Sibuk Mencari Jawaban Atas Pertanyaan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur

Apa Makna di Balik “Sibuk Mencari Jawaban”?

• Pencarian sebagai bentuk ibadah
Dalam Islam, mencari ilmu adalah ibadah. Ketika kita sibuk mencari jawaban, kita sebenarnya sedang menunaikan amanah fitrah: menjadi hamba yang berpikir, bertanya, dan belajar.

• Pertanyaan sebagai pintu muhasabah
Pertanyaan bukan sekadar rasa ingin tahu. Ia bisa menjadi cermin jiwa—menggugah kita untuk melihat lebih dalam: Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Apa makna dari semua ini?

• Kesibukan yang bisa menyesatkan atau menyucikan
Sibuk mencari jawaban bisa membuat kita lelah, apalagi jika yang dicari adalah jawaban duniawi semata. Tapi jika yang dicari adalah makna, hikmah, dan ridha Allah, maka kesibukan itu menjadi jalan penyucian.

Di tengah riuhnya dunia yang terus bergerak, banyak dari kita terjebak dalam satu kesibukan yang tak terlihat: sibuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menggema di dalam jiwa. Pertanyaan tentang masa depan, tentang makna hidup, tentang siapa kita sebenarnya, dan untuk apa kita diciptakan.

Kita membaca buku, menonton video, berdiskusi, bahkan berkelana jauh—semata-mata untuk menemukan sesuatu yang bisa menenangkan kegelisahan batin. Namun, sering kali kita lupa bahwa jawaban bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses menjadi manusia yang utuh.

Pertanyaan: Pintu Menuju Kesadaran

Pertanyaan adalah tanda bahwa hati masih hidup. Ia adalah getaran fitrah yang mengajak kita untuk tidak puas dengan permukaan. Dalam Islam, bertanya adalah bagian dari jalan ilmu, dan ilmu adalah cahaya yang menuntun kita kepada Allah.
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ
Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)

Namun, tidak semua pertanyaan membawa kita kepada kebenaran. Ada pertanyaan yang lahir dari ego, dari rasa ingin menang, atau dari ketakutan. Maka, niat dalam bertanya menjadi penentu arah pencarian.

Sibuk yang Menyesatkan vs Sibuk yang Menyucikan

Kesibukan mencari jawaban bisa menjadi jebakan. Kita bisa tersesat dalam tumpukan informasi, dalam debat tanpa ruh, dalam pencarian yang hanya memuaskan akal tapi mengabaikan hati.

Namun, jika pencarian itu dilandasi oleh keikhlasan, oleh kerinduan kepada kebenaran, maka ia menjadi jalan penyucian. Ia mengasah sabar, membuka mata batin, dan mendekatkan kita kepada Sang Maha Menjawab.
وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاۤءِ بَشَرًا فَجَعَلَهٗ نَسَبًا وَّصِهْرًاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا
Dialah (pula) yang menciptakan manusia dari air (mani). Lalu, Dia menjadikannya (manusia itu mempunyai) keturunan dan muṣāharah (persemendaan). Tuhanmu adalah Mahakuasa. (QS. Al-Furqan: 54)

Jawaban yang Tidak Selalu Berbentuk Kata
Kadang, jawaban tidak datang dalam bentuk kalimat. Ia hadir dalam peristiwa. Dalam kehilangan. Dalam pertemuan. Dalam diam yang panjang. Dalam air mata yang jatuh tanpa suara.

Allah menjawab bukan hanya lewat wahyu, tapi juga lewat takdir. Maka, membaca kehidupan adalah bagian dari membaca jawaban.

Menjadi Musafir yang Bertanya dengan Hati
Kita semua adalah musafir. Dan pertanyaan adalah kompas kita. Tapi jangan biarkan kompas itu membuat kita lupa pada tujuan. Jangan biarkan pencarian jawaban membuat kita kehilangan ketenangan.

Karena kadang, jawaban terbaik bukanlah yang memuaskan logika, tapi yang menenangkan jiwa.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. (QS. Al-Fajr: 27–28). (*)

Tinggalkan Balasan

Search