Kampus B Universitas Airlangga (Unair) tampak lengang, sore itu. Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit Surabaya dengan semburat jingga yang temaram.
Lorong-lorong yang biasanya ramai oleh langkah mahasiswa kini hanya memantulkan suara sepatu dari satu dua orang yang melintas. Di kafetaria, beberapa mahasiswa duduk sembari menatap layar gawai atau bercengkerama pelan.
Di sudut lain, seorang mahasiswa tampak tekun membaca di bawah pohon rindang dan gazebo. Kampus seolah sedang menarik napas panjang setelah riuhnya aktivitas siang hari.
Hari itu, saya punya janji bertemu dengan Prof. Purnawan Basundoro, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair sekaligus seorang sejarawan yang kerap tampil dalam berbagai diskusi publik tentang sejarah Kota Surabaya dan gerakan rakyat.
Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan, terutama seputar sejarah—bidang yang sangat lekat dengan kesehariannya.
Saya tiba lima belas menit lebih awal dari jadwal pertemuan, pukul 15.00 WIB. Di depan ruangannya yang tertutup, saya mengabarkan lewat pesan bahwa saya sudah berada di lokasi.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Sosok Prof. Purnawan muncul dengan senyum hangat. Ia menyapa ramah, lalu mempersilakan saya masuk ke salah satu ruang rapat kecil di lingkungan FIB.
Ruang itu tidak besar. Mungkin sekitar dua kali tiga meter persegi. Sebuah meja panjang mendominasi ruang, dikelilingi beberapa kursi kerja.
Di sudut ruangan terdapat sebuah TV layar datar yang, menurutnya, biasa dipakai untuk presentasi rapat atau pertemuan dosen. Meski sederhana, suasana ruangan terasa akrab dan fungsional.
“Di ruangan ini, saya sering menerima tamu. Termasuk teman-teman dari Muhammadiyah,” ujar Prof. Purnawan, sembari mempersilakan saya duduk.
Saya pun menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. Suasana di dalam ruangan terasa tenang. Tak banyak hiasan di dinding. Namun justru dari kesederhanaan itulah, percakapan kami mengalir tanpa sekat.
Prof. Purnawan terlihat santai, tapi matanya menunjukkan antusiasme. Dia tahu, obrolan kami akan membahas sesuatu yang menjadi nafas intelektualnya selama ini: sejarah.
***

Saya mengenal Prof. Purnawan Basundoro sekitar Oktober 2018. Malam itu, selepas Isya, saya sedang nongkrong di Lodji Besar, sebuah kafe bernuansa kolonial di Jalan Makam Peneleh, Surabaya.
Tempat itu kerap jadi persinggahan para pegiat sejarah, seniman, hingga aktivis kebudayaan. Kebetulan, pemiliknya, Kuncarsono Prasetyo, adalah teman akran. Dulu sering liputan bareng saat sama-sama menjadi wartawan.
Malam itu, berasa istimewa karena tiba-tiba saja saya bertemu dengan dalang Ismail Nachu, pengusaha, budayawan, sekaligus pengurus pusat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Cak Mail, begitu saya biasa memanggilnya, tak datang sendiri. Dia mengajak dua orang temannya: Prof. Fachry Ali, intelektual Muslim ternama, dan Prof. Purnawan Basundoro yang saat itu baru saya kenal.
Obrolan kami tak lama-lama di kafe. Mereka rupanya punya satu tujuan: ingin melihat langsung Rumah Kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean IV. Lokasinya hanya sekitar 150 meter dari Lodji Besar.
Kami pun berjalan kaki menuju lokasi. Di sepanjang jalan, Prof. Purnawan sesekali menoleh ke kanan-kiri, memperhatikan bangunan tua dan lorong-lorong sempit yang menyimpan jejak masa lalu Surabaya.
Namun, setiba di depan rumah kelahiran Bung Karno, kami mendapati pintu terkunci. Rumah itu memang masih menjadi hunian pribadi saat itu. Belum difungsikan sebagai ruang publik.
Baru pada 6 Mei 2023, rumah sederhana yang sarat nilai sejarah itu resmi diresmikan sebagai museum oleh Pemerintah Kota Surabaya. Kini, masyarakat dapat mengunjungi dan menyaksikan langsung tempat kelahiran sang proklamator bangsa.
Namun malam itu, kami hanya bisa berdiri di balik pintu yang terkunci. Memandanginya dari luar. Setelah beberapa saat, kami pun berfoto bersama di depan rumah.
Setelah pertemuan itu, saya cukup lama tidak bertemu dengan Prof. Purnawan. Kami kembali bersua pada tahun 2022, dalam proses penyusunan Buku Ensiklopedia Sejarah dan Budaya Surabaya.
Saat itu, saya menjadi salah satu dari sepuluh penulis yang terlibat, sementara Prof. Purnawan bertindak sebagai koordinator penyusunan. Alhamdulillah, Buku Ensiklopedia Sejarah dan Budaya Surabaya itu kelar, dan dilaunching di Balai Pemuda Surabaya pada 23 Desember 2022.
***

Sejarah Muhammadiyah sangat penting untuk didokumentasikan, karena ia merupakan goresan perjuangan dari waktu ke waktu. Jejak dakwah, pendidikan, dan sosial Muhammadiyah membentang lebih dari satu abad.
Di balik setiap langkah dan keputusan, terdapat pergulatan ide, semangat pembaruan, dan keberanian melawan arus zaman. Tanpa dokumentasi yang kuat, warisan nilai itu bisa hilang, terlupakan, atau hanya tinggal serpihan ingatan.
Begitu pula dengan Prof. Purnawan. Ia selalu menekankan pentingnya kader-kader Muhammadiyah untuk aktif mendokumentasikan sejarah persyarikatan.
Menurutnya, penulisan sejarah tidak boleh hanya berhenti pada tokoh-tokoh besar atau peristiwa nasional semata, tetapi juga harus menggali cerita-cerita dari akar rumput—dari ranting, cabang, hingga daerah.
“Belum banyak yang ditulis. Yang saya tahu baru di PCM Ngagel yang sudah memiliki buku,” ujarnya dengan nada prihatin namun penuh harapan.
Saya mengamini pernyataan itu. Kepada Prof. Purnawan, saya bercerita tentang beberapa situs bersejarah yang sempat saya kunjungi dan dokumentasikan. Salah satunya adalah Masjid Taqwa, peninggalan KH. Mas Mansur yang terletak di Jalan Kalimas Udik.
Saya juga menyebut Masjid Da’wah di Jalan Blauran Kidul, tempat yang dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya).
Tak ketinggalan, saya menyampaikan kisah tentang Masjid Bahagia di Jalan Makam Peneleh, peninggalan saudara-saudara Muhammadiyah yang kini berfungsi sebagai kantor Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Genteng.
Mendengar cerita-cerita itu, Prof. Purnawan tampak begitu antusias. Dia bahkan mendorong saya untuk melanjutkan penelusuran, mencari lebih banyak lagi objek yang dapat menjadi pintu masuk penulisan sejarah lokal Muhammadiyah.
Bagaimanapun juga, sejarah tidak hanya ditulis untuk dikenang, tetapi untuk menginspirasi generasi selanjutnya agar tidak kehilangan jejak—bahwa perjuangan itu nyata, dimulai dari masjid-masjid kecil, rumah-rumah sederhana, dan tekad kuat orang-orang yang memilih jalan dakwah.
Dokumentasi sejarah lokal seperti ini merupakan bagian penting dari narasi besar yang belum selesai dituliskan. Ia adalah potongan-potongan kecil yang membentuk mosaik perjuangan Muhammadiyah secara utuh, dari akar hingga puncaknya.
Tak terasa, hampir dua jam kami larut dalam percakapan yang penuh semangat dan kesadaran sejarah. Saat pertemuan harus diakhiri, kami tahu ada sesuatu yang tak boleh dibiarkan tertunda lebih lama.
Sejarah lokal Muhammadiyah tidak bisa terus menunggu untuk dituliskan. Ia harus diselamatkan dari pelupaan, dirawat dalam ingatan, dan diabadikan dengan pena yang jujur.
Sebab, bila kita lengah, jejak-jejak itu bisa hilang selamanya. Padahal, di sanalah akar kekuatan kita bertumbuh. (*)
