Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) kembali mencatat prestasi akademik dengan bertambahnya guru besar baru. Prof. Dr. dr. H. Sukadiono, MM secara resmi meraih jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar dalam bidang Fisiologi Olahraga di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya).
Pengakuan ini diperkuat dengan sertifikat uji kompetensi jabatan akademik dosen bernomor 08911/B4/DT.04.01/2025.
Rektorat dan seluruh sivitas akademika UM Surabaya menyampaikan ucapan selamat atas pencapaian tersebut. Raihan ini tak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menambah kekuatan akademik kampus yang dikenal sebagai “Kampus Sejuta Inovasi.”
Sukadiono dikenal sebagai tokoh penting dalam pengembangan institusi. Pria kelahiran Jombang pada 18 Desember 1968 ini menjabat sebagai Rektor UM Surabaya selama tiga periode (2012–2024).
Di masa kepemimpinannya, banyak capaian kemajuan, prestasi, dan keunggulan yang telah diraih UM Surabaya. Kemajuan tersebut bukan hanya di bidang akademik, tetapi juga pembangunan infrastruktur.
Hal ini pada gilirannya menjadikan kampus dengan tagline “Sejuta Inovasi” ini menjelma menjadi perguruan tinggi swasta yang memiliki reputasi baik dan diperhitungkan.
Keberadaan Gedung At-Tauhid Tower dan Gedung At-Ta’awun Tower, misalnya, menjadi legacy penting selama dirinya menjadi Rektor UM Surabaya. Gedung At-Tauhid Tower merupakan gedung multifungsi yang terdiri dari 13 lantai dengan tinggi bangunan 48 meter. Sedangkan Gedung At-Ta’awun Tower adalah gedung 23 lantai, yang menjadi salah satu gedung universitas tertinggi di Indonesia.
Saat ini, Sukadiono menjabat Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur periode 2022–2027. Ia juga menjabat Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
Dikonfirmasi Majelistabligh.id pada Selasa malam (1/7/2025), Sukadiono menyataka bersyukur kepada Allah SWT atas amanah ini.
“Gelar Guru Besar ini bukan semata-mata pencapaian pribadi, tetapi hasil dari proses panjang, kerja keras, dan dukungan dari banyak pihak, terutama keluarga, para guru, kolega, dan sivitas akademika UM Surabaya,” ujar dia.
Menurut Prof Suko, menjadi Guru Besar bukan akhir dari perjalanan, tapi awal untuk memberikan kontribusi yang lebih besar. Amanah ini harus diiringi dengan tanggung jawab keilmuan dan sosial.
“Saya berharap bisa terus meneliti, menulis, dan berbagi ilmu, khususnya dalam bidang Fisiologi Olahraga, agar bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya
Dia berharap pencapaian ini juga bisa memotivasi dosen-dosen muda di UM Surabaya maupun di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk terus berkarya dan tidak berhenti belajar.
Bisa Jadi “Menara Air”
Sementara itu, Sekretaris PWM Jatim Prof. Biyanto mengucapkan selamat dan sukses atas jabatan Guru Besar yang resmi disandang Sukadiono.
“Sebagai kolega di PWM, saya mengucapkan mabruk wa najah untuk Ketua PWM Jatim, Prof. Sukadiono, atas capaian jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar di Universitas Muhammadiyah Surabaya,” katanya.
“Tentu tidak mudah meraih capaian tersebut. Apalagi persyaratan untuk meraih jabatan Guru Besar semakin banyak, terutama terkait publikasi di jurnal internasional bereputasi. Juga ada persyaratan lolos uji kompetensi,” imbuh Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Biyanto berharap, semoga Prof. Suko terus menghasilkan karya-karya yang bermanfaat untuk umat dan bangsa.
“Dengan tetap berkarya, Prof. Suko pasti akan menjadi intelektual publik. Ide dan gagasan Prof. Suko akan dinantikan oleh publik,” tutur Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini.
Dia menambahkan, penting diingat bahwa menjadi intelektual memang harus selalu risau dengan kondisi masyarakat. Dengan begitu, karya-karya seorang intelektual diharapkan mampu menjawab kebutuhan umat dan bangsa.
Dia berharap Prof. Suko tetap bisa menjadi layaknya “menara air”, seperti yang selama ini Prof. Suko tampilkan, yakni menjadi intelektual sekaligus aktivis sosial yang selalu hadir di tengah-tengah masyarakat.
“Menjadi menara air itu berarti harus senantiasa merasakan denyut nadi sekaligus persoalan umat. Selanjutnya, seorang intelektual mesti memberikan solusi yang bermanfaat,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Wakul Ketua PWM Jatim Dr. Sholihin Fanani. “Alhamdulillah, turut bersyukur dan bahagia atas capaian Pak Suko sebagai guru besar. Semoga ilmunya semakin bermanfaat untuk umat dan bangsa,” ujarnya..
Menurut dia, prestasi yang diraih Prof. Suko akan sangat bermanfaat untuk Muhammdiyah Jawa Timur dan Muhammadiyah secara umum. Juga sebagai motifasi bagi kader-kader muda Muhammadiyah agar bersemangat untuk terus menuntut ilmu di tengah kesibukannya sebagai aktivis. (wh)
