Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Blimbing menggelar pengajian rutin Ahad Pagi yang berlangsung di Pondok Pesantren Modern Imam Syuhodo, Wonorejo, Polokarto, Sukoharjo.
Acara bertema “Bekal Menyambut Bulan Ramadan” ini dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai kalangan, baik putra maupun putri, tua maupun muda, termasuk santriwan dan santriwati pondok pesantren tuan rumah.
Pengajian kali ini menghadirkan Ustadz Dr. KH. Hakimudin Salim, Lc, M.A, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai pembicara. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan pada bulan Syakban agar jamaah berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadan.
“Ini bentuk tawaduk kita kepada Allah, bapak ibu. Kita merasa bahwa kita tidak tahu usia kita sampai kapan, kita tidak tahu apakah Ramadan yang tinggal beberapa hari lagi apakah betul-betul kita akan menemuinya atau tidak,” ujarnya.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut menyampaikan bahwa setidaknya ada empat hal yang menjadi bekal menyambut datangnya Ramadan.
“Bekal pertama, Al I’dad Ar Ruhi, persiapan spiritual. Seperti dicontohkan Rasulullah saw yang mempersiapkan Ramadan dengan memperbanyak berpuasa sunah,” terangnya.
Mudir ma’had Abu Bakar Ash Shidiq UMS tersebut melanjutkan bahwa persiapan selanjutnya yang penting adalah persiapan ilmu.
“Targetkan dari Ramadan sebelumnya sampai datang Ramadan lagi belajar tentang puasa, dari kitab-kitab para ulama, tahun ini belajar ‘Fiqih Sunnah’-nya Sayyid Sabiq, Ramadan selanjutnya selesaikan belajar ‘Fiqih Siyam’-nya Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, menghadapi Ramadan berikutnya selesaikan membaca ‘Majelis Syahru Ramadan’-nya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,” pesannya.
Alumni Doktoral Universitas Islam Madinah tersebut juga berpesan kepada jamaah agar membahas dan mengupas putusan dan fatwa Tarjih Muhammadiyah berkaitan dengan puasa di bulan Ramadan.
“Fatwa-fatwa Tarjih dari tahun ke tahun pasti ada yang baru, bahas itu, biar puasa kita selalu berada di atas ilmu,” lanjutnya.
Bekal Ramadan selanjutnya adalah persiapan merencanakan Ramadan (Al-I’dad At-Takhthithi), mengevaluasai Ramadan yang lalu untuk memperbaiki Ramadan yang akan datang.
“Kemudian satu lagi yang sangat penting adalah Tarbiyah Dzatiyah (pendidikan diri). Karena tidak ada yang pahan terhadap diri kita kecuali diri kita sendiri,” ujarnya.
Mengakiri pengajian beliau menyampaikan pesan Rasulullah saw bahwa hendaknya kita salat seperti mau mati, seperti salat terakhir, begitu juga dengan Ramadan.
“Kalau kita ingin ibadah kita maksimal, seolah-olah ini adalah Ramadan yang terakhir, karena kita tidak bisa memastikan masih ketemu dengan Ramadan lagi berikutnya,” pungkasnya.|| Ahmas Nasri
