Suara ‘Aisyiyah, 100 Tahun Literasi Dakwah Perempuan Muhammadiyah

Edisi majalah suara Asiyiyah zaman dulu. (ist)
www.majelistabligh.id -

Bicara tentang pers Muhammadiyah, khususnya di ranah gerakan perempuan, ‘Aisyiyah memiliki media bersejarah, yakni Suara ‘Aisyiyah. Pers perempuan ini mampu bertahan lintas generasi dan hingga menjelang usia satu abad tetap terbit secara rutin setiap bulan.

Suara ‘Aisyiyah pertama kali terbit pada Oktober 1926. Tokoh pelopornya adalah Siti Juhainah yang menjadi Pemimpin Redaksi pertama, bersama rekan-rekannya seperti Siti Badilah dan Siti Jilalah. Selain itu, terdapat sejumlah tokoh lain yang berperan penting dalam sejarah awal Suara ‘Aisyiyah, di antaranya Siti Asmanah, Siti Wakirah, Siti Hajinah, Siti Wadhiyah, dan Siti Bariyah.

Pemimpin Redaksi Suara ‘Aisyiyah saat ini, Hajar Nur Setyowati, menjelaskan bahwa meski konsisten terbit hampir satu abad, Suara ‘Aisyiyah pernah mengalami masa tidak terbit dalam situasi tertentu, salah satunya pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.

“Untuk tetap terbit sampai hari ini membutuhkan energi yang luar biasa. Pendanaan memang penting, tetapi tidak cukup hanya itu,” kata Hajar Nur Setyowati.

Menurut Hajar, tantangan akan selalu ada. Namun, spirit perjuangan, nilai-nilai keislaman, serta keyakinan bahwa literasi merupakan bagian dari dakwah, perjuangan, dan amal saleh perempuan, menjadi kekuatan yang membuat Suara ‘Aisyiyah terus berikhtiar hadir di tengah umat.

“Literasi adalah bagian dari amal saleh perempuan. Spirit itulah yang membuat Suara ‘Aisyiyah terus berusaha untuk tetap terbit,” tegasnya.

Lahir Sebagai Amanah Dakwah

Para pendiri Suara ‘Aisyiyah meyakini bahwa media ini dapat bertahan hingga ratusan tahun. Keyakinan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa Suara ‘Aisyiyah lahir sebagai amanah dakwah yang harus terus disebarluaskan. Melalui media inilah ‘Aisyiyah memperluas dakwahnya lewat jalur literasi dan pemikiran.

“Pada masa itu, masih sangat sedikit perempuan yang memiliki akses pendidikan, kemampuan membaca dan menulis, serta ruang untuk menuangkan gagasan. Akses pengetahuan bagi perempuan sangat terbatas, sehingga Suara ‘Aisyiyah menjadi alternatif sumber literasi bagi perempuan,” jelas Hajar.

 

Edisi majalah Suara Aisyiyah zaman kini. (ist)
Edisi majalah Suara Aisyiyah zaman kini. (ist)

Ia menambahkan, pada masa awal terbitnya Suara ‘Aisyiyah, masih banyak pandangan yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak setara. Kehadiran Suara ‘Aisyiyah menjadi jawaban atas kondisi tersebut.

“Peran berikutnya adalah syiar Islam Berkemajuan. Saat itu masih ada doktrin yang memosisikan perempuan sebatas ‘konco wingking’. Padahal Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sejak awal memiliki pandangan bahwa perempuan juga dapat beramal saleh sebagai pribadi, dan memperoleh kemuliaan di hadapan Allah atas perbuatannya,” terangnya.

Selain itu, Suara ‘Aisyiyah juga berfungsi sebagai media komunikasi organisasi. Pada masa perkembangan ‘Aisyiyah yang sangat pesat, dibutuhkan sarana untuk menyebarluaskan gagasan, pemikiran, dan gerakan organisasi kepada anggotanya.

“Bagaimanapun, Suara ‘Aisyiyah lahir dari sebuah organisasi yang memiliki tujuan mewujudkan masyarakat madani. Empat peran itu—literasi, dakwah, syiar Islam Berkemajuan, dan komunikasi organisasi—tetap relevan sejak awal berdiri hingga hari ini,” ujarnya.

Berkembang Mengikuti Zaman

Zaman terus berganti, namun Suara ‘Aisyiyah tetap hadir dan beradaptasi. Kini, Suara ‘Aisyiyah tidak hanya terbit dalam bentuk majalah cetak, tetapi juga dapat diakses melalui laman website, media sosial, dan e-magazine.

“Selain memanfaatkan media sosial, kami juga tetap mengangkat isu-isu yang relevan dan aktual. Aktualitas masih menjadi nilai penting,” kata Hajar.

Ia juga menyebutkan bahwa Suara ‘Aisyiyah melibatkan peran generasi muda dalam kerja-kerja redaksi. Ke depan, Suara ‘Aisyiyah berupaya merawat komunitas penulis muda agar tradisi literasi terus hidup di tengah melimpahnya arus informasi digital.

“Kami ingin anak-anak muda tetap membaca, menulis, dan menghidupkan literasi. Ini bukan hanya soal regenerasi Suara ‘Aisyiyah, tetapi juga tentang menjaga budaya literasi itu sendiri,” imbuhnya.

Terkait peringatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari, Hajar berharap pers dapat terus menjadi bagian dari gerakan sosial dan perubahan.

“Hari pers juga bicara tentang kedaulatan bangsa. Jurnalis muda harus mampu mengambil peran strategis, menjadikan pers sebagai pilar keempat demokrasi, sekaligus penguat perubahan sosial agar bangsa ini semakin berkemajuan dan berdaulat,” pungkas Hajar. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search