Menjelang puncak haji, yaitu wukuf di Arafah pada 5 atau 6 Juni mendatang, pemerintah Indonesia terus mematangkan persiapan di Mina dan Arafah agar jemaah bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman. Termasuk dalam penataan maktab atau markas.
Salah satu fokus utama tahun ini adalah memastikan pasangan suami-istri, jemaah lansia, dan disabilitas tetap bersama pendamping mereka selama puncak haji.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief, usai meninjau langsung kesiapan maktab di Mina, Selasa (27/5), menjelaskan bahwa pendataan akhir sedang difinalisasi agar penempatan jemaah sesuai kebutuhan.
“Data sudah selesai, dan sekarang sedang divalidasi sektor-sektor. Kita akan sampaikan ke syarikah terkait dengan data akhir yang kita miliki, siapa jemaahnya, maktab mana, jumlahnya berapa,” ujarnya.

Hilman menjelaskan, satu maktab bisa berisi hingga 3.700 jemaah yang tersebar di beberapa tenda. Karena itu, koordinasi yang matang penting agar pasangan, pendamping lansia, dan disabilitas bisa dikelompokkan berdekatan, meski tidak harus selalu berada satu ruangan.
“Kita dorong mereka berada dalam maktab yang sama atau berdekatan. Tapi bukan berarti satu kamar, karena ada aturan tertentu, misalnya perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki,” jelasnya.
Selain soal penempatan, pemerintah juga memperhatikan aspek kenyamanan dan keselamatan. Hilman mencatat, penataan kasur harus diperbaiki agar pergerakan jemaah lebih mudah.
“Kasur di pojok-pojok tenda juga perlu diisi agar lebih nyaman,” tambahnya. Sanitasi pun diperhatikan, termasuk adanya tambahan toilet bertingkat dari pemerintah Arab Saudi di beberapa maktab.
Tak kalah penting, pemerintah juga mulai mempersiapkan edukasi kepada jemaah tentang cuaca panas ekstrem di Arafah dan Mina. Sosialisasi awal dilakukan melalui pembimbing ibadah di musala-musala, sementara edaran resmi akan segera disampaikan.
“Kita masih menunggu kedatangan sekitar 40 ribu jemaah lagi, nanti kita cari waktu yang tepat untuk edaran,” katanya.
Dengan strategi penataan maktab ini, pemerintah berharap seluruh jemaah bisa menjalani puncak ibadah haji tanpa stres karena terpisah dari orang-orang terdekat.
“Kami ingin jemaah merasa nyaman, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara psikologis,” pungkas Hilman. (afifun nidlom)
