Sejarah Tarawih, dari Kekhawatiran Rasulullah hingga Inovasi Umar bin Khattab

ilustrasi: salat tarawih berjamaah.
*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Banyak orang mengira salat tarawih berjamaah sebulan penuh di masjid sudah berlangsung rutin sejak masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Faktanya, sejarahnya tidak sesederhana itu. Ada fase kehati-hatian Nabi, ada masa transisi, dan ada keputusan penting di era kepemimpinan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

“Lho, bukannya dari dulu tarawih memang berjamaah?”

Tunggu dulu…

Mari kita mundur ke Madinah, sekitar tahun ke 2 Hijriah. Saat itu, ibadah ini belum disebut tarawih, melainkan Qiyam Ramadan (salat malam Ramadan). Puasa Ramadan baru saja diwajibkan. Suatu malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berdiri salat di masjid. Sendirian.

Beberapa sahabat saling lirik. “Eh… Nabi salat malam di masjid.”

Mereka pun ikut berdiri di belakang beliau. Tidak ada pengumuman. Tidak ada ajakan resmi. Hanya spontan ikut. Keesokan harinya kabar itu menyebar cepat.

“Malam tadi Nabi salat berjamaah lho.”

Malam kedua jamaah bertambah. Dilanjutkan malam ketiga, masjid hampir penuh. Orang-orang menunggu dengan penuh harap.

“Nanti malam Nabi keluar lagi nggak ya?” Mereka menunggu, dan terus menunggu.

Tapi pintu rumah Nabi tetap tertutup. Ada yang berdehem kecil. Ada yang batuk-batuk pelan. Bahkan ada yang melempar kerikil kecil ke arah pintu, mengira beliau tertidur.

Sunyi…

Sampai akhirnya adzan subuh berkumandang. Pagi itu, setelah salat subuh, Nabi membalikkan badan, dan menjelaskan.

“Aku tahu apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian, kecuali aku khawatir salat ini akan diwajibkan atas kalian.” (HR Bukhari no. 1129 dan Muslim no. 761)

Para sahabat terdiam. Jadi… Nabi sengaja tidak keluar?

Iya. Bukan karena lelah. Bukan karena tidak mau. Tapi karena cinta.

Saat itu wahyu masih turun. Jika beliau terus memimpin salat malam berjamaah, bisa saja Allah mewajibkannya. Dan jika sudah wajib, itu akan menjadi beban berat bagi umat pada masa depan.

Sejak malam itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih salat malam di rumah. Para sahabat tetap menghidupkan malam Ramadan, tapi sendiri-sendiri atau kelompok kecil. Begitulah keadaan sampai beliau wafat.

Beberapa tahun berlalu. Kini kita ke masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhut. Suatu malam Ramadan, Umar masuk ke masjid. Ia melihat pemandangan yang unik. Di satu sudut ada yang salat sendiri. Di sisi lain ada tiga orang berjamaah. Di belakang ada lima orang dengan imam berbeda. Suara bacaan Al-Quran saling bersahutan. Syahdu…tapi tidak teratur.

Umar berdiri memperhatikan. Jiwa kepemimpinannya terusik. Beliau berkata, “Menurutku, kalau mereka dikumpulkan di bawah satu imam, itu akan lebih baik.”

Keputusan pun diambil. Umar menunjuk Ubay ni Ka’ab sebagai imam tetap. Malam berikutnya, pemandangannya berubah total. Satu barisan panjang. Satu imam. Satu suara. Masjid terasa hidup dan tertib. Melihat itu, Umar tersenyum, lalu mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi terkenal.

“Ni’matul bid’ah hadzihi.” “Sebaik-baik inovasi adalah ini.”

Bukan menciptakan syariat baru. Bukan menambah kewajiban. Tetapi merapikan sesuatu yang pernah dicontohkan Nabi, lalu dilembagakan agar umat bersatu.

Lalu kenapa disebut tarawih

Kata ini berasal dari “tarwihah“, yang artinya istirahat. Dulu, salat sahabat itu sangat panjang. Mereka membaca ratusan ayat dalam satu rakaat hingga kaki bengkak, dan harus bertumpu pada tongkat. Karena lelahnya, setiap selesai 4 rakaat (2 kali salam), mereka duduk istirahat dulu.

Di jeda istirahat itulah mereka minum, meluruskan kaki, atau sekedar bertahan sunah mengelilingi Kakbah. Karena banyaknya waktu istirahat inilah salatnya disebut salat tarawih. Dan kebiasaan istirahat itulah muncul nama “Tarawih“.

Berbeda dengan zaman sekarang yang sering kali menjadi ” Tarawih Ekspres”. Istirahatnya hilang, tinggal gerakan cepatnya saja.

Jadi, ketika nanti kita berdiri dalam shaf Tarawih, ingatlah:

Di sana ada kasih sayang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ingin memberatkan umatnya. Di sana ada kebijakan Umar bin Khattab yang menyatukan umat dalam satu barisan.

Tarawih bukan sekedar salat malam Ramadan. Di sana ada cerita tentang cinta dan kepemimpinan. ||Disampaikan dengan tadabbur dari Shahih Bukhari no. 1129 dan Muslim no. 761)

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search