*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
Seorang anak menceritakan momen mengerikan ketika pesawat tempur penjajah Israel menargetkan tenda keluarganya di daerah Al-Mawasi, Khan Younis, di Gaza Selatan.
Dia menyaksikan pamannya bersimbah darah setelah kedua kakinya diamputasi, bersama dengan tubuh bibi dan pamannya yang tak bernyawa. Dia selamat dari pembantaian itu hanya dengan kakek neneknya dan seorang paman.
Warga Palestina di Jalur Gaza menghimbau masyarakat Internasional untuk membuka jalur penyeberangan dan menekan penjajahan Israel agar mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan makanan ke wilayah tersebut.
Keluarga-keluarga Palestina menghadapi tingkat kelaparan yang mengkhawatirkan di tengah pengepungan dan kekurangan pangan yang terus dilakukan oleh penjajah Israel.
Belum lagi kisah bayi berumur 4 bulan, Yousef al-Najjar, seluruh tulang rusuk bayi Palestina tersebut terlihat. Yousef menderita kekurangan gizi parah seiring berlanjutnya genosida penjajah Israel, sementara semua jalur masuk ke Gaza tetap ditutup oleh penjajah Israel sejak 2 Maret 2025.
Berat Yousef hanya 1,5 kg dan kondisinya memburuk akibat tidak adanya susu formula bayi dan perawatan medis. Suara ibunya terputus-putus saat dia memohon bantuan, sambil memegang bayi yang kelaparan, tubuhnya yang tak mampu lagi menopang dirinya sendiri.
Di tempat yang tak ada lagi makanan dan obat-obatan hampir tidak ada. Yousef adalah salah satu dari ratusan ribu anak-anak yang nyawanya terancam.
Nyanyian syair harapan anak-anak Gaza di bawah puing-puing reruntuhan. Ketahanan anak-anak Palestina sungguh luar biasa, di atas penjajahan dan kengerian genosida.
Anak-anak ini telah menjadi korban paling nyata atas pembantaian massal. Mereka telah merasakan segala derita, menyaksikan orang-orang tercinta keluarga mereka dibunuh di Gaza, di depan mata mereka sendiri.
Namun, mereka masih tersenyum, bernyanyi, menyebarkan cinta dan harapan. Membalas diamnya dunia, dan jahatnya segala perlakuan para penjajah.
Sahabat,
Tunjukkan simpati dan empati kita. Ikutkan doa untuk mereka dalam setiap doa kita. Semoga Allah menguatkan semangat mereka.
Barakallahu fiikum. (*)
