Menjadi orang tua adalah anugerah sekaligus amanah. Tapi seringkali, dalam perjalanannya mendampingi anak, kita terjebak pada peran yang keliru. Lebih banyak menuntut daripada menuntun.
Menuntun: Jalan yang mendidik
Menuntun berarti:
• Memberi teladan dalam nilai dan perilaku.
• Membimbing dengan kesabaran, bukan sekadar memberi instruksi.
• Menemani proses belajar anak dengan kasih dan pengertian.
• Menanamkan nilai, bukan hanya menciptakan kepatuhan.
Menuntut: Bisa membentuk atau membebani
Menuntut bisa berarti:
• Mendorong anak mencapai potensi, jika dilakukan dengan adil.
• Tetapi juga bisa membuat anak merasa tidak cukup, jika tanpa empati.
• Bisa mendorong prestasi, namun berisiko menekan mental jika ekspektasi terlalu tinggi atau tidak komunikatif.
Dalam pendekatan Islam dan pendidikan, Rasulullah ﷺ mencontohkan menuntun dengan penuh hikmah dan kasih, bukan menuntut dengan keras. Bahkan dalam Surah Taha ayat 44, Allah menyuruh Musa dan Harun untuk menyampaikan dakwah biqaulin layyin—dengan kata-kata yang lembut—kepada Firaun sekalipun.
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى
Terjemah Kemenag 2019
44. Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”
Menuntun anak dengan baik adalah seni yang memadukan cinta, hikmah, dan konsistensi. Ini bukan hanya soal arah yang kita berikan, tetapi juga tentang cara kita berjalan bersama mereka.
Prinsip Menuntun Anak Secara Bijak
1. Teladan Lebih Kuat dari Kata
• Anak meniru lebih dari mendengar. Jika ingin anak jujur, orang tua perlu menunjukkan kejujuran dalam keseharian.
2. Bangun Kedekatan yang Hangat
• Luangkan waktu tanpa agenda: main bareng, ngobrol santai, hadir sepenuh hati.
• Anak yang merasa dicintai dan didengar lebih terbuka terhadap arahan.
3. Gunakan Bahasa yang Lembut dan Bermakna
• Seperti dalam Surah Taha ayat 44: “faqula lahu qawlan layyinan” — bahkan kepada
Firaun, Allah perintahkan kata-kata yang lembut.
• Hindari menyalahkan langsung, gantikan dengan pertanyaan reflektif: “Menurutmu, pilihan itu baik nggak ya?”
4. Pahami Tahapan Usia dan Psikologi Anak
• Anak usia dini butuh pengulangan dan suasana bermain.
• Remaja perlu ruang untuk berdialog, bukan hanya disuruh.
5. Koneksi Dulu, Koreksi Kemudian
• Saat anak sedang emosi atau melakukan kesalahan, tenangkan dulu, baru arahkan.
• Menuntun bukan soal membenarkan segera, tapi membentuk proses berpikir.
6. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan
• Anak yang dilibatkan merasa dihargai dan lebih bertanggung jawab.
Kita ingin mereka cepat bisa, tanpa memberi ruang untuk belajar pelan pelan. Kita ingin mereka menurut, tanpa menegrti mengapa mereka menolak.
Kita ingin mereka sukses, tapi lupa bahwa jalan setiap anak tak harus sama seperti yang kita inginkan
Padahal anak bukan mesin pencetak harapan orang tua. Mereka adalah manusia kecil yang sedang mencari arah , yang butuh di tuntun dengan sabar, buka di tuntut dengan tekanan.
Menuntut membuat kita mudah marah saat anak tak sesuai harapan. Tapi menuntun akan menjadikan kita lebih sabar, menyemangati saat mereka salah arah.
Menuntut hanya memandang hasil. Tapi menuntunn hadir dalam proses. Menuntut menciptakan jarak. Tapi menuntun membangun kedekatan.
Anak butuh contoh bukan sekedar perintah. Butuh pelukan saat gagal. Bukan hanya acungan jempol saat berhasil.
Butuh ditemani dalam pencarian jati diri, bukan diburu agar cepat jadi sesuai dengan versi ideal kita.
Maka jadilah penuntun yang berjalan di samping mereka, bukan pendorong yang hanya menyuruh dari belakang. Karena sejatinya, orang tua adalah kompas, bukan peta yang memaksa. Penunjuk arah, bukan pengendali semua langkah.
Wahai kita orang tua ……………
Jika engkau ingin anakmu tumbuh dalam cinta, maka bimbinglah ia dengan sabar bukan dengan bentakan. Sebab anak tak tumbuh dari tuntutan, tapi dari tuntunan yang penuh keteladanan. (by Rofiurclay). (*)

Tulisan ini bagus dan inspiratif. Jazakallah.