Majelis Ahad Pagi KH Ahmad Dahlan menggelar Pengajian dan Halalbihalal di Masjid Al Taqwa, Jl. Diponegoro 60, Kota Batu, Ahad (29/3/2026). Mengangkat tema “Istikamah setelah Ramadan, Bukti Cinta kepada Allah”, menghadirkan Dr. H.M. Sholihin Fanani, M.PSDM, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, sebagai pembicara. Beliau membedah esensi perubahan perilaku sebagai indikator keberhasilan ibadah seseorang.
Dalam tausiyahnya, Sholihin Fanani menekankan sebuah prinsip sederhana namun mendalam bagi setiap Muslim, yakni “Sitik-sitik diiling-iling, sitik-sitik dilakoni” (Sedikit demi sedikit diingat, sedikit demi sedikit dijalankan).
Pesan ini merupakan peringatan agar ilmu yang didapat tidak sekadar menjadi angin lalu. Beliau mewanti-wanti jemaah agar tidak menjadi golongan “wes-ewes ewes bablas angin e”, istilah yang merujuk pada kondisi di mana semangat ibadah menguap begitu saja tanpa bekas setelah Ramadan usai.
“Tanda Allah memberikan nikmat iman adalah munculnya sifat Tambah suwe tambah yakin, tambah suwe tambah rajin,” kata Sholihin Fanani
Melawan Penyakit Malas
Ia menegaskan bahwa musuh terbesar umat Islam bukanlah faktor eksternal, melainkan penyakit dalam diri, yakni kemalasan. Ada fenomena di mana seseorang dalam beragama justru semakin lama semakin malas dan tidak jelas arahnya. Untuk membentengi diri, ia mengingatkan kembali doa yang diajarkan Rasulullah saw agar kita terhindar dari sifat lemah dan malas, yakni:
“Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazan, wa a’uudzubika minal ’ajzi walkasal, wa a’uudzubika minal jubni wa bukhl, wa a’uudzubika min gholabatid-daini wa qohrirrijaal”
(Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan duka, dari sifat lemah dan malas, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan penindasan orang.)
Ramadan seharusnya menjadi titik balik perubahan. Mengapa perubahan sikap begitu krusial? Sholihin memaparkan sebuah teori kausalitas tentang bagaimana nasib seseorang dibentuk:
- Pikiran akan melahirkan Ucapan.
- Ucapan akan menjadi Tindakan.
- Tindakan yang berulang menjadi Kebiasaan.
- Kebiasaan membentuk Karakter.
- Karakter inilah yang akhirnya menentukan Takdir hidup manusia.
“Semua dimulai dari cara berpikir kita. Berpikirlah positif dan selalu berprasangka baik (husnuzan), karena dalam perubahan itu terkandung harapan orang lain,” tambahnya.
Empat Pilar Kesempurnaan Beragama
Sebagai penutup, ia menjabarkan empat kunci untuk meraih kesempurnaan dalam beragama. Jika empat hal ini dijalankan secara istikamah, maka seorang Muslim akan mencapai derajat iman yang kokoh:
- Halal-Haram: Memiliki integritas dalam menjaga batasan syariat.
- Nasihat menasihati: Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
- Tolong-Menolong: Membangun kepedulian sosial yang nyata.
- Amar Makruf Nahi Munkar: Aktif mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Puncak dari keimanan, menurut Sholihin, adalah rida. Yakni seseorang mampu mengucap “Alhamdulillah” di saat mendapatkan sesuatu yang secara lahiriah terlihat tidak baik. Itulah bukti cinta sejati kepada Sang Khalik. (nun)
