*) Oleh : Nashrul mu’minin
Content writer Yogyakarta
Di era digital yang serba cepat ini, kecepatan sering kali menjadi simbol keberhasilan. Kalimat seperti “siapa cepat dia dapat” tidak hanya berlaku dalam urusan rebutan promo atau tiket konser, tetapi juga meresap hingga ke dalam cara kita belajar, bekerja, dan bahkan menjalani kehidupan sosial.
Segala hal berlomba untuk menjadi yang pertama—pertama tahu, pertama bertindak, pertama sukses. Namun, dalam hiruk pikuk kecepatan itu, kita sering lupa satu hal penting: bahwa hidup bukan sekadar tentang siapa paling dulu sampai, tetapi tentang siapa yang paling siap menerima kenyataan, bahkan jika itu berarti menjadi yang terakhir. Di situlah lahir sebuah narasi baru—“siapa telat, dapat teori ikhlas,” terutama ketika hari Jumat datang, hari yang sering diwarnai kontemplasi dan refleksi spiritual.
Hari Jumat sering dianggap sebagai momen yang sakral, terutama dalam budaya dan agama tertentu seperti Islam. Hari itu menjadi simbol ketenangan, hari di mana orang-orang kembali mengingat nilai-nilai spiritual, kesabaran, dan keikhlasan. Menariknya, justru pada hari itu pula banyak orang menerima kenyataan bahwa mereka tidak mendapat apa yang mereka buru sebelumnya—entah pekerjaan, cinta, atau peluang. Dan saat itulah “teori ikhlas” menjadi nyata. Sebuah frasa jenaka namun mendalam yang menyiratkan bahwa tidak semua orang bisa menjadi yang tercepat, namun semua orang bisa belajar menerima. Tapi mengapa kita harus selalu cepat, dan apakah keterlambatan selalu identik dengan kekalahan?
Masalah utama yang dihadapi masyarakat modern saat ini adalah ketidakseimbangan antara kecepatan akses dan kedalaman makna. Banyak orang berlomba untuk menjadi yang tercepat—dalam mendaftar, dalam membalas pesan, dalam mem-posting informasi—namun sering kali melupakan makna dari apa yang sedang dikejar. Literasi informasi menjadi dangkal karena fokus utama adalah menjadi yang pertama tahu, bukan yang paling memahami. Inilah ironi dari era data dan teknologi: kita semakin cepat bergerak, tapi semakin lambat dalam mencerna. Di sinilah timbul kesenjangan besar antara pengetahuan dan kebijaksanaan.
Lebih jauh lagi, masyarakat kita juga terjebak dalam pola pikir FOMO (Fear of Missing Out), yang membuat mereka merasa harus selalu terlibat dalam tren terkini, tak peduli apakah itu relevan atau tidak. Ketika seseorang merasa tertinggal, baik dalam pencapaian akademik, karier, atau bahkan kehidupan sosial, muncul semacam krisis eksistensial. Namun, dalam refleksi hari Jumat, kita diajak untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa tertinggal tidak selalu buruk. Bahwa keikhlasan bukan bentuk kekalahan, tapi kematangan jiwa. Maka, saat seseorang telat dan tidak dapat hal yang diharapkan, di situlah dia belajar: bukan hanya menerima, tetapi memahami makna kehilangan.
Solusi dari persoalan ini bukanlah mempercepat segala hal atau memastikan semua orang menjadi yang terdepan, melainkan membangun kesadaran akan nilai literasi berbasis makna dan informasi. Literasi bukan hanya soal membaca cepat atau memahami data secara teknis, tetapi juga tentang kemampuan untuk mengolah informasi menjadi hikmah. Dalam konteks ini, kehadiran teknologi seharusnya menjadi jembatan antara akses dan pemahaman, bukan semata-mata pemercepat kompetisi.
Mengubah pola pikir dari “siapa cepat dia menang” menjadi “siapa memahami dia bertahan” adalah langkah awal menuju masyarakat yang lebih dewasa dalam menyikapi informasi dan realitas.
Tujuan dari narasi ini adalah menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga matang secara emosional. Kita butuh anak muda yang bisa membedakan mana informasi yang patut dikejar dengan cepat, dan mana yang perlu direnungkan dengan dalam. Kita ingin membentuk masyarakat yang bisa tertawa saat gagal mengejar sesuatu, namun tetap belajar dari prosesnya. Sebab teori ikhlas bukan sekadar dalih kalah, melainkan pelajaran hidup yang hanya muncul ketika seseorang benar-benar menghadapi kenyataan dengan lapang dada. Dan hari Jumat, dengan segala ketenangannya, menjadi ruang paling cocok untuk merayakan teori itu.
Implementasi dari nilai-nilai ini dapat dilakukan mulai dari pendidikan formal hingga kehidupan sehari-hari. Di sekolah dan kampus, kurikulum bisa memasukkan pendidikan literasi digital berbasis etika dan refleksi. Para guru tidak hanya mengajarkan cara mencari informasi, tetapi juga cara menilai dan menafsirkan informasi secara bijak. Teknologi digunakan bukan sebagai alat perlombaan, tetapi sebagai media pembelajaran yang menumbuhkan kesabaran dan ketelitian. Di dunia kerja, perusahaan bisa mendorong budaya kerja yang tidak hanya mengejar kecepatan dan target, tetapi juga menghargai proses dan nilai kemanusiaan.
Di ruang sosial, media sosial bisa dijadikan alat reflektif, bukan hanya tempat pamer atau adu kecepatan. Konten yang bersifat reflektif, seperti kutipan Jumat, kisah inspiratif, dan edukasi berbasis nilai, perlu lebih disebarluaskan. Bahkan, kebiasaan berbagi pesan Jumat di grup WhatsApp keluarga atau komunitas bisa menjadi sarana penyemaian teori ikhlas. Bahwa tidak semua orang akan dapat apa yang mereka inginkan tepat waktu, tetapi semua orang bisa belajar untuk menerima dan tetap tersenyum. Inilah bentuk literasi kehidupan yang paling hakiki—yang tidak bisa diukur dengan kecepatan, tapi dengan kedalaman hati.
Namun demikian, kita tetap perlu mengidentifikasi kesenjangan sosial yang muncul dari pola hidup berbasis kecepatan. Akses terhadap teknologi masih belum merata, dan ini menyebabkan ketimpangan informasi. Mereka yang tinggal di daerah terpencil atau tidak memiliki perangkat digital mumpuni, sering kali menjadi “yang telat” bukan karena malas, tapi karena sistem yang tidak adil. Maka, teori ikhlas bisa saja terasa pahit jika tidak dibarengi dengan upaya pemerataan akses. Literasi dan keikhlasan tidak boleh menjadi privilese kelompok tertentu, tetapi harus menjadi milik bersama.
Selain itu, kesenjangan juga tampak dalam cara generasi muda mengelola tekanan sosial akibat kompetisi digital. Tidak semua orang mampu memahami bahwa tertinggal bukan akhir dunia. Banyak yang terjebak dalam perasaan rendah diri, bahkan depresi, karena merasa selalu kalah cepat. Padahal, jika mereka diberi ruang dan pemahaman bahwa hidup bukan perlombaan, mungkin teori ikhlas itu akan hadir lebih lembut, bukan sebagai luka, tetapi sebagai pelukan. Di sinilah pentingnya membangun ekosistem sosial yang ramah terhadap kegagalan, dan tidak menjadikan keterlambatan sebagai stigma.
Akhirnya, saya sebagai penulis ingin menegaskan bahwa hidup bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga tentang penerimaan. “Siapa cepat dia dapat” mungkin berlaku di dunia digital, tetapi “siapa telat dapat teori ikhlas” justru berlaku di dunia nyata, dunia yang penuh kejutan dan pembelajaran. Hari Jumat, dengan segala kesyahduannya, mengajarkan bahwa tidak semua harus dikejar, sebagian justru harus diterima. Dan dalam penerimaan itulah kita menemukan makna terdalam dari hidup.
Jadi, saat kita gagal mendapatkan sesuatu hari ini, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Mungkin itu bukan tentang kecepatan kita yang kurang, tetapi tentang kedewasaan kita yang sedang dibentuk. Teori ikhlas bukan alasan untuk menyerah, tetapi cara untuk tetap melangkah dengan hati yang tenang. Dan mungkin, justru di hari Jumat yang hening itu, kita akhirnya bisa berkata: “Aku memang telat, tapi aku belajar ikhlas.” (*)
