Tingginya minat masyarakat terhadap sekolah Muhammadiyah di sejumlah daerah memunculkan fenomena baru dalam dunia pendidikan dasar, yakni sistem daftar tunggu atau inden sejak usia sangat dini, bahkan saat bayi baru lahir.
Salah satunya terlihat pada SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta, yang telah mencatat antrean siswa hingga tahun ajaran 2032, atau pendaftaran sudah hingga 7 tahun ke depan.
Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Eko Hardi Ansyah. M.Psi, Psikolog, menilai antrean panjang tersebut bukan terjadi tanpa sebab. Menurutnya, ada sejumlah indikator kuat yang membangun kepercayaan masyarakat hingga mendorong orang tua mendaftarkan anak sejak usia sangat dini.
Faktor yang Membuat Sekolah Laris Hingga Inden, yang pertama, adalah keberhasilan Lembaga tersebut dalam menjaga mutu layanan pendidikan. Ia menyebut setidaknya ada empat komponen utama yang menjadi fondasi kepercayaan publik.
“Yang pertama adalah proses pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan murid. Kedua, iklim sekolah yang mendukung kualitas belajar optimal. Ketiga, kapasitas manajemen sekolah yang kuat. Dan keempat, lahirnya murid-murid berprestasi,” jelasnya.
Sekolah yang bisa menjamin empat komponen itu, lanjut dosen psikologi itu, akan menjadi rujukan masyarakat dan membangun citra sebagai sekolah berkualitas. Faktor kunci penggeraknya terletak pada kualitas sumber daya manusia, baik guru maupun pimpinan sekolah.
“Sekolah harus fokus pada peningkatan kualitas SDM agar komponen utama mutu layanan pendidikan bisa berjalan optimal sehingga terus dipercaya oleh masyarakat,” ujarnya.
Selain faktor internal sekolah, Dr. Eko juga menyoroti perubahan cara pandang orang tua, khususnya di wilayah perkotaan. Ia menilai orang tua kini semakin aware bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak.
“Karena itu, orang tua akan berusaha menempatkan putra putri mereka di sekolah yang bisa memberikan layanan terbaik,” ungkapnya.
Selain itu, berkembangnya teknologi informasi dan semakin masifnya strategi marketing sekolah, memperluas pemahaman orang tua tentang mana saja sekolah terbaik. “Hal ini secara langsung maupun tidak langsung membangun suasana kompetitif orang tua untuk mendapatkan porsi di sekolah terbaik tersebut,” terangnya.
Menanggapi anggapan bahwa sekolah swasta mulai menggeser eksistensi sekolah negeri, Dr Eko menilai hal tersebut tidak tepat jika dilihat dari fungsi pendidikan secara utuh. “Seharusnya tidak ada yang menggeser satu sama lain. Pendidikan bermutu harus bisa diakses semua, baik di sekolah negeri maupun swasta,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan lebih banyak terletak pada sumber daya. Sekolah negeri didukung negara, sementara sekolah swasta bertumpu pada dukungan masyarakat.
Ia mengutip tagline kemndikdasmen “Pendidikan bermutu untuk semua”, menunjukkan spirit bahwa layanan Pendidikan yang bermutu tidak boleh mengalami kesenjangan apalagi dikotomi negeri dan swasta.
Terkait peran Umsida, Dr Eko mencontohkan SD Muhammadiyah 1 Candi (M1CA) sebagai lab school Umsida yang juga mengalami tingginya minat masyarakat. Sekolah ini mengusung konsep inklusif dan berkarakter sebagai strategi membangun kepercayaan publik.
“SD MICA sebagai lab school Umsida saat ini sudah menutup pendaftaran SPMB inden tahun 2026. Beberapa pendaftar belakangan terpaksa harus ditolak karena keterbatasan kuota,” ujarnya.
Masyarakat percaya dengan sekolah ini lantaran memberikan layanan pendidikan yang memastikan semua siswa Bahagia di sekolah apapun karakteristiknya, bahkan anak difabel sekalipun. Perlu ditekankan pentingnya transformasi pendidikan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, terutama di era kecerdasan artifisial.
“Kita perlu mendorong pembelajaran yang lebih inovatif dengan pemanfaatan teknologi, tanpa meninggalkan penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi,” katanya. (*/tim)
