Gedung SMP Muhammadiyah Jatiroto 2, salah satu sekolah menengah pertama tertua di Jatiroto, kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Bangunan yang dulunya menjadi pusat kegiatan pendidikan Muhammadiyah dan melahirkan banyak alumni berprestasi ini, kini seolah terlupakan. Keberadaannya pun nyaris tak terlihat, karena sejak tahun 2007 harus berbagi lahan dengan SMK Muhammadiyah Jatiroto (SMK MuhaJa) yang terus berkembang pesat.
Pada Kamis (24/4), Ketua Layanan Lazismu Jatiroto, Arif Rohman Hakim, S.Si., melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Dalam kunjungan tersebut, Arif menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi fisik bangunan sekolah yang sangat tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar.
“Atap kelas jebol, tembok dipenuhi lumut hitam, papan tulis rusak dan jebol. Ini jelas tidak sehat, tidak layak dijadikan tempat belajar. Kita perlu bergerak bersama,” ungkap Arif.

Sebagai bentuk kepedulian awal, Lazismu Jatiroto menyerahkan bantuan dana renovasi sebesar Rp3.500.000, yang terdiri dari Rp1 juta dari Lazismu Jatiroto dan Rp2,5 juta dari Lazismu Kabupaten Lumajang. Bantuan ini diserahkan langsung oleh Arif kepada pihak sekolah, sebagai langkah awal untuk menggerakkan kembali perhatian masyarakat terhadap sekolah bersejarah ini.
“Kita ini sesama warga Muhammadiyah, walaupun tidak semua bekerja di dalamnya, tetap punya tanggung jawab moral. Hidup, hidupi Muhammadiyah. Jangan hanya cari hidup di Muhammadiyah,” tegas Arif, mengutip semangat gerakan Muhammadiyah masa kini.
Arif juga menekankan pentingnya semangat gotong-royong untuk membangkitkan kembali fasilitas pendidikan yang nyaris tenggelam oleh waktu. Ia mengajak seluruh warga dan simpatisan Muhammadiyah serta masyarakat umum untuk turut peduli dan menyisihkan rezeki demi renovasi gedung sekolah.
Donasi dapat disalurkan melalui: Bank BRI, Nomor Rekening: 632301045393531, Atas nama: Lazismu Jatiroto Konfirmasi ke WhatsApp: 0821-3949-2007.
Gedung SMP Muhammadiyah Jatiroto 2 pernah menjadi simbol eksistensi dan pencerahan pendidikan di era 1980-an. Kini, di tengah derasnya arus modernisasi dan keterbatasan lahan, bangunan itu nyaris hilang dari ingatan. Namun, harapan masih ada. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian, cahaya pendidikan bisa kembali dinyalakan.
Karena sejatinya, sebuah sekolah bukan hanya tembok dan atap, melainkan cerminan kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa. (syahrul ramadhan)
