Spiritualitas Agama di Tengah Kemunafikan Politik: Kegelisahan Intelektual dan Seruan Kembali pada Nilai Profetik

Dr. Slamet Muliono Redjosari dan karyanya Spiritualitas Agama di Tengah Kemunafikan Politik.
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Di tengah arus deras modernitas yang sarat dengan kepentingan politik, materialisme, dan pencitraan, kegelisahan intelektual muncul dari kalangan akademisi yang masih memegang teguh nilai-nilai profetik. Salah satu suara itu datang dari Dr. Slamet Muliono Redjosari, akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Melalui bukunya yang berjudul “Spiritualitas Agama di Tengah Kemunafikan Politik,” ia menyuarakan kritik sekaligus refleksi mendalam tentang bagaimana agama kerap terpinggirkan atau bahkan dimanfaatkan dalam praktik politik kontemporer.

Buku karya Dr. Slamet Muliono Redjosari, yang juga Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim itu, diluncurkan pada rangkaian Pengajian Ramadan yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur pada 21–22 Februari 2026 di Universitas Muhammadiyah Jember.

Lahir dari Sebuah Kegundahan

Buku ini lahir dari kegundahan Dr. Slamet, melihat adanya pertarungan antara nilai-nilai profetik—yang menekankan kejujuran, keadilan, dan ketauhidan—dengan realitas politik yang sering kali dipenuhi kemunafikan, manipulasi, dan kepentingan sesaat. Dalam pandangannya, agama tidak lagi selalu menjadi sumber moralitas publik, tetapi justru terkadang dijadikan alat legitimasi kekuasaan.

Pada bagian awal buku, penulis langsung mengajak pembaca untuk merenungkan kondisi masyarakat modern yang menurutnya mengalami krisis spiritual. Ia menggambarkan adanya kecenderungan untuk “mengotori pemurnian Allah,” yakni ketika nilai-nilai tauhid tercampur dengan ambisi duniawi. Dunia modern sering dipenuhi angan-angan kosong. Juga mengabaikan dimensi spiritual yang menjadi fondasi kehidupan manusia.

Melalui pendekatan tematik terhadap Al-Qur’an dan kisah-kisah para nabi, Dr. Slamet membangun argumen bahwa tantangan terbesar umat manusia sepanjang sejarah bukan hanya soal ekonomi atau politik, tetapi soal menjaga kemurnian iman di tengah godaan kekuasaan.

Ia mengangkat kisah para nabi sebagai teladan moral yang menunjukkan bagaimana spiritualitas harus tetap menjadi fondasi dalam menghadapi godaan duniawi. Nabi Muhammad menghadapi tekanan politik, sosial, dan ekonomi, tetapi tetap konsisten dalam menegakkan keadilan dan kebenaran.

Terdiri Atas Lima Tema Besar

Buku ini dibagi ke dalam lima tema besar, yaitu ketauhidan, kisah para nabi, syariat, spiritualitas sosial, serta politik dan kekuasaan. Pembagian ini menunjukkan upaya penulis untuk menghubungkan dimensi teologis dengan realitas sosial-politik secara utuh. Ia menegaskan bahwa tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi juga prinsip etis yang harus tercermin dalam kehidupan publik, termasuk dalam praktik politik.

Kritik terhadap kemunafikan politik menjadi salah satu kekuatan utama buku ini. Penulis menyoroti fenomena elit politik yang menggunakan simbol dan retorika agama, tetapi dalam praktiknya mengabaikan nilai-nilai ketuhanan seperti kejujuran dan keadilan.

Menurut Dr. Slamet, kemunafikan politik bukan sekadar persoalan moral individu, tetapi juga refleksi dari krisis spiritual masyarakat. Ketika agama kehilangan peran sebagai sumber etika publik, maka politik mudah berubah menjadi arena perebutan kekuasaan tanpa batas moral. Dalam konteks ini, spiritualitas agama memiliki peran penting sebagai kekuatan transformatif yang mampu mengembalikan orientasi manusia pada nilai-nilai ilahiah.

Lebih jauh, buku ini juga mengajak pembaca untuk memahami bahwa spiritualitas bukan berarti menjauh dari kehidupan sosial atau politik. Sebaliknya, spiritualitas justru harus menjadi fondasi dalam membangun kehidupan sosial yang adil dan bermartabat.

Penulis menekankan pentingnya integrasi antara kesadaran keagamaan dan tanggung jawab sosial-politik, sehingga agama tidak hanya menjadi ritual pribadi, tetapi juga kekuatan moral dalam kehidupan publik.

Sebagai akademisi, Dr. Slamet melihat langsung bagaimana dinamika sosial dan politik memengaruhi kehidupan masyarakat. Pengalaman ini memperkaya analisisnya, sehingga buku ini tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga kontekstual dan relevan dengan realitas masyarakat Indonesia saat ini.

Pada akhirnya, “Spiritualitas Agama di Tengah Kemunafikan Politik” bukan hanya sebuah kritik, tetapi juga sebuah seruan. Seruan untuk kembali kepada esensi Islam yang murni, yang menempatkan tauhid sebagai pusat kehidupan dan menjadikan keadilan sebagai tujuan utama.

Bagi pembaca yang mendambakan integrasi antara iman dan kesadaran sosial, buku ini menawarkan refleksi yang mendalam dan relevan. Ia mengajak kita untuk tidak hanya menjadi umat yang taat secara ritual, tetapi juga berani menghadirkan nilai-nilai profetik dalam kehidupan sosial dan politik.

Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh godaan, pesan ini menjadi semakin penting: bahwa kekuatan sejati agama terletak pada kemampuannya membentuk manusia yang jujur, adil, dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan dan sesama manusia. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search