Strategi, Resistensi dan Kemanusiaan dalam Konflik Gaza

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M. Ainul Yaqin Ahsan, M.Pd
Anggota MTT PDM Lamongan

Konflik Gaza tidak hanya mencerminkan pertarungan fisik, tetapi juga perang narasi, strategi geopolitik, dan pertarungan ekonomi. Dari kebijakan Trump yang dianggap kalkulatif hingga kekejaman yang semakin menjadi-jadi di Gaza, situasi ini menuntut analisis mendalam tentang bagaimana kekuatan global bermain, peran media, dan respons umat manusia, khususnya Muslim, dalam menghadapi ketidakadilan.

Trump: Bisnis dan Strategi Geopolitik

Donald Trump sering dianggap sebagai politisi impulsif, namun tulisan ini menegaskan bahwa ia adalah seorang pebisnis yang cerdik. Kolaborasinya dengan Elon Musk dan para miliarder lain dalam kabinet menunjukkan pemahamannya bahwa “orang kaya mengendalikan uang, bukan sebaliknya.” Kebijakannya, seperti penarikan dana dari Ukraina untuk dialihkan ke Gaza, bukanlah tindakan tantrum, melainkan langkah strategis untuk mempertahankan hegemoni AS. Trump menggunakan pencitraan media, seperti video “Trum Gaza,” untuk mengalihkan perhatian dari penderitaan warga Gaza ke narasi yang menguntungkan AS.

Krisis Kemanusiaan Gaza: Dari Ambulans Hingga Generasi yang Hilang

Gaza hari ini adalah panggung kekejaman yang tak tertahankan: bayi tanpa kepala, jurnalis terbakar, dan ambulans yang dibom. Setiap video yang viral bukan sekadar berita, melainkan saksi bisu syahidnya para pejuang kemanusiaan. Tragedi seperti kematian Hindrajab dan petugas PBB non-Muslim menunjukkan bahwa kekejaman ini melampaui batas agama, ini adalah persoalan kemanusiaan universal. Namun, dunia internasional yang dikendalikan oleh lima negara pemilik hak veto PBB memilih berdiam diri, membiarkan standar ganda berkuasa.

Geopolitik Global: Kepentingan di Balik Konflik

Prancis, AS dan Rusia terlibat dalam permainan kekuasaan di Timur Tengah. Upaya Prancis untuk menggulingkan Hamas dan menggantinya dengan Otoritas Palestina yang pro-Barat adalah pengulangan taktik kolonial klasik: divide et impera.

Sementara itu, AS menggunakan Gaza sebagai alat untuk mengalihkan dana dan senjata dari konflik lain seperti Ukraina. Ketidakmampuan negara-negara Muslim bersatu, ditambah ketergantungan ekonomi seperti Indonesia pada ekspor sawit ke AS semakin memperparah situasi.

Pergeseran Generasi dan Amnesia Sejarah

Generasi muda Gaza yang lahir pasca-2005 tidak menyaksikan langsung perjuangan awal Hamas. Seperti anak Indonesia yang meromantisasi penjajahan Belanda, mereka mungkin terjebak dalam narasi yang mengabaikan akar penjajahan Israel. Amnesia sejarah ini dimanfaatkan oleh Israel untuk menciptakan perpecahan internal, seperti demonstrasi anti-Hamas yang dibajak menjadi kampanye delegitimasi perjuangan bersenjata.

Media mainstream mengontrol narasi dengan algoritma yang membatasi informasi tentang Gaza hanya di kalangan aktivis. Namun, video seperti syahidnya petugas ambulans yang direkam sendiri menjadi bukti bahwa kebenaran tak bisa disembunyikan. Boikot produk AS dan sekutunya, meski sering dianggap kecil namun memiliki dampak signifikan. Mengurangi ketergantungan pada merek-merek global tidak hanya melemahkan ekonomi penjajah tetapi juga membuka peluang bagi UMKM lokal, sebuah bentuk resistensi ekonomi yang kongkret.

Fajar Setelah Kegelapan

Kegelapan di Gaza mungkin terasa abadi, tetapi sejarah Islam mengajarkan bahwa pertolongan Allah datang di ujung keputusasaan. Seperti kata pepatah, “Malam paling gelap menjelang fajar.” Tugas kita bukan hanya berdoa, tetapi aktif dalam setiap lini—ekonomi, politik, dan pendidikan.

Gaza bukan sekadar konflik lokal; ia adalah cermin kegagalan manusia global dalam menjunjung keadilan. Namun, selama masih ada yang bersuara, beraksi dan percaya pada perubahan, harapan untuk kemerdekaan tetap hidup. (*)

Tinggalkan Balasan

Search