*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
Hati manusia bisa melembut, bisa pula mengeras. Ia hidup, ia berubah, dan ia sangat dipengaruhi oleh apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan setiap hari.
Ada masa-masa hati terasa hampa. Dzikir tak menggugah, ibadah terasa berat, nasihat pun terdengar hambar. Saat itulah hati sedang butuh disentuh, bukan diabaikan.
Hati yang mulai mengeras bukan karena tidak punya iman, tapi karena terlalu lama jauh dari sumber cahaya—yaitu Allah dan kalam-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
> ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةًۭ
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”
(QS Al-Baqarah: 74)
Hati tidak mengeras dalam semalam. Ia mengeras perlahan, dimulai dari menunda ibadah, melewatkan dzikir, lalai dari Al-Qur’an, dan terlalu sibuk dengan dunia.
Tapi kabar baiknya: hati juga bisa kembali lembut. Mulailah dengan istighfar. Duduklah sejenak, ambil Al-Qur’an, baca walau hanya satu ayat. Lihatlah semesta dan bisikkan pada Allah, “Ya Rabb, lunakkan hatiku, dekatkan aku kembali pada-Mu.”
Hari ini, jangan biarkan hatimu mengeras lebih lama. Jangan anggap biasa saat hati sudah tak tersentuh oleh peringatan. Karena hati yang keras adalah awal dari keterjauhan yang panjang.
Barakallahu fiikum. (*)
