Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi memperkenalkan SITAMA (Sistem Informasi Tabligh Muhammadiyah) sebagai inovasi digital dalam gerakan dakwah berbasis data. Aplikasi ini disampaikan oleh Farid Suryanto, S.Pd., M.T., dari Bidang 6 Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Sabtu (25/10/2025).
“Data adalah aset berharga di era digital. Seperti pesan Ustaz Adi Hidayat, dakwah sebaiknya berbasis data. Karena itu, SITAMA kami bangun untuk menghubungkan empat pilar utama dakwah Muhammadiyah: mubalig, masjid, pengajian, dan pengetahuan,” ujar Farid.
Menurutnya, sistem ini dikembangkan melalui kolaborasi lintas bidang di Majelis Tabligh, termasuk sekretariat dan tim IT. Tujuannya, membangun ekosistem dakwah yang saling terhubung secara digital dan berkelanjutan.
SITAMA dirancang untuk mengintegrasikan empat elemen penting dakwah, yaitu mubalig sebagai aktor utama dakwah, masjid sebagai pusat kegiatan, pengajian sebagai ruang penyebaran nilai, dan pengetahuan sebagai sumber materi dakwah terpercaya.
“Melalui SITAMA, para mubalig bisa mengambil referensi dakwah dari sumber yang sahih. Sistem ini bukan hanya mencatat, tapi juga menghubungkan dan memperkuat jejaring dakwah Muhammadiyah di seluruh Indonesia,” jelas Farid.
Fitur Unggulan SITAMA
1. Pengelolaan Jadwal Mubalig
Setiap mubalig dapat menginput jadwal pengajian hanya dalam satu menit. Jika dilakukan bersama, data ini akan menjadi basis strategi dakwah nasional. Jamaah juga dapat mengecek jadwal mubalig dan lokasi pengajian dengan mudah.
2. Sertifikasi Mubalig
SITAMA menerjemahkan kebijakan sertifikasi mubalig Majelis Tabligh ke dalam sistem digital. Ada tiga level sertifikasi dengan tanda centang hijau digital sebagai bukti verifikasi resmi mubalig Muhammadiyah.
3. Pendataan Masjid Muhammadiyah
Data masjid tidak hanya berupa lokasi, tetapi juga hubungan dengan mubalig dan kegiatan pengajian. Jamaah dapat mencari masjid Muhammadiyah terdekat dan mengikuti kegiatan masjid secara daring dengan fitur “Ikuti”.
4. Manajemen Pengajian
Melalui SITAMA, masjid bisa mengundang mubalig sesuai jadwal kosong yang tertera di sistem. Data ini juga membantu Majelis Tabligh menganalisis pola dakwah di setiap wilayah.
5. Bank Pengetahuan Dakwah
Setiap mubalig didorong mengunggah materi dakwah digital. Misalnya, khutbah Jumat, kajian fikih, atau kultum tematik.
“Dengan cara ini, SITAMA menjadi perpustakaan dakwah digital Muhammadiyah,” kata Farid.
Farid menjelaskan, SITAMA dilengkapi dashboard analitik yang menampilkan jumlah masjid, mubalig, pengajian, dan jamaah secara real time.
“Kita bisa tahu wilayah mana yang banyak masjid tapi kekurangan mubalig. Data ini menjadi dasar pengambilan kebijakan dakwah yang lebih tepat sasaran,” paparnya.
Data terbaru menunjukkan, rasio mubalig terhadap masjid saat ini adalah 1:20, menandakan perlunya pemerataan tenaga dakwah di berbagai wilayah.
Farid menegaskan, aktivitas sederhana seperti mengisi data satu menit di SITAMA akan memberi dampak besar bagi masa depan dakwah. Karena data itu berharga.
“Dari data, strategi dakwah Muhammadiyah bisa lebih efektif, terukur, dan berkemajuan,” tutupnya.
