Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni mengatakan bahwa visi besar yang perlu dibangun bersama adalah tata dunia yang damai sekaligus adil. Perdamaian dan harmoni tidak mungkin terwujud tanpa keadilan. Di sinilah pentingnya peran umat beragama dalam membangun tata dunia yang damai dan berkeadilan.
“Kita yakin bahwa perdamaian itu penting, hidup yang rukun, harmoni itu mutlak diperlukan, tetapi tidak mungkin bisa tercapai tanpa keadilan. Maka dua-duanya harus hadir,” kata Syafiq A. Mughni, saat menjadi panelis dalam lokakarya Rakernas Kementerian Agama (Kemenag) dengan tema “Menggagas Umat Masa Depan: Antara Idealita dan Realita”, di Atria Hotel Tangerang, Senin (15/12/2025).
Lokakarya dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Sekretaris Jenderal Kemenag, para Direktur Jenderal, jajaran eselon I dan II, serta para Kepala Kanwil Kemenag Provinsi di lingkungan Kementerian Agama dan sejumlah tokoh lintas agama.
Ia menambahkan bahwa umat beragama, termasuk umat Islam, tidak bisa hanya memikirkan kepentingan internal, melainkan harus berkontribusi bagi kemanusiaan secara luas. Ajaran agama pada hakikatnya ditujukan untuk menghadirkan kebaikan bersama. “Apa yang kita inginkan dari Islam itu bukan eksklusif untuk umat Islam, tetapi untuk kepentingan kemanusiaan,” kata Prof. Syafiq.
Menyoroti proyeksi jumlah umat Islam yang diperkirakan akan menjadi yang terbesar di dunia dalam beberapa dekade mendatang, Prof. Syafiq mengingatkan bahwa kuantitas tidak otomatis mencerminkan peran positif. “Kalau kuantitas besar tetapi kualitasnya rendah, justru akan menjadi problem dunia,” ujarnya.
Al-Qur’an tidak menyebut umat Islam sebagai umat terbesar, melainkan khaira ummah atau umat terbaik, yang diukur dari peran dan kontribusinya. Menurut Prof. Syafiq, orientasi umat beragama saat ini bukan lagi pada penambahan jumlah pemeluk, melainkan pada peningkatan kualitas. Hal ini penting di tengah tantangan global seperti ekstremisme kekerasan, konflik dan peperangan, ketidakadilan global antara negara maju dan berkembang, serta berbagai bentuk fobia berbasis agama.
DI sisi lain, ia juga menyinggung krisis iklim sebagai tantangan serius bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Menurutnya, perubahan iklim yang tidak terkendali berpotensi mengancam seluruh makhluk hidup di bumi.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Prof. Syafiq menilai kerja sama lintas agama menjadi pijakan penting. Ia menyebut konsep wasatiyyah atau moderasi sebagai modal besar yang dimiliki umat beragama di Indonesia untuk disuarakan ke tingkat global. “Apa yang kita miliki sebagai modal umat beragama di Indonesia harus disuarakan dan dipromosikan di dunia internasional,” katanya.
Selain moderasi beragama, Prof. Syafiq juga menekankan pentingnya demokrasi sebagai sistem kehidupan berbangsa. Ia menyebut demokrasi tidak hanya sebagai prosedur, tetapi juga sebagai budaya yang harus hidup dalam masyarakat. “Kita tidak hanya berbicara tentang demokrasi prosedural, tetapi lebih sebagai demokrasi budaya,” ujarnya. (*)
