*)Oleh: Alfakir Agus Santoso Budiharso
Mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dunia modern bergerak terlalu cepat. Dalam kurun waktu yang nyaris tak menyisakan jeda, manusia berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain. Informasi datang bertubi-tubi, dari layar ke layar, dari notifikasi ke notifikasi. Waktu seolah meledak menjadi serpihan-serpihan aktivitas yang tak sempat disatukan dalam makna. Banyak dari kita hidup dalam kepadatan, tapi terasa kosong di dalam.
Kita menyangka produktivitas adalah segalanya. Padahal di balik ambisi dan capaian, diam-diam banyak jiwa yang letih. Mereka tampak sehat secara fisik, namun gelisah, cemas, dan mudah marah. Bahkan relasi terdekat—antara suami istri, orang tua dan anak, sesama teman kerja—semakin rapuh karena tidak adanya ruang tenang untuk mendengar dan menguatkan. Dunia yang bising ini telah menenggelamkan jiwa dalam keheningan yang kehilangan arah.
Di tengah kebisingan inilah, manusia sesungguhnya sangat butuh tempat berteduh. Butuh ruang sunyi yang bukan sekadar diam, melainkan hening yang menumbuhkan. Dalam konteks umat Islam, tempat teduh itu telah ada sejak lama, diwariskan dengan penuh kasih dan kebijaksanaan oleh Nabi Muhammad SAW. Ia disebut sunnah—jalan yang telah dilalui manusia paling agung.
Namun, alih-alih direngkuh sebagai pelita dalam gelap, sunnah kadang hanya dipandang sebagai formalitas, simbol kelompok, atau bahkan dianggap ketinggalan zaman. Kita lupa bahwa sunnah bukan hanya tuntunan hukum atau fiqh, tetapi jalan hidup yang menghadirkan kehangatan, keseimbangan, dan kedamaian bagi jiwa-jiwa yang haus makna. Ia adalah terapi spiritual dalam bentuk yang paling praktis.
Pertanyaannya, jika sunnah adalah pegangan sekaligus pelipur, mengapa kita justru menjauhinya? Mengapa kita membiarkan diri larut dalam riuhnya dunia, padahal Rasulullah SAW sejak 14 abad silam telah memberi contoh hidup yang sederhana namun penuh makna, tenang di tengah kegaduhan, dan kuat dalam menghadapi luka-luka zaman? Sudah saatnya kita memandang sunnah bukan sebagai beban, melainkan sebagai penawar lelah paling tulus bagi jiwa-jiwa modern.
Jalan yang Ditinggalkan
Sunnah—yang dalam bahasa Arab berarti “jalan yang dilalui”—bukanlah kumpulan ritual kosong. Ia adalah jejak hidup Rasulullah SAW yang penuh dengan kebijaksanaan, kasih sayang, dan harmoni. Setiap sunnah mencerminkan laku hidup yang menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, antara tubuh dan jiwa, antara hak Allah dan hak sesama manusia. Sunnah bukan hanya syariat, tetapi juga terapi spiritual yang menenangkan kalbu dan menyembuhkan luka batin yang tak terlihat.
Ambillah contoh sederhana: senyum. Rasulullah SAW bersabda, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi). Di tengah dunia yang penuh tekanan dan sinisme, kebiasaan tersenyum kepada sesama menjadi laku revolusioner yang menyegarkan.
Atau kebiasaan bangun sebelum fajar, ketika dunia masih senyap. Di saat banyak orang terjaga karena insomnia, Nabi mengajarkan ketenangan lewat tahajud. Bukan sekadar ibadah malam, tetapi juga ruang dialog sunyi dengan Tuhan yang tak tertandingi nilainya bagi jiwa yang penat.
Namun sayangnya, dalam peradaban yang menyanjung kecepatan dan efisiensi, sunnah-sunnah ini sering dipinggirkan. Ia dianggap sekadar simbol keagamaan yang bersifat opsional, tidak esensial. Bahkan sebagian umat Islam sendiri kadang hanya mempraktikkan sunnah saat acara keagamaan, bukan sebagai laku harian yang membentuk watak dan ketenangan jiwa. Kita lupa bahwa Nabi Muhammad SAW hidup di tengah masyarakat yang gaduh, keras, dan kerap menyakitkan. Tapi justru dari situ, lahirlah teladan akhlak yang penuh cinta dan kesabaran—yang termanifestasi dalam sunnah-sunnahnya.
Maka, ketika kita merasa dunia terlalu bising, saat mental kita mulai terkikis tekanan dan relasi antarmanusia menjadi gersang, jangan buru-buru mencari pelarian ke luar. Kembalilah ke sunnah. Bukan sebagai romantisme masa lalu, tapi sebagai jalan yang nyata untuk bertahan, tumbuh, dan menemukan kedamaian yang selama ini hilang. Sunnah adalah rumah jiwa kita—dan setiap dari kita punya kesempatan untuk pulang.
Keseimbangan yang Menyembuhkan
Sunnah tidak mengasingkan manusia dari dunia. Justru sebaliknya, sunnah mengajari kita bagaimana menjalani dunia dengan benar. Tidur lebih awal, bangun sebelum fajar, bersedekah walau sedikit, tersenyum ketika bertemu orang lain, menyapa tetangga, dan menjaga wudu—semua itu bukan tindakan kecil. Ia adalah perisai ruhani dari kepenatan zaman.
Rasulullah SAW bersabda:
“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya: Kitab Allah dan sunnahku.”
(HR. Malik)
Ini bukan sekadar ajakan untuk taat, tapi pesan untuk hidup lebih manusiawi.
Dalam hal makan, misalnya, Nabi tidak pernah berlebihan. Beliau bersabda, “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya…” (HR. Tirmidzi). Dalam dunia yang menormalisasi konsumsi berlebihan, sunnah ini menjadi terapi bagi tubuh dan kesadaran.
Dzikir: Menenangkan Hati yang Lelah
Salah satu sunnah paling mendasar yang sering terlupa adalah dzikir: mengingat Allah di setiap kesempatan. Ini bukan ritual klise, tetapi kebutuhan dasar jiwa.
Allah berfirman:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Dalam psikologi modern, praktik seperti mindfulness dan meditasi terbukti mengurangi kecemasan. Tapi 14 abad lalu, Rasulullah telah mengajarkan umatnya untuk berhenti sejenak, menarik napas dengan bismillah, dan menenangkan hati lewat istighfar dan tasbih.
Dzikir pagi dan petang, doa sebelum tidur, dan doa saat bangun tidur bukan hanya amalan yang bernilai pahala. Ia juga adalah terapi jiwa yang menghadirkan rasa aman dalam ruang batin manusia yang rapuh.
Shalat Malam: Menyembuhkan di Sunyi
Di antara sunnah yang paling istimewa adalah shalat malam. Saat dunia tertidur dan hanya detak waktu yang terdengar, seorang hamba berdiri menghadap Tuhannya, menceritakan luka, harapan, dan kesedihan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
(HR. Muslim)
Bagi jiwa yang gelisah, bangun malam untuk shalat tahajud bisa menjadi penguat luar biasa. Bukan karena ingin jadi suci, tapi karena ingin pulih.
Di tengah masyarakat yang bising dan saling meninggikan suara, qiyamullail adalah bentuk “hening radikal” yang menyembuhkan. Hening, tapi penuh makna. Sepi, tapi penuh cinta. Itulah obat yang dibutuhkan jiwa-jiwa modern hari ini.
Akhlak Rasul: Ketenangan yang Menular
Sunnah Rasulullah bukan hanya dalam ibadah, tapi dalam akhlak dan interaksi sosial. Senyum, kesabaran, memaafkan, tidak mudah marah—semua itu adalah sunnah yang bisa mengubah iklim emosi sebuah rumah, kantor, bahkan masyarakat.
Dunia kini bising oleh kebencian. Perdebatan di media sosial mudah menjelma jadi permusuhan. Politik memecah belah, dan empati makin langka. Di tengah kondisi ini, sunnah Rasul yang penuh kelembutan justru sangat relevan.
“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sunnah ini bukan hanya soal moralitas, tapi soal kesehatan mental. Orang yang menahan amarah tidak saja menyelamatkan relasi sosialnya, tapi juga merawat kesehatan jiwanya.
Sains Membenarkan, Sunnah Membimbing
Menariknya, berbagai sunnah Rasulullah kini terbukti secara ilmiah membawa manfaat kesehatan. Dari pola makan (makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang), istirahat yang cukup, tidur miring ke kanan, hingga puasa sunnah, semuanya diakui berkontribusi terhadap stabilitas fisik dan mental.
Bahkan, puasa Senin-Kamis yang menjadi amalan sunnah Nabi kini dikenal dalam dunia kedokteran sebagai metode “intermittent fasting” yang membantu regenerasi sel dan memperbaiki metabolisme tubuh.
Dalam dunia yang berlebihan ini, sunnah mengajarkan cukup. Dalam dunia yang gaduh, sunnah mengajarkan hening. Dalam dunia yang menilai manusia dari penampilan dan pencapaian, sunnah mengingatkan bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertakwa (QS. Al-Hujurat: 13).
Kembali ke Sunnah, Kembali ke Diri
Sunnah bukan beban. Ia adalah kompas. Ia mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia seutuhnya—yang seimbang dalam ibadah dan kerja, dalam cinta dan tanggung jawab, dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Bukan berarti semua harus dilakukan sekaligus. Tapi cukup dengan menghidupkan satu demi satu sunnah dalam keseharian, kita sedang membangun ketahanan jiwa. Kita sedang menyusun ulang struktur hati yang retak karena dunia.
Menghidupkan sunnah tidak perlu menunggu momen khusus. Saat kita memaafkan meski mampu membalas, menyapa tetangga lebih dulu, atau mendoakan teman di waktu luang, kita sedang menghidupkan sunnah. Dan saat sunnah hidup, hati pun ikut hidup.
Sunnah untuk Semua
Sunnah bukan hanya milik ustaz dan santri. Sunnah adalah milik setiap Muslim, dari penjaja gorengan hingga profesor, dari sopir ojek daring hingga pemimpin negeri. Ia bisa dimulai dari rumah, di meja kerja, bahkan dalam antrean panjang di stasiun.
Di zaman yang menawarkan begitu banyak pelarian namun sedikit ketenangan, sunnah menjadi pelabuhan yang tidak lekang oleh zaman. Ia bukan sekadar warisan masa lalu, tapi petunjuk untuk masa depan—masa depan yang lebih manusiawi, tenang, dan penuh makna.
Dan barangkali, dalam deru dunia yang makin memekakkan, justru suara lembut sunnah Rasulullah-lah yang paling layak didengar. Semoga saya sendiri diberi kemampuan untuk menjalankann sunnah ini secara istiqomah hingga akhir hayat. aamiin. (*)
