Sulthon Amien Beber Kunci Optimalisasi Pengembangan Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah

www.majelistabligh.id -

Penguatan Cabang, Ranting, dan Masjid menjadi agenda penting dalam menjaga denyut dakwah Muhammadiyah di tingkat akar rumput. Hal ini ditegaskan oleh Dr. HM Sulthon Amien, MM dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PWM Jatim di Aula Mas Mansur, Jalan Kertomenanggal IV/1, Surabaya, pada Sabtu (10/5/2025).

Dalam pemaparannya yang bertajuk “Optimalisasi Pengembangan Cabang, Ranting, dan Masjid”, Sulthon menekankan bahwa sinergi antarelemen serta penggunaan data yang akurat menjadi kunci utama dalam merancang masa depan gerakan Persyarikatan.

Dalam forum tersebut, Sulthon mengajak seluruh jajaran Muhammadiyah di tingkat daerah untuk tidak hanya bergerak dengan semangat, tetapi juga dengan strategi yang terukur.

“Sinergi diperlukan dalam pengembangan dan pemberdayaan cabang, ranting, dan masjid di PDM. Tanpa sinergi, langkah kita akan berjalan sendiri-sendiri, tidak saling menopang,” ujar Wakil Ketua PWM Jatim ini.

Sulthon menegaskan bahwa langkah awal dari pengembangan yang terukur dan tepat sasaran adalah asesmen, yakni penilaian terhadap keunggulan dan potensi masing-masing Cabang, Ranting, dan Masjid.

Dia mengingatkan bahwa setiap unit memiliki karakteristik unik yang harus dikenali sebelum diberikan program pengembangan.

“Tanpa data, kita akan berjalan dalam kegelapan. Diperlukan database yang akurat dan menyeluruh sebagai pijakan awal untuk menyusun program yang relevan dan berkelanjutan,” jelas Sulthon.

Mengutip spirit Al-Qur’an, Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), Sulthon mengajak seluruh jajaran Persyarikatan untuk menanamkan semangat kompetisi positif dalam dakwah, layanan umat, dan pengembangan institusi.

Prinsip ini, menurutnya, harus menjadi napas dalam setiap aktivitas cabang, ranting, dan masjid.

Masjid Muhammadiyah, menurut Sulthon, harus memiliki ciri khas dan ruh yang membedakannya dengan masjid pada umumnya.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid dalam konteks Muhammadiyah harus menjadi pusat pemberdayaan umat, sekaligus titik temu antara kegiatan spiritual dan sosial.

“Masjid Muhammadiyah tidak boleh hanya dipakai untuk salat. Ia harus hidup, menjadi pusat penggerak masyarakat. Dari masjid, segala persoalan umat harus diurus dan diselesaikan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa fungsi masjid meliputi banyak aspek:

  • Sebagai tempat ibadah dan kajian
  • Sebagai kantor PRM/PCM
  • Sebagai tempat pertemuan dan konsolidasi
  • Sebagai pusat pendidikan anak
  • Sebagai pusat kegiatan sosial
  • Sebagai inspirasi gaya hidup bersih, rapi, dan teratur

Dengan multifungsi tersebut, masjid Muhammadiyah harus dirancang dan dikelola secara profesional dan berorientasi pada kebutuhan umat.

Sulthon juga mengangkat pentingnya integrasi peran antara pengurus ranting dan pengurus masjid.

“Idealnya, para pengurus ranting adalah juga para pemakmur masjid. Begitu pula sebaliknya, pengurus masjid hendaknya menjadi motor penggerak ranting,” ujar Sulthon.

Dengan struktur yang terintegrasi tersebut, proses pembinaan jamaah dan konsolidasi organisasi akan lebih mudah dijalankan.

Bahkan, menurutnya, salat lima waktu bisa dimanfaatkan sebagai momentum silaturahmi, konsolidasi, hingga pembentukan kesadaran kolektif umat.

Sulthon juga menegaskan bahwa masa depan Muhammadiyah akan sangat ditentukan oleh bagaimana masjid-masjid dikelola.

Masjid yang ideal dalam konteks Persyarikatan adalah masjid yang berperan sebagai pusat dakwah terpadu, tempat berbagai aspek kehidupan umat dikelola—baik spiritual, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga budaya.

“Jika kita mampu mengelola masjid secara optimal, maka cabang dan ranting pun akan hidup. Dan jika cabang serta ranting hidup, maka Persyarikatan akan kokoh dan memberi manfaat besar bagi umat,” pungkas Sulthon.

Melalui gagasan dan seruan ini, diharapkan lahir kesadaran baru di kalangan pimpinan Muhammadiyah di daerah untuk melakukan evaluasi, membangun sinergi, dan menata kembali sistem pembinaan di tingkat bawah. Dengan cara itulah, Muhammadiyah akan semakin relevan, kuat, dan berdaya di tengah dinamika zaman. (wh)

 

Tinggalkan Balasan

Search