Simulasi “Pengadilan Toleransi”, Inovasi Pembelajaran ISMUBA di SMA Muhammadiyah 1 Gresik

www.majelistabligh.id -

SMA Muhammadiyah 1 Gresik kembali menghadirkan inovasi dalam metode pembelajaran. Kali ini, melalui mata pelajaran Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA), para siswa kelas XII mengikuti simulasi persidangan bertajuk “Pengadilan Toleransi”. Model pembelajaran ini dirancang untuk memperdalam pemahaman siswa terhadap isu-isu sosial dan etika dalam bingkai ajaran Islam.

Simulasi ini merupakan gagasan dari guru ISMUBA, Pak Islah—sapaan akrab M. Islahuddin, M.Pd.—yang bertujuan menjembatani antara teori dan praktik. Dalam kegiatan ini, para siswa tidak hanya mempelajari konsep-konsep agama, tetapi juga menerapkannya dalam situasi yang menyerupai kehidupan nyata. Mereka berperan sebagai hakim, jaksa penuntut, pembela, saksi, hingga terdakwa.

Meskipun kasus yang diangkat bersifat fiktif, namun alur ceritanya mencerminkan realita yang kerap terjadi di kalangan remaja—khususnya konflik akibat perbedaan pandangan atau keyakinan. Melalui simulasi ini, siswa ditantang untuk menganalisis kasus, mengumpulkan “bukti”, dan menyusun argumen berdasarkan nilai-nilai Islam, seperti toleransi (tasamuh), keadilan (adalah), dan persatuan (ukhuwah).

Pak Islah menjelaskan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak dan berpandangan luas.

“Kami tidak ingin murid hanya hafal dalil atau ayat-ayat Al-Qur’an saja. Melalui simulasi persidangan ini, mereka belajar bagaimana menginterpretasikan dan mengimplementasikan ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi keberagaman,” ujarnya.

Salah satu siswa, Hanif, yang mendapat peran sebagai hakim dalam simulasi tersebut, turut membagikan kesan dan pengalamannya.

“Awalnya saya kira ini hanya main-main, tapi ternyata sangat menantang. Kami harus benar-benar memahami kasus dari berbagai sudut pandang dan mencari dasar hukumnya dari Al-Qur’an dan Hadis. Ini membuat kami sadar betapa pentingnya toleransi dan tidak mudah menghakimi orang lain,” ungkapnya.

Metode simulasi persidangan ini tidak hanya mengembangkan aspek akademik, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kerja sama. Para siswa diajak untuk berani menyampaikan pendapat, menyusun argumen yang logis, serta mendengarkan pandangan orang lain dengan rasa hormat.

Kegiatan “Pengadilan Toleransi” di SMA Muhammadiyah 1 Gresik menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan bisa menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur pada generasi muda. Pendekatan yang kontekstual dan inovatif membuat mata pelajaran ISMUBA tidak hanya menjadi hafalan, tetapi juga sarana pembentukan karakter.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk mengembangkan metode pembelajaran kreatif yang tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga membentuk generasi berakhlak mulia—yang siap menghadapi tantangan zaman dengan nilai-nilai Islam sebagai landasan utama. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search