Sujud Syukur di Tengah Lautan Nikmat yang Tak Terhitung

www.majelistabligh.id -

Sesungguhnya para ulama mengatakan: “Iman itu terdiri atas dua perkara, separuhnya sabar, dan separuhnya yang lain adalah syukur.”

Yaitu, seseorang bersyukur kepada Allah atas nikmat yang Allah berikan dan bersabar atas ujian dan musibah yang Allah berikan. Ketika telah terkumpul pada diri seorang sifat sabar dan syukur maka telah sempurnalah imannya.

Oleh karena itu, terdapat dalam banyak ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggabungkan dua sifat ini.

Contohnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaranNya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.” (QS. Luqman : 31)

Pada kesempatan kali ini, kita akan berbicara tentang syukur.  Di antara hal yang membantu kita untuk pandai bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu merenungkan bahwasanya nikmat Allah kepada kita sangatlah banyak.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan segala nikmat yang ada padamu datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl : 53)

Nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat tauhid kepada Allah , kesehatan, nikmat keluarga, nikmat memiliki rumah, nikmat keamanan, nikmat ketenteraman, nikmat jabatan, dan segala nikmat apapun yang kita rasakan semuanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Terlebih lagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam dua ayat yang lain:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. An-Nahl : 18)

Jika seseorang duduk, kemudian dia berjam-jam bahkan berhari-hari mencoba untuk menghitung nikmat-nikmat Allah yang Allah berikan kepadanya, kata Allah: “Kalian tidak akan mampu untuk menghitungnya.”

Kenapa seseorang tidak bisa menghitung nikmat Allah?
Karena nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala terlalu banyak yang diberikan kepada kita.

Di antara bentuk- bentuk nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah nikmat yang lahir dan nikmat yang batin.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk kepentinganmu dan menyempurnakan nikmatNya untukmu lahir dan batin.”
(QS. Luqman : 20)

Nikmat lahir adalah nikmat yang sering kita lihat dan yang kita rasakan secara langsung seperti kesehatan, memiliki rumah, memiliki istri, miliki anak-anak, hidup bernegara, hidup dengan ketenteraman, hidup dengan kenyamanan, kita bisa belajar, bisa sekolah, bisa melihat anak-anak bermain dengan ceria, ini semua adalah kenikmatan yang lahir.

Selain itu, terdapat pula nikmat batin dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan nikmat tersebut merupakan nikmat yang sangat mulia melebihi nikmat zahir yang kita rasakan.

Di antara nikmat batin tersebut adalah nikmat iman, dan nikmat tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, tatkala Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan surat An-Nahl, sebagian ulama menambahkan surat ini dengan surah An-Ni’am, yaitu surah tentang nikmat- nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mengapa? Karena pada surah ini Allah membuka dengan menyebut nikmat- nikmatNya, yaitu mulai ayat pertama sampai ayat ke delapan belas, dan ketika sampai ayat ke-18, Allah berfirman:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. An-Nahl : 18)

Pada surah An-Nahl tersebut, nikmat pertama yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan:
“Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat datangnya.
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya, dengan berfirman:  “Peringatkanlah hamba-hambaKu, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa kepada-Ku.”
(QS. An-Nahl : 1-2)

Ternyata nikmat pertama yang Allah sebutkan dari rentetan nikmat- nikmatNya adalah nikmat tauhid. Dan hal Ini terkadang tidak kita sadari, padahal ini adalah nikmat batin yang luar biasa.

Lihatlah manusia di sekeliling kita, betapa banyak bahkan milyaran manusia masih menyembah manusia, masih menyembah Nabi. Bahkan miliaran manusia masih menyembah berhala, menyembah sapi.

Dan juga betapa banyak orang yang masih melakukan kesyirikan, masih banyak percaya kepada dukun, masih banyak memberi sajen kepada ruh-ruh dan jin-jin, sementara Allah katakan:

“Peringatkanlah hamba-hamba-u, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa kepada-Ku.” (QS. An-Nahl : 2)

Itulah nikmat iman dan nikmat tauhid, nikmat yang akan menyelamatkan seorang kelak di akhirat dari neraka Jahannam yang kekal abadi, menuju kepada kenikmatan surga yang abadi pula.

Di antara nikmat batin yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan adalah nikmat ketenteraman dan nikmat kebahagiaan.

Betapa sering kita merasa tenang meskipun kita tidak memiliki harta yang banyak, meskipun kita tidak memiliki kemewahan, bahkan terkadang tatkala kita tidak memiliki jabatan.

Akan tetapi dengan ketakwaan dan keimanan-lah sehingga Allah berikan kebahagiaan kepada orang yang beriman. Itu adalah nikmat batin.

Allah SWT berfirman :

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki- laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nah : 97)

Inilah di antara nikmat-nikmat Allah, baik nikmat lahir maupun batin.
Selain itu, ada pula nikmat-nikmat dari Allah yang senantiasa kita ingat. Nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat yang luar biasa, sehingga terkadang kita sujud syukur karena nikmat tersebut.

Di antaranya adalah nikmat kelulusan, nikmat naik pangkat, nikmat naik jabatan, nikmat naik gaji, nikmat menikah, nikmat meraih gelar, ini semua di antara nikmat-nikmat yang selalu kita ingat.

Bahkan lebih dari itu, kita terkadang mengingat nikmat seperti tatkala kita sakit parah, namun tiba-tiba disembuhkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang seperti ini terkadang nikmat yang selalu kita ingat-ingat.

Selain itu, ada pula jenis nikmat yang lain, yaitu nikmat yang sering kita lupakan. Saking seringnya nikmat tersebut terus kita rasakan, sehingga seakan-akan nikmat tersebut adalah suatu perkara yang biasa dan akhirnya kita lupakan.

Di antara nikmat- nikmat tersebut, contohnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Dan pada diri kalian, apakah kalian tidak memperhatikan?” (QS.Adz-Dzariyat : 21)

Lihatlah anggota tubuh kita ini, bagaimana sistem pernapasan ?
Setiap detik kita bernapas, bukankah ini nikmat ?

Allah sediakan udara, oksigen untuk kita hirup. Allah letakkan jantung kita sehingga kita masih bisa menghirup udara.

Kalau sekiranya Allah berkehendak menghilangkan oksigen tersebut dan menghentikan detak jantung kita, maka selesailah hidup kita.

Nikmat tatkala kita sedang tidur, kita tidak bisa melakukan apa-apa, namun kita tetap bisa bernapas, jantung kita tetap berdetak, sungguh ini adalah nikmat yang luar biasa.
Selain itu, ada pula nikmat pandangan mata.

Sistem penglihatan yang Allah berikan kepada seorang manusia adalah sebuah nikmat yang luar biasa.

Tidak ada teknologi secanggih apa pun yang bisa meniru ciptaan Allah.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sesembahanmu selain Allah.” (QS. Luqman : 11)

Nikmat yang sehari- hari kita rasakan, sampai seringnya kita rasakan seakan-akan ini suatu hal yang harus bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga kita terkadang melupakan nikmat tersebut.
Pada ini nikmat yang sangat luar biasa.

Di antara bentuk- bentuk nikmat yang Allah berikan kepada kita, nikmat yang kita minta dan nikmat yang tidak kita minta.

Betapa banyak nikmat Allah dari apa-apa yang kita minta kepada Allah. Kita berdoa pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam sujud kita, kemudian setelah sholat kita menadahkan tangan minta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tatkala umrah dan haji kita bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam sholat malam kita berdoa kepada Allah, dan Allah memberikan banyak hal dari permintaan- permintaan yang kita minta. Sebaliknya, disana ada nikmat- nikmat yang Allah berikan meskipun kita tidak minta.

Di antaranya Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan dalam surah Ibrahim :

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian dengan air hujan itu Dia mengeluarkan berbagai buah- buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan sungai- sungai bagimu. Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus menerus beredar dalam orbitnya; dan telah menundukkan malam dan siang bagimu.” (QS. Ibrahim : 32-33)

Pada ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan nikmat- nikmat yang semua itu tidak pernah kita minta, akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala sediakan kepada kita.

Bahkan setelah ayat itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, :

“Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluanmu dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari nikmat Allah.” (QS. Ibrahim : 34)

Artinya banyak nikmat yang kita tidak minta ternyata Allah sediakan.
Oleh karenanya tatkala Nabi Musa AS berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Tha-ha waktu dia diutus kepada Firaun, maka dia berdoa :
“Dia Musa berkata,:
‘Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu, sesungguhnya Engkau Maha Melihat keadaan kami’.”
(QS. Thaha : 25-35)

Allah kemudian kabulkan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa’.(QS. Thaha : 36)

Setelah itu, Allah ingatkan kepada Nabi Musa as tentang nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya yang tidak pernah dia minta.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan sungguh, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain sebelum ini.”
(QS. Ibrahim : 37)

Kapan datangnya nikmat tersebut ?
Yaitu waktu Nabi Musa AS masih kecil.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, :

“yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan, yaitu, letakkanlah dia Musa di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai Nil, maka biarlah arus sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh Fir‘aun musuhKu dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Ibrahim : 38-39)

Ketika Nabi Musa as masih kecil dan belum bisa minta apa apa, Allah sudah berikan nikmat kepada Nabi Musa as. Sesungguhnya kita pun demikian, betapa banyak nikmat yang tidak kita minta kepada Allah, namun Allah berikan lebih daripada yang kita harapkan.

Betapa banyak kenikmatan yang kita tidak tahu itu adalah nikmat yang terbaik, ternyata Allah berikan nikmat tersebut kepada kita.

Dan di antara sekian banyak bentuk nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat dalam bentuk musibah.

Kita menyangka itu musibah, akan tetapi ternyata dibalik musibah tersebut ada hikmah dan ada nikmat yang luar biasa yang Allah berikan kepada kita.

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:
“Bisa Jadi kalian tidak menyenangi sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Betapa banyak orang terkena musibah ternyata dibalik musibah tersebut Allah berikan nikmat yang luar biasa.

Contohnya adalah Nabi Yusuf AS yang terkena musibah. Beliau dilemparkan oleh saudaranya dalam sumur, kemudian beliau dijual sebagai budak, kemudian setelah itu dia dituduh berzina dengan seorang wanita, kemudian di penjara.
Akan tetapi apa ujung dari musibah tersebut ?
Yaitu beliau menjadi Menteri Keuangan di negeri Mesir.
Kalau begitu, sebuah musibah jika ditambah dengan musibah berikutnya, kemudian ditambah musibah berikutnya, kemudian ditambah musibah lagi berikutnya, maka akan menghasilkan kenikmatan.

Oleh karena itu, hendaknya kita merenungkan nikmat- nikmat Allah agar kita bisa bersyukur dengan baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Nikmat-nikmat yang kita rasakan mengharuskan kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Namun bagaimanapun kita bisa berusaha untuk bersyukur, kita tidak bakalan mampu untuk mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Mengapa demikian ?
Karena segala nikmat yang kita rasakan tidak mampu kita mengumpulkannya.
Disuruh menghitungnya saja kita tidak bakalan mampu.
Nikmat napas saja kalau kita menghitungnya maka kita tidak akan mampu, nikmat detak jantung juga tidak akan mampu kita menghitungnya. Belum nikmat-nikmat yang lainnya.
Dari nikmat melihat, sudah berapa banyak yang sudah kita lihat ?
Dari nikmat pendengaran, sudah berapa banyak yang kita dengar ?
Dari nikmat lisan, sudah berapa banyak yang kita ucapkan ?
Dari nikmat tulisan, sudah berapa banyak yang kita tuliskan ?
Kalau kita disuruh untuk mensyukuri itu semua, maka kita tidak akan mampu.

Makanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.
Sungguh, manusia itu sangat dzolim dan sangat mengingkari nikmat Allah.” (QS. Ibrahim : 34)

Akan tetapi, kita tetap harus berusaha semaksimal mungkin untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lihatlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang shalat sampai kaki beliau bengkak, waktu ditanya oleh ‘Aisyah RA tentang mengapa beliau sholat sampai demikian ?

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur ?” (HR. Muslim)

Kita tentu tidak mampu seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS.Al-Baqarah : 286)

Maka dari itu, lakukanlah yang wajib wajib yang Allah perintahkan sebagai bentuk kecil rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena Allah Maha Pengampun.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam ayat yang lain:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl : 18)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu sabar dan bersyukur kepada Allah Subhanallahu Wa Ta’ala ketika menerima cobaan dan ujian atau ketika menerima nikmat-Nya. (*)

Tinggalkan Balasan

Search