosi berlarut-larut, tidak mudah tersulut emosi.
Menurut dia, customer itu ada dua kelompok, yaitu internal dan eksternal. “Internal itu adalah murid-murid kita, guru-guru, dan karyawan. Sedangkan eksternal itu di antaranya wali murid, masyarakat luas, dan seluruh tamu kita,” tuturnya.
“Pada intinya, untuk memberikan pelayanan prima kita harus murah senyum dengan rumus 2-2-7, dua lebar centi meter kanan dan kiri selama tujuh detik,” beber dia.
Selanjutnya, Lala meminta kepada seluruh peserta untuk menulis pada selembar kertas yang sudah disiapkan di meja masing-masing, tiga kekurangan dan kelebihan setiap peserta.
“Saya beri waktu 10 detik, silakan tulis kelebihan dan kekurangan ustadz dan ustadzah sekalian!” pintanya
Setelah waktu habis, secara radom Lala meminta peserta untuk menyampaikan di depan.
“Kekurangan saya itu rasa khawatir yang berlebihan dan tidak mudah melupakan suatu peristiwa. Kelebihan saya, memiliki komunikasi yang baik dengan wali murid. Di samping itu juga bersedia mendengar curhatan baik wali murid maupun siswa,” ujar Lia Arviska Pratiwi, SPd, guru Kelas 5-A
“Insya Allah saya juga sangat menghargai gaya belajar siswa,” sambung dia.
Seiring berjalannya pelatihan, khususnya pada sesi Pelayanan Tanpa Batas, salah seorang peserta yang baru diterima sebagai guru kelas 1 ICP merasakan manfaatnya secara langsung.
“Saya berharap melalui pelatihan ini, saya bisa menjadi guru kelas yang berkarakter dan mampu mengelola emosi dengan baik,” ujar Hana Azizah dengan penuh semangat.
Melengkapi ceramahnya, pengasuh acara salah satu radio swasta di Surabaya ini, mengajak para peserta untuk melepaskan perasaan negatif dengan menerapkan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).
Untuk menambah kekhidmatan suasana, pemateri memadamkan lampu dan hanya membiarkan instrumen musik lembut terdengar, menciptakan keheningan yang menenangkan.
“Sesi ini bertujuan untuk terapi emosi dan fisik, membantu mengurangi keluhan rasa sakit fisik maupun yang disebabkan oleh tekanan emosional,” ujarnya.
Teknik yang digunakan adalah tapping, yakni mengetuk titik-titik tertentu pada tubuh yang diyakini sebagai jalur energi, sambil mengucapkan afirmasi positif.
Sesi ini begitu membekas di hati peserta. Mereka larut dalam emosinya, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata, dan beberapa tampak menangis histeris.
Menutup sesinya, Laila menyampaikan ucapan terima kasih dan membuka ruang bagi peserta yang ingin berbagi atau mencurahkan isi hatinya. (basirun)
