Soal Kesadaran Sejarah Muhammadiyah, Guru Besar Unair Paparkan Solusi Konkret

www.majelistabligh.id -

Dorongan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Syafiq A. Mughni, untuk menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap sejarah Muhammadiyah mendapat respons dari berbagai kalangan.

Salah satunya datang dari Prof. Purnawan Basundoro, Guru Besar Sejarah sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Dalam wawancaranya dengan Majelistabligh.id pada Sabtu (21/6/2025), ia menyampaikan bahwa kesadaran untuk merawat sejarah bukanlah sesuatu yang baru dalam tubuh Muhammadiyah.

Sejak awal berdirinya, organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini telah menunjukkan komitmen tinggi dalam menjaga jejak perjuangan dan pemikirannya.

“Kesadaran sejarah dalam organisasi Muhammadiyah sudah tumbuh sejak organisasi ini dilahirkan,” ujarnya.

Prof. Purnawan menyebut bahwa langkah awal yang monu

mental dalam menjaga warisan intelektual Muhammadiyah adalah pendirian Bagian Taman Poestaka pada 17 Juni 1920.

“Inilah cikal bakal dari Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) yang kita kenal sekarang,” kata Dewan Pakar Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah ini.

Menurutnya, majelis ini awalnya berfungsi menyediakan bacaan bermutu bagi warga Muhammadiyah. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini berkembang secara signifikan.

Selanjutnya, terbentuklah Uitgeefsterij Mij, sebuah lembaga penerbitan yang bertugas mendokumentasikan dan menyebarkan buku-buku serta sumber tertulis lainnya yang memuat gagasan, keputusan organisasi, dan pemikiran para tokohnya.

“Tujuannya sangat mulia,” lanjut Prof. Purnawan. “Agar semua pemikiran serta keputusan organisasi tidak hilang begitu saja. Semuanya harus diarsipkan dengan baik karena kelak akan sangat berguna ketika Muhammadiyah menuliskan sejarahnya.”

Tiga Strategi Menjaga Memori Kolektif

Prof. Purnawan Basundoro menegaskan bahwa merawat ingatan kolektif di tubuh Muhammadiyah tidak bisa dilakukan sembarangan.

Harus ada strategi yang komprehensif dan menyentuh seluruh level organisasi—dari pusat hingga ranting—termasuk amal usaha dan organisasi otonom.

Dia menyebutkan tiga langkah utama yang harus dilakukan. Pertama, mengumpulkan dan merawat arsip Muhammadiyah secara menyeluruh.

Langkah ini mencakup pengelolaan arsip di tingkat PP, PWM, PDM, PCM, ranting, organisasi otonom, dan amal usaha.

“Jangan sampai ada satu dokumen pun tercecer atau hilang karena dianggap tidak penting,” katanya.

Kedua, membangun museum yang komprehensif. Museum bukan sekadar tempat memajang benda-benda lama, melainkan pusat pendidikan dan kontemplasi sejarah.

“Museum Muhammadiyah yang sudah ada maupun yang direncanakan ke depan diharapkan dapat menjadi simpul penting dalam membangun kesadaran sejarah generasi Muhammadiyah masa kini dan mendatang,” tuturnya.

Ketiga, menulis sejarah Muhammadiyah secara berjenjang, mulai dari tingkat nasional, wilayah, daerah, cabang, hingga ranting. Termasuk pula penulisan biografi tokoh-tokoh Muhammadiyah yang memiliki kontribusi besar.

Prof. Purnawan menekankan bahwa upaya serius untuk menulis sejarah ini telah ditegaskan dalam Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta.

Dalam muktamar tersebut, Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah diberi mandat untuk menulis Sejarah Muhammadiyah Indonesia (SMI).

Penulisan ini tidak dilakukan sendirian, melainkan melibatkan para sejarawan Muhammadiyah dari berbagai daerah.

“Hanya dengan menuliskan sejarahnya, kiprah Muhammadiyah akan dikenal secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.

Saat ini, lanjut Prof. Purnawan, MPI PP Muhammadiyah sedang menggarap proyek besar penulisan Sejarah Muhammadiyah Indonesia.

Di samping itu, banyak PWM dan PDM yang mulai menulis dan menerbitkan sejarah Muhammadiyah lokal.

“Beberapa daerah bahkan sudah memiliki buku sejarah Muhammadiyahnya sendiri,” ungkapnya dengan nada optimistis.

Ensiklopedia Muhammadiyah

Untuk mendukung gerakan penulisan sejarah ini, MPI PP Muhammadiyah juga telah menerbitkan Ensiklopedia Muhammadiyah 2.0. Ensiklopedia ini memuat informasi lengkap tentang sejarah, tokoh, tahun-tahun penting, dan dinamika organisasi Muhammadiyah sejak berdiri hingga saat ini.

“Ensiklopedia ini bisa menjadi fondasi awal yang sangat penting untuk melacak dan menulis sejarah Muhammadiyah secara luas,” imbuhnya.

Muhammadiyah, yang selama ini dikenal melalui kiprahnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan dakwah kemasyarakatan, ternyata juga memiliki kesadaran sejarah yang tinggi.

Prof. Purnawan menegaskan bahwa tanpa kesadaran sejarah, sebuah organisasi mudah kehilangan jati diri, kehilangan arah, dan terputus dari akar perjuangannya.

“Menjaga sejarah bukan semata-mata romantisme masa lalu, melainkan menjaga nyala peradaban,” ujarnya menutup pernyataan.

Melalui upaya dokumentasi, penulisan, dan pengarsipan sejarahnya, Muhammadiyah kembali menunjukkan dirinya bukan sekadar organisasi sosial-keagamaan, melainkan juga penjaga ingatan kolektif bangsa yang membawa misi panjang bagi kemajuan umat dan negara. (wh)

Tinggalkan Balasan

Search