Seni Beribadah di Raudhah: Antara Keinginan Diri dan Hak Sesama

Sebagian rombongan di depan Raudhah. (Khoirul Anam)
www.majelistabligh.id -

Perjalanan umrah ustaz Munahar memasuki hari kedua. Kepala SD Muhammadiyah 6 Surabaya itu membagikan pengalamannya Salat Dhuhur di Masjid Nabawi, sekaligus melaksanakan salat sunnah di sekitar Raudhah, yang letaknya di dalam Masjid tersebut. Berikut penuturannya:

***

Raudhah, atau yang dikenal sebagai “Taman Surga”, tetap menjadi magnet spiritual utama bagi setiap jamaah yang menginjakkan kaki di Masjid Nabawi. Di sinilah, di area antara rumah dan mimbar Rasulullah SAW, selain lebih tenang dalam beribadah, doa-doa juga diyakini sampai kepada Allah SWT tanpa penghalang.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

ما بين بيتي ومنير روضة من رياض الجنة

“Apa yang berada antara rumahku dan mimbarku merupakan salah satu taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari & Muslim)

Transformasi Pengelolaan: Lebih Tertib

Kembali mengunjungi Tanah Suci di awal tahun 2026, memberikan perspektif baru dibandingkan kunjungan saya pada tahun 2023 lalu. Transformasi digital melalui platform Nusuk telah membawa perubahan signifikan pada manajemen kunjungan ke Raudhah.

Raudhah diambil dari jarak jauh. (Munahar)
Raudhah diambil dari jarak jauh. (Munahar)

Jika dulu suasana seringkali diwarnai aksi saling dorong dan petugas yang tergesa-gesa meminta jamaah berpindah, meskipun saat inimasih ada, namun kini pemandangan itu bisa dibilang lebih tertib. Dengan sistem rombongan yang terkoordinasi, kami mendapatkan jadwal pada Rabu, 14 Januari 2026, pukul 13.50-14.20 waktu setempat. Durasi sekitar 30 menit ini terasa sangat berharga. Jamaah kini bisa menunaikan shalat sunnah hingga empat rakaat dan berdoa dengan lebih tenang tanpa harus merasa terburu-buru oleh keadaan.

Strategi Ibadah vs Empati Sosial

Di kalangan jamaah, sering terdengar strategi “estetika berpindah” agar bisa berlama-lama di dalam Raudhah. Caranya dengan berpindah dari shaf belakang ke shaf depan setelah salam, atau bergeser ke kanan dan kiri untuk menghindari teguran petugas. Secara teknis, ini memungkinkan kita menambah jumlah rakaat.

Namun, di sinilah kedewasaan spiritual kita diuji. Raudhah memang tempat yang mustajabah (tempat terkabulnya doa). Namun, kita perlu merenungkan kembali: Apakah keberkahan bisa diraih dengan memakan hak waktu orang lain? Ribuan orang di luar sana sedang mengantri dengan kerinduan yang sama besarnya dengan kita.

Kualitas di Atas Kuantitas

Prinsip utama dalam beribadah di tempat terbatas seperti Raudhah bukanlah seberapa banyak jumlah rakaat yang kita kerjakan, melainkan kualitas dari setiap sujud kita. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Dua rakaat yang berkualitas: Fokuslah pada kekhusyukan. Perpanjang doa di sujud terakhir secukupnya tanpa berlebihan.
  2. Memberi ruang bagi sesama: Memberikan kesempatan kepada jamaah lain setelah kita selesai adalah bentuk akhlak mulia. Bisa jadi, sikap isthar (mendahulukan orang lain) itulah yang justru menjadi kunci terijabahnya doa-doa kita.
  3. Keikhlasan: Allah SWT melihat ketulusan hati kita, bukan sekadar durasi waktu kita menduduki sebuah tempat.

Beribadah di Raudhah di tahun 2026 ini mengajarkan satu hal penting, bahwa menjaga ketertiban dan menghargai hak saudara sesama Muslim adalah bagian dari kesempurnaan ibadah itu sendiri. Cukupkanlah diri dengan dua atau empat rakaat yang berkualitas, lalu berikanlah tempat bagi hamba Allah lainnya yang juga ingin bersimpuh di “Taman Surga”.

Semoga setiap sujud kita di Raudhah membawa transformasi hati yang lebih peduli dan penuh kasih sayang. Amin. (*)

Tinggalkan Balasan

Search