Nama Siti Fadilah Supari tak lekang oleh waktu. Saat sebagian besar pejabat bicara datar dan formal soal kesehatan, ia muncul dengan suara berbeda—keras, lantang, dan tidak takut berbeda pandangan. Khususnya soal vaksin dan kekuatan global yang berdiri di baliknya, seperti Bill Gates, WHO, dan industri farmasi besar.
Walau tak pernah secara eksplisit menyebut vaksin TBC yang didukung Bill Gates, garis besar sikapnya jelas: kita tidak bisa menyerahkan urusan kesehatan bangsa ke tangan luar sepenuhnya.
Ketika menjabat Menteri Kesehatan, ia pernah memutus pengiriman sampel virus flu burung ke WHO karena menilai Indonesia hanya jadi pemberi data, tanpa kontrol atas hasilnya. Untuknya, itu bukan sekadar teknis. Itu soal harga diri.
Dalam psikologi sosial, sikap seperti Siti Fadilah mencerminkan naluri dasar: keinginan manusia untuk mempertahankan kontrol atas tubuh dan lingkungannya.
Ketika keputusan besar—seperti vaksinasi massal—datang dari luar, apalagi dengan dana besar dan agenda tersembunyi, rasa aman publik mudah terganggu. Bahkan, di masyarakat pascakolonial seperti Indonesia, trauma kolektif pada dominasi asing masih membekas.
Itulah sebabnya, suara seperti milik Siti—yang meminta agar riset, data, dan distribusi vaksin dilakukan secara mandiri dan transparan—menemukan banyak pendengar. Ia menjadi simbol keteguhan dalam gelombang global yang membingungkan.
Dalam Islam, kewaspadaan terhadap kekuatan luar bukan berarti anti-kerja sama, tapi bagian dari hikmah. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, berhati-hatilah terhadap orang-orang luar…” (QS. Ali-Imran: 118)
Rasulullah saw juga bersabda:
“Seorang mukmin tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, pengalaman masa lalu—baik eksploitasi sumber daya, ketimpangan dagang, atau intervensi kesehatan—menjadi pelajaran untuk lebih selektif di masa depan.
Siti Fadilah bukan menolak vaksin. Tapi ia menolak tunduk. Ia bukan anti sains, tapi percaya bahwa ilmu pun harus disandingkan dengan kedaulatan dan nalar sehat.
Di dunia yang semakin cepat dan dikendalikan data, suara seperti dirinya jadi penting—meskipun tak selalu nyaman didengar. Karena tak semua hal yang keras itu salah. Kadang, justru itulah yang membangunkan kita. (*)
