Self-Reward atau Israf? Bijak Mengelola THR di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd.
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
www.majelistabligh.id -

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah fase yang paling krusial bagi setiap Muslim. Di saat langit membuka pintu ampunan seluas-luasnya melalui Lailatul Qadar, di bumi, geliat ekonomi justru mencapai puncaknya.

Turunnya Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali menjadi ujian tersendiri bagi keteguhan iman dan kejernihan pikiran dalam mengelola harta. Fenomena yang sering muncul adalah perdebatan antara niat memberikan self-reward (penghargaan diri) atas ibadah sebulan penuh dengan perilaku israf (berlebih-lebihan) yang justru dilarang oleh syariat.

Memahami batas antara penghargaan diri dan pemborosan sangat diperlukan bagi seorang muslim. Islam adalah agama yang moderat (wasathiyah). Islam tidak melarang penganutnya untuk menikmati rezeki yang halal dan thoyyib. Memberi penghargaan kepada diri sendiri atau keluarga dengan membeli pakaian baru atau hidangan yang lezat untuk merayakan Idulfitri adalah hal yang mubah, bahkan bisa bernilai ibadah jika niatnya adalah tahadduts bin ni’mah (mensyukuri nikmat).

Namun, masalah muncul ketika keinginan mengalahkan kebutuhan. Di era media sosial, sering kali “penghargaan diri” hanyalah kedok bagi perilaku konsumtif yang dipicu oleh tren atau gengsi. Inilah titik awal masuknya kita ke dalam jerat israf. Sebelum menggunakan THR, kita perlu bertanya: Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, atau hanya sekadar pemuas keinginan sesaat untuk dipamerkan?

Allah Swt secara tegas mengingatkan kita untuk bersikap proporsional dalam membelanjakan harta. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang melampaui batas. Hal ini tertuang dalam Al-Qur’an:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31).

Ayat ini memberikan keseimbangan yang sangat indah; kita diperintahkan tampil bagus (terutama untuk ibadah), namun dikunci dengan larangan israf. Lebih jauh lagi, perilaku boros yang tidak terkendali sering kali menjebak seseorang dalam kesia-siaan yang disukai oleh setan. Allah Swt berfirman:

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27).

Rasulullah saw juga menekankan pentingnya kesederhanaan dalam hidup. Beliau bersabda:

“Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa disertai sikap berlebih-lebihan dan kesombongan.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Bagaiamana Mengelola THR Agar Lebih Bijak?

Mengelola THR di sepuluh hari terakhir Ramadan membutuhkan strategi yang matang agar tidak habis dalam sekejap. Sesuai dengan nilai kontekstual dan edukatif dalam pengembangan karakter Muslim berkemajuan, berikut adalah langkah bijak mengelola THR:

  1. Prioritaskan Kewajiban Utama (Zakat dan Infaq). Sebelum menyentuh THR untuk belanja baju atau kue lebaran, amankan porsi untuk Zakat Fitrah dan Zakat Mal (jika sudah mencapai nisab dan haul). Sepuluh hari terakhir adalah momentum terbaik untuk mengejar keberkahan melalui berbagi. Sedekah di waktu ini memiliki nilai yang sangat istimewa di sisi Allah.
  2. Gunakan Prinsip Transparansi (Fiqih Muamalah). Dalam bertransaksi, baik secara langsung maupun melalui jastip atau online marketplace, pastikan akadnya jelas dan jujur. Jangan terjebak pada diskon besar-besaran yang spesifikasinya tidak jelas (gharar). Kejujuran dalam bertransaksi akan membawa ketenangan batin, sesuai dengan konsep transparansi dalam akad Ijarah atau Wakalah.
  3. Alokasi Dana Mudik dan Pasca-Lebaran. Banyak orang lupa bahwa hidup masih berlanjut setelah tanggal 1 Syawal. Pastikan biaya operasional mudik dan kebutuhan hidup sebulan ke depan setelah lebaran sudah disisihkan. Jangan sampai THR habis untuk satu hari lebaran, lalu kita menderita kesulitan finansial di sisa bulan tersebut.
  4. Bijak Menghadapi Promo Digital. Algoritma media sosial sering kali membombardir kita dengan iklan yang sangat personal. Di sinilah pentingnya olah pikir dan olah rasa. Jangan biarkan nafsu belanja di 10 malam terakhir mengalahkan fokus kita dalam I’tikaf dan mengejar Lailatul Qadar.

Kita bisa mengambil pelajaran dari keteguhan Bilal bin Rabah. Jika Bilal mampu teguh mempertahankan imannya meski ditekan oleh batu besar di tengah gurun, maka kita pun harusnya mampu teguh mempertahankan prinsip “cukup” di tengah gempuran konsumerisme.

Bilal adalah simbol integritas dan kejelasan prinsip. Memiliki THR bukan berarti kita memiliki lisensi untuk menghamburkannya tanpa kontrol. Sebaliknya, THR adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Menjadi Muslim yang berkemajuan berarti mampu menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan tuntutan rohani. Self-reward adalah hal yang manusiawi, namun jika ia menyebabkan kita melupakan hak orang miskin (zakat) atau membuat kita terjebak dalam utang konsumtif, maka ia telah berubah menjadi israf.

Marilah kita jadikan sepuluh hari terakhir Ramadan ini sebagai ajang untuk melatih kemerdekaan jiwa merdeka dari ketergantungan pada materi dan merdeka dari hawa nafsu belanja yang berlebihan. Mari kita suarakan kebenaran sejati melalui gaya hidup yang bersahaja, jujur, dan penuh berkah. Ingatlah, kemuliaan kita tidak diukur dari merk pakaian yang kita kenakan di hari Idulfitri, melainkan dari ketakwaan yang kita bangun selama sebulan penuh di bulan Ramadan.

Semoga pengelolaan THR yang bijak membawa kita pada rezeki yang berkah dan hati yang tenang. Amin. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search