Sekjen MUI Dr. Amirsyah Tambunan: Muhammadiyah Aset Bangsa, Harus Dijaga Bersama

Sekjen MUI Dr. Amirsyah Tambunan: Muhammadiyah Aset Bangsa, Harus Dijaga Bersama
www.majelistabligh.id -

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang juga Ketua MPW PP Muhammadiyah, Dr. Amirsyah Tambunan, memberikan tausiyah dalam acara Peresmian SMK Muhammadiyah Cabang Belawan dan peletakan batu pertama pembangunan SMP Muhammadiyah di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Belawan, Selasa (8/7/2025).

Mengawali tausiyahnya, Amirsyah menyampaikan pantun yang mengandung pesan semangat menuntut ilmu sejak dini:

Pergi ke pantai melihat laut biru,
Pemandangannya indah membuat hati penuh warna.
Engkau masih kecil tuntutlah ilmu,
Sebagai bekal kelak saat dewasa.

Dalam ceramahnya, Amirsyah menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan hanya milik warganya, melainkan aset bangsa yang harus dijaga bersama. Ia menekankan bahwa jika ada pihak yang mengganggu Muhammadiyah, maka seluruh bangsa Indonesia wajib ikut bertanggung jawab.

Tiga alasan utama yang disampaikannya:

Muhammadiyah adalah aset bangsa, berdiri sejak 1912, didirikan oleh KH Ahmad Dahlan yang juga merupakan pahlawan nasional. Organisasi ini telah melahirkan banyak tokoh penting dalam sejarah bangsa.

Banyak tokoh besar lahir dari Muhammadiyah, seperti Panglima Besar Jenderal Soedirman (alumni dan guru Muhammadiyah), Buya Hamka (Ketua Umum MUI pertama), dan Ki Bagus Hadikusumo (perumus Pancasila).

Muhammadiyah milik bersama, sehingga tidak boleh disalahgunakan, apalagi dirusak. Menurutnya, jika ada tuduhan penyerobotan aset tanah oleh Muhammadiyah, hal itu mustahil dan bertentangan dengan nilai-nilai persyarikatan.

“Mari kita jaga dan rawat aset Muhammadiyah, baik berupa hak milik maupun wakaf. Semua itu digunakan untuk mengembangkan sarana pendidikan bagi seluruh anak bangsa, tanpa membedakan agama, suku, etnis, atau asal daerah,” tegas Amirsyah.

Ia juga mencontohkan Universitas Muhammadiyah di Sorong, Papua Barat Daya, di mana 70 persen mahasiswanya beragama non-Muslim. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah turut menjaga kebinekaan sebagai kekayaan bangsa.

Tausiyah tersebut ditutup dengan pantun yang mengangkat visi pendidikan inklusif:

Bungkuslah ikan dengan kertas,
Lalu ditaruh di atas talas.
Visi Prof. Abdul Mu’ti: pendidikan untuk semua yang berkualitas,
Pasti akan menjadikan bangsa ini berkelas. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search