*) Oleh: Dr. Ajang Kusmana
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai seorang laki-laki yang tampak begitu ramah, sopan, dan santun dalam pergaulan sosial. Ia menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap teman, rekan kerja, dan orang-orang di sekitarnya.
Namun, di balik keramahan tersebut, ada sisi lain yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Ada sebagian laki-laki yang, ketika berada di dalam rumah, memperlakukan istrinya dengan kasar, gemar membentak, atau bahkan melakukan kekerasan fisik.
Hal ini tentu menjadi ironi yang menyedihkan, di mana seseorang yang tampak baik di luar ternyata memperlakukan pasangannya dengan tidak manusiawi.
Akhlak Seorang Suami di Mata Istri
Salah satu cara paling jujur untuk menilai akhlak seorang laki-laki adalah melalui kesaksian istrinya. Mengapa demikian? Sebab, dalam rumah tangga, suami memiliki kedudukan sebagai pemimpin dan memiliki kekuasaan tertentu dalam mengatur kehidupan bersama istrinya.
Dalam kondisi ini, suami memiliki kebebasan untuk menunjukkan sifat aslinya tanpa perlu berpura-pura seperti yang mungkin ia lakukan di luar rumah. Seorang suami yang memiliki akhlak buruk bisa saja melampiaskan emosinya kepada istrinya tanpa rasa takut akan penilaian orang lain.
Sebaliknya, di lingkungan sosial, seorang laki-laki mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan keburukan akhlaknya. Ia bisa jadi hanya seorang bawahan dalam pekerjaannya atau seseorang dengan status sosial yang lebih rendah, sehingga ia lebih berhati-hati dalam bersikap karena takut mendapatkan celaan atau kehilangan reputasi.
Namun, di dalam rumah, di mana tidak ada orang lain yang menyaksikan, ia merasa bebas untuk bersikap sewenang-wenang kepada istrinya.
Kelemahan Fisik dan Emosional Wanita sebagai Ujian bagi Suami
Dalam hubungan suami istri, wanita secara fisik dan emosional cenderung lebih lemah dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, interaksi seorang laki-laki dengan istrinya merupakan cerminan sejati dari akhlaknya.
Jika seorang suami mampu bersikap lemah lembut, penuh kasih sayang, dan menghargai istrinya yang lebih lemah darinya, maka itu adalah bukti bahwa ia benar-benar memiliki akhlak yang baik.
Sebaliknya, jika ia justru memanfaatkan kelemahan istrinya untuk menunjukkan kekuasaan dan melampiaskan emosinya, maka hal itu menunjukkan karakter buruknya yang sebenarnya.
Dalam ajaran Islam, kebaikan seorang laki-laki diukur dari bagaimana ia memperlakukan istrinya. Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah sosok suami yang paling baik kepada istri-istrinya. Beliau memberikan contoh nyata bagaimana seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan penuh cinta, kelembutan, dan penghormatan.
Sebagaimana sabda beliau:
“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162, Ibnu Majah no. 1987, sahih)
Dalam hadis lain, beliau juga bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, sahih)
Dari hadis-hadis di atas, jelas bahwa ukuran kebaikan seorang laki-laki bukan hanya dinilai dari perilakunya di luar rumah, tetapi juga—dan bahkan lebih penting—dari bagaimana ia memperlakukan istrinya.
Rasulullah saw, sebagai teladan utama dalam Islam, memberikan contoh nyata bagaimana seorang suami harus memperlakukan istri dengan kasih sayang, kelembutan, dan penghormatan.
Pandangan Ulama tentang Akhlak Suami terhadap Istri
Seorang ulama besar, Muhammad bin Ali Asy-Syaukani rahimahullah, menegaskan bahwa salah satu indikasi utama dari kebaikan seseorang adalah bagaimana ia memperlakukan istrinya. Beliau menyatakan:
“Dalam hadis ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat, dan penolakan mudharat.”
Lebih lanjut, beliau juga mengingatkan tentang fenomena yang sering terjadi di masyarakat, di mana seorang pria bisa bersikap sangat baik kepada orang lain tetapi buruk kepada istrinya.
“Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini. Engkau melihat seorang pria, jika bertemu dengan istrinya, maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan paling sedikit kebaikannya. Namun, jika ia bertemu dengan orang lain, ia bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi, barang siapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus.” (Nailul Authar 6/245-256, Darul Hadits, Mesir, cet. I, 1413 H, Syamilah)
Pernyataan ini memberikan pengingat bagi para suami bahwa kebaikan sejati seseorang tidak bisa diukur hanya dari bagaimana ia berinteraksi dengan dunia luar, tetapi juga—dan terutama—dari bagaimana ia memperlakukan orang yang paling dekat dengannya, yaitu istrinya.
Akhlak seorang laki-laki yang sesungguhnya dapat dilihat dari bagaimana ia memperlakukan istrinya. Jika ia bisa bersikap penuh kasih sayang, adil, dan tidak menyalahgunakan kekuasaannya sebagai kepala rumah tangga, maka itu adalah bukti dari akhlaknya yang mulia.
Sebaliknya, jika ia hanya menunjukkan kebaikan di hadapan orang lain tetapi bersikap kasar kepada istrinya, maka itu adalah tanda bahwa kebaikannya hanyalah kepura-puraan.
Islam telah mengajarkan bahwa seorang suami yang baik adalah yang paling baik kepada istrinya. Rasulullah saw telah memberikan teladan dalam hal ini, dan sebagai umatnya, sudah seharusnya para suami meneladani beliau dalam memperlakukan istri dengan penuh cinta dan hormat.
Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi suami yang baik di mata manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT. (*)
