Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Irwan Aqib, M.Pd, menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, sekolah Muhammadiyah tidak pernah dikelola secara gratis.
Hal ini disampaikannya dalam pembukaan kegiatan Pendidikan Khusus Pimpinan (Diksuspim) Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Region Sulawesi 2, yang berlangsung di Hotel Four Point Makassar pada Senin (16/6/2025).
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung hingga Rabu (18/6/2025) dan diikuti 150 peserta oleh para pimpinan Majelis Dikdasmen se-wilayah Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua..
Dalam pidato pembukaannya yang penuh semangat, Prof. Irwan Aqib menyampaikan sejarah penting berdirinya sekolah Muhammadiyah oleh KH. Ahmad Dahlan, sang pendiri Persyarikatan.
“Sekolah Muhammadiyah tidak pernah gratis, bahkan sejak zaman KH. Ahmad Dahlan. Beliau yakin bahwa satu-satunya jalan untuk memajukan bangsa ini adalah melalui pendidikan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Irwan menjelaskan bahwa KH. Ahmad Dahlan rela mengorbankan segalanya demi keberlangsungan pendidikan Muhammadiyah.
“Beliau pernah melelang perabotan rumahnya sendiri demi membiayai sekolah Muhammadiyah. Ini bukan hanya soal biaya, tapi tentang komitmen dan nilai perjuangan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Irwan menekankan bahwa sekolah-sekolah Muhammadiyah harus dikelola secara profesional, dengan standar keunggulan dan semangat berkemajuan.
“Jika sekolah Muhammadiyah maju, maka bangsa ini akan ikut maju. Jangan pernah ragu dengan sistem pendidikan kita,” tegasnya.
Dia mengkritisi sikap inferior sebagian kalangan yang terlalu memuji sistem pendidikan luar dan meremehkan model pendidikan Muhammadiyah.
“Kita harus yakin bahwa sistem pendidikan Muhammadiyah adalah yang terbaik. Sejak dulu sekolah Muhammadiyah sudah terpadu, bukan sekadar penggabungan pelajaran umum dan agama, tapi integrasi nilai-nilai dan karakter,” ujarnya.
Irwan juga menyoroti pentingnya kerja sama harmonis antara sekolah dan pimpinan Muhammadiyah di tingkat wilayah maupun daerah.
Menurutnya, kemajuan sekolah tidak akan tercapai jika konflik internal terus terjadi. “Hindari konflik antara sekolah dan pimpinan Muhammadiyah. Jalin harmonisasi, saling dukung, karena itulah kunci agar kita bisa besar dan maju bersama,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya membangun citra yang kuat bagi sekolah Muhammadiyah.
“Bangun brand image yang maju dan unggul. Jangan hanya jadi pelengkap, tapi harus jadi pelopor dalam dunia pendidikan,” tambahnya.
Tidak Gratis, Tapi Berkualitas
Dalam bagian penting pidatonya, Irwan Aqib secara tegas menyatakan bahwa sekolah Muhammadiyah seharusnya tidak dikelola dengan konsep ‘gratis’, melainkan berorientasi pada kualitas.
“Hari ini, banyak orang tua mencari pendidikan yang berkualitas, bukan yang murah apalagi gratis. Maka saya tegaskan, jangan ada lagi sekolah Muhammadiyah yang gratis kalau kita ingin maju,” katanya dengan nada serius, menyampaikan pesan penting kepada para peserta Diksuspim.
Menurutnya, keikhlasan dalam pengelolaan pendidikan bukan berarti membebaskan biaya secara keseluruhan, tetapi bagaimana menjamin mutu, membangun sistem yang mandiri, dan tetap berpihak kepada mereka yang membutuhkan lewat mekanisme subsidi silang atau beasiswa.
Irwan juga menyampaikan pesan mendalam kepada para pimpinan Majelis Dikdasmen PWM dan PDM. Ia menekankan pentingnya membina sekolah Muhammadiyah dengan penuh ketulusan dan ruhul ikhlas.
“Sekolah Muhammadiyah akan maju jika para penggeraknya memiliki ruh ikhlas, hanya mencari ridho Allah. Hilangkan kepentingan pribadi dalam mengelola sekolah. Kepemimpinan yang tulus akan melahirkan ketulusan-ketulusan yang lain, dan dari sanalah keberkahan akan lahir,” pesannya.
Kegiatan Diksuspim ini diharapkan dapat menjadi momentum strategis untuk memperkuat kepemimpinan pendidikan Muhammadiyah di wilayah Sulawesi, sekaligus meneguhkan kembali komitmen untuk menjadikan sekolah Muhammadiyah sebagai pusat pendidikan unggul, profesional, dan berkemajuan di Indonesia. (msf/wh)
