Hujan deras mewarnai pelaksanaan Upacara Pembukaan Perkemahan Jum’at-Sabtu (Perjusa) yang digelar oleh SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya atau (SD Musix), pada Jumat (23/5/2025).
Meski cuaca kurang bersahabat, semangat para siswa tetap tinggi dan penuh antusiasme.
Kegiatan Perjusa ini merupakan salah satu agenda tahunan yang telah menjadi program unggulan dari Kaur Kesiswaan SD Musix.
Program ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama telah digelar pada 25 Januari 2025 lalu dan diikuti oleh siswa kelas 1 dan 2. Dalam tahap tersebut, anak-anak belum diwajibkan untuk menginap.
“Perjusa kali ini merupakan tahap kedua, yang diikuti oleh siswa kelas 3, 4, 5, dan 6,” kata Hidayatun Ni’mah, S.Ag., M.Pd., Kepala Urusan Kesiswaan SD Musix.
Dia lalu menjelaskan, pada tahap kedua ini seluruh peserta beserta pendamping diwajibkan untuk menginap, sehingga pengalaman berkemah menjadi lebih lengkap dan bermakna.
Persiapan kegiatan telah dilakukan secara matang oleh panitia, mulai dari pemasangan backdrop, pengecekan sound system, hingga persiapan logistik.
Upacara pembukaan dijadwalkan dimulai pada pukul 13.00 WIB. Namun, hingga waktu yang ditentukan, hujan masih mengguyur area lapangan sekolah.
Menjelang pembukaan, intensitas hujan mulai berkurang. Para siswa yang sudah tidak sabar pun mulai bergerak menuju lapangan. Keceriaan pun terlihat di wajah-wajah mereka.
“Ayo, Ustadz, kapan upacara dimulai?” seru beberapa siswa yang telah bersiap di lapangan dengan wajah antusias.
“Sebentar lagi ya, kita tunggu hujannya benar-benar reda dulu,” sahut Warno Wisanggeni, salah satu panitia sekaligus penanggung jawab kegiatan Perjusa.
Anak-anak mengekspresikan semangat mereka dengan berbagai cara. Ada yang berlarian di bawah gerimis, ada yang memilih berteduh di serambi sekolah, dan ada pula yang duduk santai menunggu aba-aba dimulainya upacara.
Tak lama kemudian, terdengar suara dari pengeras. “Bagi ketua regu, silakan berkumpul di sumber suara,” seru Aditia Nurmayanti, salah seorang pembina kegiatan.
Para ketua regu pun segera berkumpul untuk menerima arahan. Namun, belum sempat pengarahan selesai, hujan deras kembali mengguyur lapangan secara tiba-tiba.
“Breeesss…!” Suara hujan lebat membuat suasana menjadi riuh. Peserta yang sudah terlanjur berkumpul pun membubarkan diri, berlari mencari tempat berteduh.
Melihat kondisi tersebut, Warno segera mengambil inisiatif dengan mengarahkan seluruh peserta untuk berteduh di Masjid Syuhada, yang berada di lingkungan SD Musix. Sambil menunggu hujan reda, para pembina memberikan pengarahan terakhir kepada para petugas upacara.
Setelah beberapa saat, hujan kembali mereda. Meski lapangan masih tergenang air, pembukaan kegiatan tetap dilaksanakan di halaman sekolah. Para peserta kembali berbaris, dengan semangat yang tetap menyala.
“Dua kali tepuk HW!” seru Munahar, SHI, M.Pd, pembina upacara, menyapa seluruh peserta dengan penuh semangat.
Dalam amanatnya, Munahar membawakan kisah inspiratif tentang perjuangan Jenderal Soedirman.
Dia mengungkapkan bahwa meski dalam kondisi sakit, Jenderal Soedirman tidak pernah berhenti memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
“Pernah suatu ketika, Presiden Soekarno memintanya untuk istirahat karena sakitnya. Tapi beliau menjawab, ‘Maaf, Sudirman boleh sakit, tetapi Jenderal Sudirman tidak pernah sakit,’” ujar Munahar, menirukan kalimat legendaris sang jenderal.
Munahar juga mengingatkan kepada seluruh peserta untuk menjaga disiplin selama kegiatan Perjusa, serta mengikuti semua agenda yang telah dirancang oleh kakak pembina.
“Ingat slogan Pandu Hizbul Wathan: Sedikit bicara, banyak bekerja!” tegasnya. Ia juga berpesan agar para peserta belajar untuk bekerja sama dengan tim, menjaga kebersamaan, dan tidak mudah menyerah.
“Kalau ada yang merasa ragu-ragu, silakan pulang dari sekarang!” serunya menutup sambutan dengan nada tegas namun penuh semangat.
Setelah upacara pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kelengkapan atribut peserta, lalu diteruskan dengan berbagai agenda perkemahan yang telah disiapkan panitia. (basirun)
