*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
Kisah ini terjadi menjelang perang Tabuk. Peperangan yang terjadi ketika kaum muslimin dalam masa paceklik. Di sinilah kisah Ulbah bin Zaid muncul dalam sejarah. Rasulullah mengabarkan kepada para sahabat tentang tujuan dan rencana melaksanakan peperangan di daerah Tabuk, sebuah daerah yang sangat jauh saat itu.
Mendengar seruan jihad ini, maka kaum muslimin berbondong-bondong datang memenuhi kota Madinah. Rasulullah mengajak para dermawan untuk menginfakkan harta mereka untuk bekal bagi pasukan kaum muslimin menuju medan perang. Peristiwa ini disebut Jaisyul ‘Usrah.
Ulbah bin Zaid, dari suku Anshar dari kabilah Aus, adalah seorang yang fakir, dan tak punya benda yang diinfakkan. Ia hanya bisa menyaksikan kaum muslimin mempersiapkan kelengkapan perang, seperti baju besi, pedang, panah, tombak, unta, kuda, dan lain-lain. Ia menyaksikan semua itu dengan kesedihan mendalam.
Pagi itu Ulbah bin Zaid mendengar Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mempersiapkan Jaisyul ‘Usrah, untuknya surga.” (HR Bukhari)
Panas dingin rasa badannya mendengar sabda Nabi, apa lagi dalam peperangan ini Rasulullah tidak menerima mujahid kecuali yang punya kendaraan dan perlengkapan perang. Ulbah melihat Rasulullah duduk dikelilingi sahabat. Tiba-tiba Abu Bakar datang membawa uang 400 dirham, diserahkan kepada Rasulullah untuk keperluan perang. Umar datang dengan setengah hartanya 1000 dinar, disusul Abdurrahman bin Auf, dan sahabat lainnya.
Melihat itu, pulanglah Ulbah dengan kesedihannya. Lalu ia pun berwudhu, shalat, lalu berdoa, “Ya Allah, Engkau memerintahkan berjihad, sedangkan Engkau tidak memberikan aku sesuatu yang dapat aku bawa berjihad bersama Rasul-Mu, dan Engkau tidak memberikan di tangan Rasul-Mu sesuatu yang dapat membawaku berangkat, maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari semua perbuatan dzalim mereka terhadap diriku dari perkara harta, raga, dan kehormatan.”
Pagi harinya, ia mengikuti shalat subuh bersama Rasulullah. Telah ia lupakan air mata yang tumpah di atas sajadah. Tetapi Allah tidak menyia-nyiakannya, Ia kabarkan semuanya kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril. Selesai shalat, Rasulullah bersabda, “Siapa yang tadi malam bersedekah? Hendaklah berdiri.”
Tidak ada seorang pun dari sahabat yang berdiri, tidak pula Ulbah. Ulbah pun tidak merasa bahwa ia telah bersedekah.
Lau Rasulullah mendekatinya dan berkata, “Bergembiralah Ulbah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya sedekahmu tadi malam telah ditetapkan sebagai sedekah yang diterima.”
Alangkah bahagianya Ulbah, doa yang ia langitkan tadi malam sebenarnya adalah upaya dari orang miskin yang tidak punya harta. Kiranya Allah mendengar rintihannya. Kisah ini memberikan pelajaran bahwa jika kita tidak memiliki harta, sumbangkanlah tenaga. Jika tidak mampu, membantu dengan doa pun bagian dari kebaikan.
Wallahu a’lam bishshawab. (*)
